Kalau huru-hara besar al mahamah al kubro nanti akan dilihat secara nyata,
bukan ghaib lho ! Jangan salah he..he..he..
alamat email: [EMAIL PROTECTED]
"wawan wahyu"
<[EMAIL PROTECTED]
l.com> To
[EMAIL PROTECTED], "MILIS
07/10/2008 12:53 AR-ROYYAN" <[email protected]>
PM cc
Subject
Please respond to [Ar-Royyan-7933] FW: Beriman Kepada
[EMAIL PROTECTED] Yang Ghaib..
om
Khutbah Jum'at :
Beriman Kepada Yang Ghaib
Jumat , 4 July 08
Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kwalitas ketaqwaan
kita, sebab itulah sebaik-baik bekal kita manakala Allah Ta'ala telah
menentukan akhir hidup kita.
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
الــم {1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ {2} الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ
الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {3}
"Alif laam miim. Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,
yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka," (QS. al-Baqarah: 1-3)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah telah tegaskan bahwa salah satu dari
sifat seorang mukmin adalah bagaimana dia dapat mengimani hal yang ghaib,
yaitu dengan cara membenarkan segala yang telah dikhabarkan oleh Allah
Ta'ala dan Rasul-Nya dari hal-hal ghaib yang telah terjadi maupun yang akan
terjadi, keadaan akhirat, hari kebangkitan, surga neraka, shirat, dan hari
perhitungan, hakekat sifat-sifat Allah Ta'ala dan lainnya dari hal ghaib
dan begitu juga tentang keberadaan jin. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu
Jarir ath-Thabari dan ar-Rabii' bin Anas dan juga Ibnu Mas'ud ketika
menafsirkan ayat ini.
Dan termasuk bentuk keimanan terhadap hal yang ghaib sebagaimana keyakinan
dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah bahwasanya mengetahui terhadap hal yang
ghaib adalah menjadi rahasia Allah Ta'ala dan termasuk sifat Allah Ta'ala
yang paling khusus, yang tidak ada seorang makhluk-pun dapat menyamai-Nya,
sebagaimana firman-Nya;
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي
الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ
يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ
إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}
Artinya, "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelei daun-pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi
dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Makhfudz)" (QS. al-An'am: 59)
Allah Ta'ala berfirman:
قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ
وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah! (Hai Muhammad) Tiada siapapun baik di langit maupun di bumi
yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak
mengetahui kapan mereka dibangkitkan" (QS.An-Naml: 65)
Dan firman-Nya:
لاَ أَقُولُ لَكُمْ عِندِيْ خَزَآئِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ
أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ
إِلاَّمَا يُوحَى إِلَيَّ
"Katakanlah! (Hai Muhammad): Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa
perbendaharaan (rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui
yang ghaib, dan tidaklah aku mengatakan kepada kalian bahwa aku ini
malaikat, aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku."
(QS.Al-An'am:50)
Maka barangsiapa berkeyakinan bahwa dirinya atau orang lain boleh mengusai
yang ghaib atau mengetahui hal yang ghaib berarti ia telah kufur, karena
hal ini termasuk hal yang yang tidak pernah diberitakan oleh Allah Ta'ala
kepada siapapun; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga
kepada para rasul yang diutus.
Jika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam saja tidak mengetahui hal yang
ghaib selain yang diwahyukan kepadanya, bahkan dengan terus terang beliau
menafikan yang demikian itu atas dirinya, maka bagaimana dengan orang-orang
selain beliau?? Tentu mereka pasti tidak lebih tahu. Karena Rasulullah
lebih berhak daripada mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَآءَ اللهُ وَلَوْ
كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ
مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ
لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ {188}
"Katakanlah! (Hai Muhammad): Aku tidak berkuasa mendatangkan manfa'at bagi
diriku dan tidak (pula kuasa) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki
Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat
kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku
tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman". (QS.Al-'Araf:188)
Adapun hal-hal yang ghaib yang dikhabarkan oleh para nabi dan
rasul,sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
menghabarkan
kepada ummatnya tentang tanda-tanda hari kiamat, tentang adanya surga dan
neraka, tentang adanya azab kubur dan nikmat kubur dan juga Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah memegang leher jin Ifrit ketika beliau
diganggu oleh Jin tersebut didalam shalatnya sebagaimana diriwayatkan oleh
Imam Muslim dan juga hal-hal yang ghaib lainnya, maka yang demikian tiada
lain hanyalah sebagai salah satu tanda kenabian dan keistimewaan bagi
beliau, dan hal ini hanyalah sebagai wahyu Ilahi, sebab beliau tidak
bertutur kata melainkan berdasarkan bimbingan wahyu dari Allah Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam firmanNya,
عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّ مَنِ
ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن
بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا {27}
"(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang hal ghaib itu. Kecuali kepada
rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya". (QS.Al-Jinn: 26-27)
Namun sangat disayangkan masih banyak diantara kaum Muslimin yang percaya
kepada cerita-cerita khurafat, tahayul, mistik dan cerita-cerita syirik
jahiliyah. Misalnya berkeyakinan bahwa ada diantara manusia yang dapat
mengetahui hal yang ghaib, bisa mengetahui nasib seseorang, mengetahui
hal yang akan datang, bisa melakukan penerawangan dan bahkan mengaku bisa
melihat makhluk-makhluk ghaib seperti Jin. Fenomena demikian terjadi
disekitar kita, apalagi dengan adanya sekian banyak bentuk tayangan media,
baik cetak ataupun elektronik yang menggambarkan cerita-cerita demikian
justru memperparah dan seolah-olah telah melejitimasi bahwa yang demikian
adalah benar padahal justru sebaliknya bahwa keyakinan-keyakian yang
demikian adalah merupakan peyimpangan yang sangat berhaya terhadap aqidah
dan keyakinan seorang muslim.
