Allah yang Bayar
10 Jul 08 15:41 WIB

Oleh Bayu Gawtama

Senin lalu saya diminta menyampaikan sebuah materi di depan sekitar 150 siswa 
perwakilan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se Jakarta dalam acara Youth Camp 
yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.

Kurang lebih satu jam saya memberikan materi dan setelah itu langsung pamit 
kepada panitia. Salah seorang panitia yang menghampiri saya wajahnya nampak 
canggung dan hanya berkata, "maaf pak.. Tidak ada yang mengantar bapak 
pulang.". Saya mengerti betul, bahwa mereka pun tak memiliki anggaran untuk 
transport pembicara.

Saya hanya tersenyum ingin memberikan kesan "everything is ok" kepadanya. 
Langkah pun tergegas menuju Plaza Senayan, tempat saya berjanji bertemu dengan 
beberapa sahabat anggota SOL (School of Life).

Perjalanan dari Ragunan menuju Plaza Senayan hampir tak ada halangan kecuali di 
seratus meter menjelang kampus Mustopo, tiba-tiba saya terpelanting dari kuda 
tunggangan lantaran kurang konsentrasi akibat telepon seluler yang berdering. 
Satu hal yang tidak biasa saya lakukan jika sedang berkendara adalah menerima 
telepon masuk. Entah kenapa saat itu saya merasa harus mengangkat ponsel. Namun 
belum sempat ponsel terangkat, roda depan motor saya terlalu menepi sehingga 
menabrak batas jalan. Motor pun terpelanting, meski saya sempat melompat 
terlebih dulu. Tidak ada yang rusak terlalu parah, hanya besi di bagian bawah 
penyambung pijakan kaki belakang yang patah.

Ketika bertemu sahabat-sahabat di Din Tai Fung, Plaza Senayan, saya mengambil 
hikmah, "Seharusnya saya konsisten tak mengangkat telepon. Toh setelah sampai 
saya bisa menghubungi kembali si penelepon".

Waktu menunjukkan pukul 20.10 WIB, kami pun bersiap pulang. Namun sebelumnya, 
dua sahabat saya ingin menitipkan sesuatu, "Maaf kami belum sempat menjenguk 
Raissa. Jadi kami titip saja buat Raissa ya". Mereka memberikan hadiah untuk 
putri ketiga saya yang belum lama lahir. "Alhamdulillaah." batin saya.

Sesampainya di rumah. Isteri saya menyambut dengan senyum yang tak biasa. Apa 
mungkin karena saya pun membuka pintu dengan seulas senyum yang lebih 
sumringah? Oh ternyata bukan. Belum sempat saya bercerita soal hadiah buat 
Raissa dari sahabat-sahabat saya, isteri terlebih dulu menyampaikan kabar 
gembira. "Ada titipan dari teman-teman Abi di Garudafood, buat Raissa".

Maha Suci Allah yang terus memelihara semangat dalam keluarga kami, salah 
satunya semangat untuk berlomba memberi kabar baik di setiap hari seraya 
membicarakan secara hati-hati setiap kabar buruk yang dialami. Setiap ada kabar 
baik, kami selalu berusaha terlebih dulu menyampaikannya, sedangkan sekecil 
apapun kabar buruk, saya harus bertanya berulang-ulang dalam hati, "perlukah 
isteri tahu?". Hmm, saya pun urung memberi tahu soal peritiwa motor 
terpelanting itu, agar tak menambah beban pikirannya.

Sebelum malam menutup hari, saya merenungi semua peristiwa sepanjang hari. 
Sebuah kalimat mengiringi hati bertemu mimpi, "Adakah bayaran terindah dari 
yang Allah berikan?" -Gaw, 2008-

-----------------

Ikuti School of Life (SOL) bersama Bayu Gawtama. Lihat informasi dan jadwalnya 
di url: http://bayugawtama.net/? P=19

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8710124126-allah-bayar.htm?other


Kirim email ke