Refleksi Peringatan Isra'-Mi'raj
SHALAT SEBAGAI MEDIA PENCERAHAN
"Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambanya pada waktu malam dari
Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha, yang telah Kami berkahi sekitarnya agar
Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat Kami (QS. Al Isra' [17] : 1)
Setiap memasuki bulan Rajab, umat Islam antusias memperingati perjalanan
monumental Rasulullah dari Mekkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina (isra`) dan
naiknya beliau ke langit (mi'raj) dalam rangka menerima risalah shalat lima
waktu yang dilaksanakan umat Islam saat ini.
Kesemarakan dalam memperingati Isra' dan Mi'raj terserbut sepertinya
melupakan kontroversi perihal bagaimana Nabi Muhammad melakukannya; apakah
dengan jasad atau hanya ruhnya saja? Memang persoalan ini tidak banyak
diungkap secara lugas dan jelas. Biasanya para penceramah hanya menyinggung
persoalan apakah perjalanan dengan jasad atau ruh itu sambil lalu. Itupun
biasanya hanya merupakan penegasan bahwa perjalanan itu dengan jasad. Dalam
arti, Nabi Muhammad-ketika melakukan isra' dan mi'raj-benar-benar
melakukannya dengan jasad (badan), karena hanya dengan itu, kedua peristiwa
tersebut mempunyai makna yang luar biasa bagi orang yang beriman. Berbeda
dengan jika hanya dipahami dengan ruh saja di mana nilainya tidak lebih dari
sebuah mimpi.
Di kalangan ulama tafsir sendiri terjadi silang pendapat perihal itu yang
disebabkan perbedaan cara pandangan terhadap kata, bi `abdihi dalam surah
al-Isra` ayat 1. Ulama yang mendukung perjalanan dengan jasad (badan)
berpendapat bahwa kata `abd (hamba) tidak bisa ditafsirkan dengan lain
selain dengan sesuatu yang terdiri dari badan dan ruh. Oleh sebab itu, bagi
penganut faham ini, penafsiran kata 'abd dengan menambah ruh secara tersirat
di depannya, bertentangan dengan sifat i`jaz (sifat keluarbiasaan) yang
ingin ditunjukkan Allah melalui momentun itu. Dan, menurutnya, jika
perjalanan hanya dengan ruh saja, tentunya kafir Quraisy tidak melakukan
penentangan yang luar biasa, karena bagi mereka hal itu merupakan suatu yang
mustahil.
Sedangkan bagi golongan yang mengatakan dengan ruh saja (bi ruh 'abdihi)
tidak mungkin perjalanan itu dilakukan dengan jasad, karena ketidakmungkinan
tadi. Dan mengenai anggapan pihak pertama yang mengatakan jika itu dilakukan
dengan ruh akan mengurangi sifat i`jaz bukan suatu yang sangat mendasar,
karena persoalan utamanya adalah iman kepada ajaran yang dibawa Nabi. Jadi
persoalan utamanya adalah iman kepada apa yang dibawa Nabi bukan masalah
bagaimana kedua momentum itu terlaksana. Sebab al-Quran tidak menjelaskan
secara eksplisit mengenai hal itu. Prof. Ahmad Baiquni, MSc., PhD (alm)
sependapat dengan aliran kedua itu dan dalam hal ini sepertinya ia
terinspirasi oleh buku Near-Dath Eexperience (Hidup Sesudah Mati) yang
menceritakan perihal pengalaman orang-orang yang pernah mengalami mati suri.
Terlepas dari persoalan kontroversi perihal bagaimana Nabi ber-Isra' dan
ber-Mi`raj, yang jelas hal itu bukan merupakan persoalan yang sangat
esensial, karena persoalan sesungguhnya dalam kedua momen besar itu adalah
perintah untuk menjalankan shalat. Semestinya, setiap kali umat Islam
merayakan kedua peristiwa besar itu, mengevaluasi apakah shalat-shalat
sebelumnya telah memenuhi tuntutan Nabi Muhammad.
Pada masa sekarang, fenomena keagamaan memang semarak yang ditandai dengan
antusiasmenya masyarakat dalam mengikuti acara-acara yang berkaitan dengan
agama, mulai dari tahajud bersama, zikir bersama, dan lainnya. Hanya saja,
pada saat fenomena keagamaan itu meningkat, ada fenomena lain yang tidak
kalah semaraknya, seperti semaraknya perjudian dan bentuk-bentuk kemasiatan
lainnya. Semestinya, ketika fenomena keagamaan tersebut menggeliat
menurunkan fenomena kemaksiatan tersebut. Dan, sesuai dengan fakta bahwa
Indonesia dihuni oleh umat Islam sebagai penduduk mayoritas, pelaku-pelaku
kemaksiatan tersebut mayoritasnya sudah pasti orang Islam juga. Adakah
fenomena itu sejalan dengan keyakinan masyarakat saat ini bahwa manusia
berkualitas saleh maka setan penggodanyapun akan setara dengannya, sehingga
manakala fenomena keagamaan meningkat tandingannyapun akan semakin meningkat
juga.
Memperhatikan hal itu, apakah karena pengaruh sekularisme atau karena
kedangkalan pemahaman agama, saat ini sepertinya sudah berkembang opini
bahwa agama hanya berkaitan dengan ibadah (shalat, haji, zakat, puasa, dan
lainnya) sedangkan di luar itu merupakan persoalan duniawi yang tidak ada
kaitannya dengan agama. Opini tersebut jika tidak mendapatkan perhatian
serius akan semakin memarjinalkan peran agama dalam lingkup rumah ibadah
saja. Padahal, selaku umat Islam semestinya menghayati, firman Allah,
"Sesungguhnya shalat (bisa) mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS,
Al Ankabut [29]: 45). Akan tetapi, jika sesorang sudah rajin shalat, namun
tidak bisa menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, perlu
dipertanyakan bagaimana ia melakukannya.