Padahal pada dasarnya yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah tipu daya
Jin dan propaganda Syaithan untuk menggiring kaum Muslimin agar jauh dari
tuntunan al-Qur'an dan as-Sunnah, kemudian terjerumus ke lembah kesyirikan
dan terkubur ke dalam lumpur kekufuran. Karena hal ini merupakan perbuatan
menyekutukan Allah Ta'ala dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi
kekhususan Allah Ta'ala, yaitu mengetahui hal yang ghaib.
فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ
اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Shalat Jum'ah Rahimakumullah
Allah Ta'ala berfirman,
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ
بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ {144}
"Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat
dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan".
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
(QS. Al-An'am:144)
Berkaitan dengan permasalahan ini Rasululllah Shallallaahu 'alaihi wasallam
telah bersabda,
عن عمران بن حصين قال: قال رسول الله :ليس منا من تطير أو تطير له أو تكهن أو
تكهن له أو سحر أو سحر له ومن أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على
محمد صلى الله عليه وسلم
"Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan
keberuntungan berdasarkan tanda-tanda benda, burung (dan lain-lainnya),
atau yang bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir
dan meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi kâhin (dukun
dan sejenisnya) lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka dia telah kufur
terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (murtad dari Islam)"
(HR.Al-Bazzâr dengan sanad yang bagus).
Di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
من أتي عرافا فسأله عن شيئ لم تقبل له صلاة أربعين يوما
"Barangsiapa mendatangi dukun, lalu bertanya sesuatu kepadanya, niscaya
tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim)
من أتي عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل علي محمد
"Barangsiapa mendatangi paranormal atau dukun, kemudian percaya dengan apa
yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kafir dengan agama yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam." (HR.
Muslim).
Dari hadits-hadits yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi kahin
(dukun), 'arraaf (peramal) atau sebangsanya dalam bentuk apapun, larangan
bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib, larangan mempercayai dan
membenarkan apa yang mereka katakan, serta ancaman bagi mereka yang
melakukannya. Ini semua karena mengandung kemungkaran dan bahaya yang
sangat besar, dan berakibat negatif yang sangat besar pula, disebabkan
mereka telah melakukan kedustaan dan dosa.
Hadits-hadits Rasulullah di atas juga telah membuktikan tentang kekufuran
mereka, karena mereka mengaku mengetahui hal yang ghaib, dan mereka tidak
akan sampai kepada maksud yang mereka inginkan melainkan dengan cara
berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin-jin, dan ini merupakan perbuatan
kufur dan syirik kepada Allah Ta'ala. Sedangkan orang yang membenarkan
mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang ghaib dan meyakininya,
maka hukumnya sama seperti mereka. Dan setiap orang yang menerima hal ini
dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah telah berlepas diri
dari mereka.
Imam asy-Sfafi'i mengatakan, "Barangsiapa yang mengaku bisa melihat jin
maka syhadatnya (persaksiannya) tidak dapat diterima kecuali dia seorang
Nabi."
Oleh karena itu seorang muslim tidak dibenarkan pergi kepada
mereka,menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh, hari mujur
pernikahanan
anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami isteri dan
keluarga, tentang kecintaan dan kesetiaan, perselisihan dan perpecahan yang
terjadi dan lain sebagainya. Karena ini berhubungan dengan hal-hal yang
ghaib yang tidak diketahui hakekatnya oleh siapapun kecuali Allah Ta'ala.
Kita memohon kepada Allah kaum Muslimin terpelihara dari tipu daya mereka
dengan nama-nama yang lain, dan semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan
pertolongan kepada kaum Muslimin agar senantiasa berhati-hati terhadap
mereka, dan melaksanakan hukum Allah Ta'ala dengan segala sangsinya kepada
mereka, sehingga manusia menjadi aman dari kejahatan mereka dan segala
praktek keji yang mereka lakukan.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ
مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ
اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
Oleh: Ust. Abu Eifa