Motor Butut dan HP Gaptek
4 Agu 08 14:17 WIB

Oleh Galih Ari Permana

"Lih, handphonenya ganti dong. Ya... minimal N series-lah." 
"Bos, ganti motornya."

Dua komentar tersebut kerap aku terima di sela-sela obrolan dengan teman-teman 
kantor ataupun dengan yang bukan satu kantor. Motor dan hp telah menjadi 
kebutuhan mutlak bagiku. Kedua benda tersebut telah banyak membantu diriku 
dalam mengerjakan aktivitas-aktivitas harianku. Akan ada yang hilang rasanya 
jika salah satunya tidak menemaniku meski hanya sehari.

Jika dibandingkan dengan beberapa teman kantor, motor dan hpku memang kalah 
bersaing, bahkan dengan operator sekalipun. Aku akui yang mereka miliki umumnya 
motor dan hp keluaran terbaru. Berbeda dengan motor kepunyaannku yang secara 
fisik memang sudah tidak standar lagi. Bodi motor yang sudah banyak baretnya, 
pelek depan yang agak penyok akibat tabrakan dengan sesama motor, dan penyakit 
- penyakit yang lain yang menyerang sebagian fungsi yang terdapat di motorku. 
Begitu juga hp yang aku miliki, hanya berupa hp yang cukup memiliki kamera 
1.3MP dan ada MP3 tanpa eksternal memori.

Beberapa temanku ada yang merasa heran dengan dua benda yang aku miliki 
tersebut. Menurut mereka aku ini seharusnya bisa memiliki yang lebih dari itu 
karena mereka menganggap aku termasuk karyawan yang berada zona eksklusif 
ditambah masih bujangan lagi. Seperti biasa aku menanggapinya dengan senyum 
saja dan sebuah kalimat singkat, "Tenang saja, lihat saja nanti, " begitu 
jawabanku.

Mereka mungkin membandingkan diriku dengan beberapa karyawan yang masuk kerja 
dibelakangku. Ada di antara mereka yang sudah membawa sedan, ada yang sudah 
memakai komunikator atau minimal motor keluaran terbaru. Kenapa diriku tidak?

Aku memang jarang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jujur alias hanya 
berupa jawaban basa-basi saja. Obrolan seperti ini hanya membuat hatiku penuh 
dengan penyakit saja terutama penyakit iri dan sikap tidak bersyukur. Yang 
namanya manusia, terutama diriku yang masih lemah keimanannya, jika semakin 
digosok akan semakin lupa diri.

Kalau mengikuti nafsu sebenarnya aku pun memiliki keinginan untuk mengganti 
motor dan hp yang ada sekarang. Selain sudah kurang nyaman dipakainya, terutama 
motor, juga sering bermasalah entah itu dari mesin atau yang lainnya. Sehingga 
terkadang jika melihat kepunyaan teman yang masih baru pernah berfikir mungkin 
enak sekali mengendarai motor baru yang suara mesinnya masih halus.

Tapi perasaan tersebut sirna jika aku malihat adikku, sepupu dan saudaraku yang 
lain. Untuk seusiaku aku berfikir harus lebih bijak dalam membelanjakan 
pengeluaran. Saat ini aku berbeda dengan teman-teman kantor yang sama-sama 
masih bujangan. Mereka wajar lebih unggul dari sisi materi dari diriku karena 
memang mereka itu bujangan tulen. Sedangkan diriku adalah bujangan yang 
berkeluarga yang harus lebih memperhatikan keluarga. Tapi bukan hanya itu 
alasannya.

Berlomba dalam materi hanya untuk aktualisasi diri bukanlah sifat yang aku 
sukai. Aku hanya merasa sayang saja menghabiskan uang untuk perkara-perkara 
yang tidak bersifat pokok sementara ada hal-hal pokok yang belum terpenuhi. Ah, 
tapi itu hak mereka kok, sudut pandang tidak akan selalu sama.

Dengan motor dan hp yang aku miliki saat ini saja aku masih sering merasa malu 
pada diri ini. Dengan kedua benda tersebut tidak banyak prestasi yang aku buat 
untuk hidup ini. Ini berarti aku belum memaksimalkan apa yang sudah Tuhan 
berikan kepada diriku. Logikanya bagaimana Tuhan akan memberikan yang lebih 
baik jika dengan apa yang ada saja aku tidak maksimal memanfaatkan. Manfaat di 
sini aku mengartikannya apakah sudah bermanfaat untuk orang-orang di sekitar 
aku.

Alasan inilah yang membuatku tetap mempertahankan motor dan hp yang ada 
sekarang. Biarlah kedua benda itu tetap menjadi teman yang setia untuk saat ini 
yang penting masih bisa berfungsi. Bagaimana mungkin aku berfikir untuk membeli 
hp yang baru jika aku melihat tas adikku yang sudah robek masih tetap 
dipakainya untuk sekolah? Bagaimana mungkin aku mengambil kredit motor yang 
DP-nya sampai jutaan ketika sebuah sms masuk yang mengabarkan ada keluargaku 
yang tidak lagi sanggup membeli beras untuk memenuhi kebutuhannya?

Bahkan aku sering dibuat tidak nyaman dengan kedua benda ini ketika pulang ke 
kampung halaman. Ada beberapa keluargaku yang merasa minder dengan diriku. 
Mereka menganggap aku ini seperti seorang yang berada pada kasta brahma dan 
mereka kasta sudra. Tidak, aku tidak menginginkan hal itu. Aku berfikir 
materilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan itu.

Setiap orang memang mempunyai cara tersendiri untuk mengaktualisasikan dirinya 
atau menunjukkan status sosialnya. Ada yang dengan membeli mobil mereka merasa 
puas, ada yang membeli motor atau mengganti hp yang baru. Aku tidak akan 
berkata benar atau salah karena setiap orang mempunyai cara pandang dan 
kebutuhan yang berbeda. Tapi bagiku dengan berbagi itulah cara 
mengaktualisasikan diri yang benar-benar dapat memberikan kepuasan.

Aku akan merasa bahagia ketika aku dapat mengantarkan ibu dengan sepeda motor 
ini berkeliling untuk bersilaturahmi atau ketika hp ku digunakannya untuk 
berkomunikasi dengan sanak famili. Aku akan merasa menjadi manusia lemah yang 
dapat memberikan manfaat ketika aku bisa membeli hp baru tapi aku alihkan untuk 
meringankan biaya sekolah sepupu-sepupuku. Cukuplah untuk saat ini kedua benda 
ini asalkan aku dapat berbagi senyum dengan orang-orang yang aku cintai, 
asalkan aku dapat mengurangi lara mereka. Aku hanya memohon kepada Tuhan agar 
apa yang diberikan-Nya bermanfaat bagi orang banyak meski hanya berupa motor 
butut dan hp yang tidak begitu canggih.

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8803214457-motor-butut-dan-hp-gaptek.htm?other

Kirim email ke