Dalam rangka memberikan pemahaman yang benar mengenai bagaimana shalat
semestinya dilakukan oleh setiap muslim, ulama memberikan distingsi antara
pengertian ada' atau ta'diyah dan pengetian iqamah yang dalam bahasa
Indonesia masing-masing berarti menunaikan dan mendirikan. Kenapa persoalan
pemilihan kosa kata Arab tersebut menjadi perhatian ulama dalam rangka
memberikan pemahaman yang benar, karena secara filosofis kedua kata tersebut
mempunyai implikasi berbeda. Kata ada' dan ta`diyah lebih banyak
berorientasi kepada aspek formal saja, sedangkan iqamah selain menekankan
pelaksanaan aspek formal yang benar, aspek isoteris dalam shalat mesti
mendapatkan perhatian yang serius dari seorang mushalli agar shalat yang
dilakukannya benar-benar memberikan pencerahan kepada pelakunya sehingga
tujuan dari shalat sebagaimana disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut
benar-benar bisa terwujud. Oleh sebab itu, berkaitan dengan pemenuhan
kewajiban shalat-di samping nas mereferensi penggunaan kata iqamah ulama
juga menggunakan kosa kata serupa dalam penjelasan mereka agar umat Islam
dalam melakukan rukun Islam ke dua itu tidak semata-mata memenuhi kewajiban,
tapi sebagai kebutuhan untuk pencerahan jiwa. Bukankah Allah telah
berfirman, Hanya dengan berzikir hati menjadi tenang? Dan, shalat sebagai
bentuk zikir tertinggi semestinya berdampak kepada hal itu. Dalam rangka
menuju kepada maksud tersebut. Mahmud Muhammad Thaha, setelah mengutip hadis
Nabi yang maksudnya bahwa shalat bisa mendatangkan ketenangan jiwa dan
membuka mata hati pelakunya, mengatakan, Maknailah shalatmu!
Menurut Mahmud Muhammad Thaha, dalam kitabnya Risalah al-Shalah (Terjemahan
LKIS: Shalat Perdamaian), shalat merupakan sebuah metode jika dilakukan
secara berulang-berulang, akan dapat melihat ke dalam diri, bertemu dengan
jiwa kita sendiri, hidup berdampingan dengannya, mengenali, dan mewujudkan
perdamaian dengannya. Hal itu, karena kita hidup berdampingan dengan alam
lahir tenggelam dalam angan-angan indera kita, terlena dengan itu semua
sehingga melupakan hakekat yang terpusat di balik yang ditutupinya. Allah
menjadikan alam lahir sebagai petunjuk bagi hakekat tersebut, bukan sebagai
penggantinya. Oleh sebab itu, umat Islam wajib memperhatikan sarana itu,
agar tetap terjaga guna mengingat Allah. Bukankah Nabi pernah bersabda,
Manusia itu tidur, apabila mati, barulah mereka terjaga? Untuk menjaga
manusia agar senantiasa terjaga dari lupa dan kesalahan adalah dengan
mengingat Allah, dan shalat merupakan salah satu metode sekaligus yang utama
untuk itu. Berkaitan dengan itu, menurutnya sangat penting bagi umat Islam
untuk mencapai tingkatan shalat seorang muslim, bukan hanya sampai tingkatan
shalat seorang mukmin. Apa perbedaan di antara shalat kedua golongan itu?
Memperhatikan penjelasannya dalan bukunya, terlepas dari maksud khususnya
yang diinginkannya dari pemberian istilah mukmin dan muslim, apa yang
dimaksud dengan shalat seorang mukmin adalah orang-orang yang melakukan
shalat sekedar memenuhi kewajiban semata, sedangkan yang dimaksud seorang
muslim adalah orang-orang ketika mendirikan shalat memenuhi kriteria ihsan,
yaitu mereka ketika beribadah seakan melihat Allah, meskipun ia tidak
melihat-Nya, tapi yakin bahwa Allah melihat mereka. Dengan kata lain, dalam
pandangan Mahmud Muhammad Thaha, shalat mukmin baru sampai taraf ada' atau
ta'diyah sedangkan shalat muslim adalah sudah sampai kepada taraf iqamah.
Jenis shalat yang terakhir itulah-menurutnya-yang akan memberikan pencerahan
kepada pelakunya seperti yang disebut dalam surah Al Ankabut : 45 tersebut.
Oleh sebab itu, kesemarakan peringatan Isra'-Mi'raj pada bulan Rajab ini,
semestinya dijadikan evaluasi bagi setiap muslim dalam melaksanakan perintah
shalat. Apakah shalat yang dilakukan berdampak kepada ketenangan jiwa dan
mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jika hal itu tidak dilakukan,
kesemarakan peringatan Isra'-Mi'raj hanya akan melahirkan budaya konsumtif
dan menguntungkan sedikit peceramah saja. Sedangkan shalat sebagai media
pencerahan jiwa diabaikan.
http://alrasikh.wordpress.com/2006/08/30/refleksi-peringatan-isra-miraj/
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Ibnu Umar mengatakan, Rasulullah saw. Memegang bahuku sambil bersabda,
Didunia ini, jadilah seperti orang asing atau perantau. Jika berada diwaktu
pagi, jangan mengharap akan bertemu sore. Dan, jika berada diwaktu sore jangan
berharap akan sampai diwaktu pagi. Pergunakanlah kesempatan masa sehat untuk
masa sakit, dan masa hidup untuk bekal mati. ( Bukhari )