Puasa Pertama

     2 Sep 08 06:34 WIB


     www.eramuslim.com


     Oleh Jojo Wahyudi


     Masih teringat Ramadhan pertama-ku.
     Dalam arti, pertama kali aku menjalankan ibadah puasa sehari penuh.
     Untuk anak kelas 3 Sekolah Dasar tentu bukan hal yang mudah untuk
     menahan lapar dan dahaga seharian penuh.


     “ Bu, haus banget ya?” rintihku pada Ibu yang sedang memasak untuk
     berbuka.


     “ Tahan saja sebentar, sudah jam setengah lima, kurang satu setengah
     jam lagi bedug Maghrib ditabuh “ kata Ibuku dengan tetap mengaduk
     sayur lodeh kesenangan Bapakku.


     Aku menelan ludah, mencium wangi aroma masakan Ibu.
     “ Memang orang berpuasa itu harus sampai bedug Maghrib ya Bu?


     “ Ya nak, kalau cuma sampai siang puasanya tidak sah.”


     “Terus.... harus tiga puluh hari penuh?” lanjutku


     “ Untuk orang dewasa yang tidak ada halangan atau sakit harus berpuasa
     sebulan penuh”


     “ Ooooo...Memang kita tidak sakit perut Bu?”


     “ Itulah nak, kebesaran Allah selalu diperlihatkan pada manusia.
     Justeru dengan berpuasa badan jadi lebih sehat.” Ibu memandangku.


     “ Tapi kalau tidak makan sebulan kan badan jadi kurus Bu?” aku masih
     bertanya


     Ibu mendekat seraya mengusap kepalaku
     “ Tentu tidak nak. Kita hanya memindahkan waktu jam makan saja dari
     makan pagi menjadi sahur dan makan siang dan malam di ganti saat
     berbuka di waktu maghrib.”


     “ Berarti kita makan cuma dua kali sehari dong?” aku terus bertanya.


     “ Coba kamu perhatikan, apakah Ibu dan Bapak kurus. Lalu apakah pak RT
     kurus, juga pak Ustadz di masjid Nurul Falah kurus? Tidak kan. Padahal
     kita semua berpuasa sebulan penuh setiap tahun.”


     Aku menganggukkan kepala.
     “ Iya ya Bu, Bapak dan Ibu tidak sekurus Pak Ojang tukang balon yang
     sering lewat depan rumah kita..... Oooooooo mungkin pak Ojang puasa
     setiap hari kali ya Bu, makanya badannya jadi kurus? Hebat juga pak
     Ojang, bisa berpuasa setiap hari.”


     Aku teringat seorang bapak penjual balon yang biasa lewat depan rumah
     kami. Aku masih delapan tahun saat itu, belum lagi terpikir tentang
     kesengsaraan orang lain. Yang aku tahu saat itu adalah “berpuasa itu
     berarti tidak makan dan tidak minum”, meskipun keluarga kami tidak
     tergolong orang berada, namun bila hanya untuk makan sehari tiga kali,
     Bapakku sanggup memenuhinya dengan sedikit mengenyampingkan makanan
     empat sehat lima sempurna. Kini setelah lewat tiga puluh tahun kutahu,
     Pak Ojang yang hidup sebatang kara, badan kurusnya bukan karena rajin
     berpuasa, tetapi terpaksa tidak makan, badan kurusnya memperlihatkan
     kesengsaraan yang dia hadapi. Masih lekat dalam ingatanku, baju lusuh
     yang biasa dipakainya tidak bisa menutupi tonjolan-tonjolan tulang
     yang nyaris tak berlemak.


     Kini aku baru paham jawaban Ibu “ Iya nak. Dengan berpuasa kita juga
     ikut merasakan rasa lapar yang biasa dialami orang-orang seperti Pak
     Ojang”
     Terus terang saat itu aku belum paham makna ucapan Ibu tentang
     “emphati” tersebut, yang aku tahu setiap malam Takbiran, Pak Ojang
     selalu menerima bingkisan dari Masjid.


     Oh Pak Ojang yang malang, akankah puasaku selama ini, hanya untuk
     menggugurkan kewajibanku pada perintah Allah semata, tanpa pernah
     mengambil hikmah yang banyak tersirat di dalamnya. Aku kini memang
     paham apa yang pernah Ibu ucapkan tentang puasa dengan ikut merasakan
     rasa lapar yang biasa dialami orang-orang seperti Pak Ojang, tetapi
     pada kenyataannya selama ini, setiap kali aku berbuka puasa, segala
     makanan yang kusuka kubeli walau belum tentu kumakan semuanya, dan
     pada akhirnya terbuang percuma. Lalu nanti akhir Ramadhan, saat Takbir
     berkumandang, kami sekeluarga hanya sibuk memilih baju dan sarung yang
     akan dikenakan esok hari.


     Ya Robb, hanya Engkau yang dapat membutakan “lapar mata” kami dan
     menjadikan Ramadhan bukan sekadar bulan ritual semata.


     Semoga Allah selalu menuntun kami dalam Ramadhan kali ini.


     (Lantai 11 sebuah gedung di Sudirman, 1 Ramadhan 1429 H)

Kirim email ke