Pak Cipto pasti akan lebih gelisah lagi jika  sadar bahwa sebentar lagi
akan  akan ada kambing buduk yang terkena flu burung....bagi yang nggak
buduk terkena flu bukan burung.....kaum kafir, musyrik, munafik, pemakan
riba, pasti akan di samperin kambing dengan budduk...bahkan akan muncul
Serigala berbuduk kambing......

 

He... he... jangan marah pak Jarot....!!!!

 

________________________________

From: Agus Rasidi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, August 06, 2008 1:31 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; MILIS DKM AL IKHLAS; MILIS AR-ROYYAN
Subject: [Ar-Royyan-8042] Pak Cipto yang Gelisah Akan Rezekinya

 


Pak Cipto yang Gelisah Akan Rezekinya


2 Agu 08 05:33 WIB

Oleh Jonru

Pernahkah Anda curhat mengenai hal yang sangat pribadi kepada orang yang
BARU SAJA Anda kenal? Anda bahkan belum tahu siapa orang itu, bagaimana
sifatnya, apakah dia orang baik atau jahat. Anda bahkan belum yakin
apakah dia bisa memberikan solusi atas masalah Anda. Pernahkah Anda
bertindak seberani itu?

Saya mungkin tak akan berani, tapi Pak Cipto sudah melangkah demikian
jauh ketika kami baru berkenalan sekitar LIMA MENIT. Pria berusia 36
tahun ini sebenarnya hanya sesosok manusia sederhana. Perawakannya
sedang, rambut ikal, kulit sawo matang, tinggal di Semarang bersama
isteri dan seorang anaknya yang masih kecil. Pak Cipto bekerja sebagai
staf marketing pada sebuah perusahaan yang memproduksi makanan kecil.
Hampir setiap hari, bersama seorang sopir ia mengelilingi beberapa kota
di Jawa Tengah dengan mobil box. Mereka membawa banyak makanan kecil
untuk didistribusikan ke toko dan warung yang tersebar di penjuru kota.

Di sore hari, saat berada di Solo, mobil box itu singgah di sebuah hotel
murah - namun bersih - di daerah Sriwedari. Di tempat inilah saya
berkenalan dengan Pak Cipto, awal Juli 2008 lalu. Saat itu, saya ada
kegiatan di Solo dan menginap di hotel tersebut.

Pertemuan dengan Pak Cipto berlangsung di lobi hotel, sekitar jam 9
malam. Sebagai awal perkenalan, obrolan kami boleh dibilang sangat
standar:

"Dari mana, Pak?"

"Sudah berapa lama menginap di sini?"

"Lagi ada keperluan apa di Solo?"

"Anak sudah berapa?"

Namun lima menit kemudian, tiba-tiba ia menatap saya dan menanyakan
sesuatu yang membuat saya terkejut, "Menurut Pak Jonru, apa sebenarnya
tujuan hidup ini?"

Saya tertegun, tidak siap oleh pertanyaan yang demikian filosofis. Bila
kami sudah akrab sejak lama, saya mungkin bisa memberikan jawaban yang
gamblang. Namun saat itu, saya sama sekali belum mengenal Pak Cipto ini.
Bila saya misalnya menjawab dari sudut pandang Islam, saya khawatir bila
ternyata dia nonmuslim. Intinya, saya ragu harus menjawab apa.

Akhirnya, sambil tersenyum kecil, saya balik bertanya, "Lho, kok
bertanya seperti itu, Pak?"

"Begini, Pak, " ujarnya. "Saya ini kan bekerja sebagai staf marketing.
Di dunia seperti ini, sudah biasa kalau saya memberikan harga Rp 1.500
ke toko, padahal harga asli dari kantor saya hanya Rp 1.000. Yang Rp 500
tentu masuk ke kantong saya."

"O, begitu, " saya manggut-manggut. "Dan itu membuat Bapak gelisah, ya?"

"Betul. Tapi saya juga bingung. Kalau saya bekerja dengan jujur,
teman-teman pasti memusuhi saya. Dianggap tidak solider. Lagipula gaji
saya kan kecil. Kalau tidak berbuat seperti itu, mana cukup buat
menghidupi keluarga?"

Saya tertegun, mulai memahami permasalahannya. Intinya, Pak Cipto ini
sedang gelisah akan rezeki yang dia dapatkan selama ini. Dia tahu bahwa
yang dia lakukan keliru, rezekinya pun tidak halal. Namun dia juga
bingung bagaimana cara mengakhiri "lingkaran setan" tersebut.

Sejujurnya, saya merasa amat surprise ketika Pak Cipto meminta nasehat
seperti itu pada saya, sebab pada dasarnya saya bukan seorang ustadz
yang fasih berbicara soal agama. Karena itu, saya mencoba memberikan
masukan yang sederhana saja, berdasarkan pengalaman pribadi.

"Maaf, sebelumnya saya tanya dulu. Pak Cipto ini muslim atau bukan?"

"Iya, saya Islam."

"Oke. Kalau begitu, tentu Pak Cipta paham mengenai tujuan hidup seorang
Muslim, kan? Hidup kita di dunia ini bukan untuk mencari kekayaan, namun
beribadah. Dan rezeki setiap orang sudah diatur oleh Tuhan. Selama kita
meyakini hal ini, disertai dengan ikhtiar dan doa tentu saja, maka Insya
Allah kita tak akan pernah kekurangan rezeki."

Saya pun menceritakan pengalaman saya ketika nyaris tak punya uang
<http://jonru.multiply.com/journal/item/414/Ketika_nyaris_tak_punya_uang
> . Namun karena saya yakin akan rezeki dariNya, maka secara ajaib
rezeki itu pun datang. Subhanallah....

"Coba perbanyak saja ibadah, Pak. Semakin dengan dengan Allah, insya
Allah kita bisa lebih mudah dalam mengatasi seperti ini, " ujar saya.

Pak Cipto manggut-manggut. Sementara saya hari itu mendapat pelajaran
yang amat berharga. "Kesadaran" adalah kunci utama menuju hidayah. Orang
yang tak pernah merasa bersalah atas maksiat-maksiat yang ia lakukan,
biasanya akan sulit menemukan pencerahan dalam hidupnya.

Saya bersyukur, Pak Cipto ini termasuk orang yang sudah sadar. Jiwanya
gelisah, ada semacam keinginan untuk berubah. Saya percaya, orang-orang
seperti inilah yang hidupnya dengat dengan kebenaran.

Wallahualam:)

Jonru
Penulis, Owner dan Mentor di Sekolah-Menulis Online
<http://smo.belajarmenulis.com/> 
Blog: www.jonru.net

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8729065700-pak-cipto-gelisah-akan-rezek
inya.htm?other

 

Kirim email ke