---------- Forwarded message ----------
From: Dani Permana <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 14 Agu 2008 17:26
Subject: [Milis_Iqra] Memuliakan Tetangga
To: milis_iqra <[EMAIL PROTECTED]>


Memuliakan Tetangga

http://202.155.15.208/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=153440&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=236

''Syukur deh, akhirnya dia pindah,'' ujar seorang ibu dengan raut muka
yang cerah. Ibu yang ada di sebelahnya tak mau kalah, ''Gimana kalau
sekarang kita numpeng atau ngerujak?'' Beberapa orang ibu mengiyakan
serempak. Pada hari itu beberapa orang tetanggaterutama
ibu-ibu--tampak begitu gembira. Ternyata pada pagi harinya, keluarga
Fulan yang rumahnya persis berada di samping rumah saya telah pindah
ke kampung sebelah.

Memang, keluarga Fulan termasuk keluarga yang kurang disenangi, malah
sangat tidak disenangi, sehingga keberadaannya sedikit banyak
'mengganggu' kenyamanan lingkungan sekitar. Karena itu, tak heran bila
kepindahannya 'disyukuri' para tetangga. Manusia, pada dasarnya,
termasuk ke dalam makhluk ijtima'i (makhluk sosial). Saat lahir dia
membutuhkan dekapan seorang ibu, saat kecil membutuhkan teman bermain,
saat dewasa membutuhkan teman hidup, kemudian saat beranjak tua
manusia membutuhkan orang-orang yang mau merawat serta
memperhatikannya.

Bahkan saat meninggal pun masih membutuhkan orang lain untuk
memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya, selain membutuhkan orang
yang mau mendoakannya. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa manusia
sejak ia sebelum lahir hingga setelah meninggal pasti membutuhkan
kehadiran orang lain. Karena itu sangat tidak tepat bila kita menjadi
orang egois yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Kita tidak akan
bisa hidup tanpa orang lain, bahkan saat kematian sekalipun.

Dalam posisi seperti inilah arti penting tetangga sebagai orang yang
dekat dengan kita dapat kita tempatkan. Terkadang kedudukan tetangga
jauh lebih penting daripada saudara, karena merekalah pihak pertama
yang kita mintai pertolongan saat kita dalam posisi bahaya. Demikian
pentingnya tetangga, hingga Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa
kualitas keimanan seseorang, salah satu tolak ukurnya adalah sejauh
mana ia mampu berbuat baik terhadap tetangganya.

Tetangga, sejatinya bukan hanya sebatas orang yang rumahnya dekat
dengan kita, tapi meliputi siapa saja yang ada di sekitar kita, bahkan
bisa mencakup hubungan dua bangsa. Ada satu kisah menarik tentang hal
ini. Sesaat setelah meminum teh manis, Abdullah bin Mas'ud membuang
sisa tehnya itu ke tanah. Saat ditanya kenapa ia membuang sisa teh
itu, Abdullah bin Mas'ud menjawab, ''Saya hanya ingin berbuat baik
dengan tetangga saya.

'' Ternyata tetangganya itu adalah sekumpulan semut kecil yang ada di
bawah tempat duduknya. Berbicara soal hidup bertetangga (dalam konteks
orang yang rumahnya dekat dengan kita), kita tidak bisa melepaskannya
dari etika. Etika di sini adalah bagaimana kita bersikap secara baik
dan proporsional. Tentu kita tidak bisa menuntut tetangga kita berbuat
baik kepada kita.

Yang harus kita lakukan adalah memulai berbuat baik kepada tetangga
kita. Pertama, berbahagia apabila tetangga kita mendapatkan karunia
dan ikut bersedih (berempati) apabila tetangga kita mendapatkan
musibah. Hal ini tentunya akan melahirkan sikap ingin membantu. Kedua,
berpikiran positif terhadap apapun yang dilakukan tetangga kita.
Jangan berprasangka negatif dan selalu memperhatikan semua yang
dilakukan oleh tetangga kita.

Karena itu, alangkah baiknya kalau kita memiliki kegiatan padat karya,
sehingga waktu-waktu kita tidak tersita dengan memperhatikan orang
lain. Bila kita sibuk dengan aktivitas, maka sangat sedikit peluang
bagi kita untuk bergosip, membicarakan tetangga, dan lainnya. Bahkan
bila waktu kita padat dengan aktivitas, maka waktu yang sedikit untuk
berinteraksi dengan tetangga akan lebih berkesan dan menambah
persaudaraan. Ketiga, selalu berbagi bila punya kelebihan rezeki.

Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah, karena
hal itu akan melahirkan kecintaan di antara sesama. Bahkan saat orang
lain berbuat keburukan, kita tidak dianjurkan untuk membalasnya dengan
keburukan yang serupa. Keempat, andai terjadi pertentangan di antara
tetangga, maka kita jangan memihak salah satu.

Alangkah baiknya apabila kita bisa menjadi mediator untuk mendamaikan
tetangga kita yang saling bermusuhan tersebut. ''Perbaikilah hubungan
di antara kalian,'' begitulah perintah Allah SWT. Itulah sebagian cara
yang dicontohkan Rasulullah dalam hal memuliakan tetangga. Semoga kita
termasuk orang yang dimuliakan Allah karena memuliakan tetangga kita.
Amiin (Ems)

-- 
www.adanipermana.co.cc
www.computer-knowledge.biz

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125


Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63


Gabung : [EMAIL PROTECTED]
  Keluar : [EMAIL PROTECTED]
 Situs 1 : http://myiqra.co.cc
 Situs 2 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
     Mod : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa seorang laki-laki berkata kepada 
Nabi SAW., Berilah wasiat kepadaku, Nabi SAW. bersabda, Jangan marah. 
Beliau mengulanginya beberapa kali dan bersabda, Jangan marah (Diriwayatkan
oleh Imam Bukhari)

Kirim email ke