________________________________

From: On Behalf Of Joko Wicaksono
Sent: Tuesday, June 17, 2008 3:41 PM
Subject: [muslimdatascrip] FW: Bersyukur Dalam Kesempitan

 

fyi

 

     

Dengan beban ekonomi yang semakin berat akhir-akhir ini 
kadangkala sulit sekali buat kita untuk bersyukur atas segala nikmat
yang Allah telah berikan kepada kita, 
Di bawah ini sedikit tulisan untuk menggugah diri agar tidak ada alasan
apapun untuk tidak mensyukuri segala nikmat-Nya 
  

 

 

Bersyukur Dalam Kesempitan 

 

 

''Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.'' (QS
Saba' [34]: 13).

Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia
mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya.
Ulama tersebut berkata, ''Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti
dengan seribu dinar?'' Orang itu berkata, ''Tidak.''

Sang ulama bertanya lagi, ''Apa kamu senang menjadi orang bisu dan
diberi seribu dinar?'' Orang tersebut menjawab, ''Tidak.'' Sang ulama
yang dikenal saleh itu kembali bertanya, ''Apa kamu mau dua tangan dan
dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?'' Orang
tersebut lagi-lagi menjawab, ''Tidak.''

''Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?'' tanya
sang ulama lagi. Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan, ''Tidak.''
Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, ''Terus, apa kamu ini tidak malu
kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?'' 

Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya
nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari
bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga,
tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil,
tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang
harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.

Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus
dipenuhi. 
Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat
tersebut adalah pemberian Allah. 
Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik
melalui lisan dengan ucapan ''Alhamdulillah'' maupun melalui
perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya. 


(Abduh Zulfidar Akaha)

 

Kirim email ke