Jurnalistik Aktivis Masjid, Why Not?
Selasa, 02 September 2008 13:09
Ilmu dan teknik jurnalistik harus dimiliki oleh aktivis masjid. Sebagai sentral 
aktivitas umat, masjid merupakan sumber informasi atau sumber berita keagamaan 
dan keumatan.



TANGGAL 19 September, insya Allah saya menjadi pemateri pada acara Pelatihan 
Jurnalistik Remaja Masjid (PJRM) yang diadakan secara rutin tiap Ramadhan oleh 
ICMI Orwil Jabar. Biasanya, materi yang saya sampaikan adalah tentang Editing. 
Namun kali ini, saya minta kepada panitia pelaksana, agar materi saya diubah 
saja menjadi "Jurnalistik Aktivis Masjid". Melalui materi ini, saya ingin 
mengajak dan memotivasi para pemuda/remaja aktivis masjid untuk menjadi 
"jurnalis masjid".

PJRM sendiri dilaksanakan 19-21 September 2008 di Gedung ICMI Orwil Jabar Jln. 
Cikutra 276-D Bandung, Tlp. (022) 7206964. Anda yang berminat ikut serta, 
dengan syarat utama aktivis masjid atau DKM, silakan kontak panitia di nomor 
telepon tersebut.

Berikut ini kutipan makalah tentang "Jurnalistik Aktivis Masjid" yang akan saya 
bahas nanti. Makalah ini sebelumnya sudah pernah disampaikan pada diklat 
jurnalistik di sejumlah masjid di Bandung.

JURNALISTIK bukan monopoli wartawan. Ilmu dan teknik jurnalisti juga bisa 
-bahkan harus- dimiliki oleh aktivis masjid, mengingat masjid adalah sentral 
aktivitas keagamaan umat Islam. Sebagai sentral aktivitas, otomatis masjid 
merupakan sumber informasi atau sumber berita keagamaan dan keumatan.

Ilmu dan teknik jurnalistik yang dimiliki aktivis masjid berguna untuk 
menyebarluaskan informasi kegiatan dan rekaman ceramah, pengajian, bahkan 
khotbah jumat, kepada masyarakat sekitar, bahkan juga kepada masyarakat yang 
jauh dari masjid.

Jika ceramah seorang ustadz di masjid hanya bisa didengarkan oleh puluhan atau 
ratusan orang, maka dengan "sentuhan ilmu jurnalistik", ceramah sang ustadz 
bisa disebarluaskan kepada ribuan bahkan jutaan orang di luar masjid. Orang 
yang tidak sempat atau berhalangan datang ke masjid pun bisa menerima siraman 
rohani sang ustadz."Sentuhan ilmu jurnalistik" yang dimaksud adalah keberadaan 
"jurnalis masjid" yang andal dan siap melaporkan kegiatan di masjid kepada 
publik.

Untuk itu, keterampilan jurnalistik yang harus dimiliki aktivis masjid, demi 
pengembangan dan penyebarluasan syiar dakwah masjid, utamanya adalah kemampuan 
menulis berita (news), keterampilan men-transkript ceramah dan mengubahnya 
menjadi sebuah tulisan atau berita, menulis dan mengirimkan siaran pers (press 
release), serta mengelola buletin dakwah.

Kemampuan menulis berita, transkrip, dan rilis itu diperlukan untuk 
menyebarluaskan informasi kegiatan masjid kepada khalayak luas, yakni melalui 
media massa, baik majalah dinding (papan informasi masjid), buletin masjid, 
maupun media massa umum.

Menulis Berita
Berita adalah laporan peristiwa aktual yang penting dan menarik bagi publik. 
Sebuah berita harus memenuhu unsur 5W+1H, yakni What (Apa yang terjadi), Who 
(Siapa yang terlibat dalam kejadian itu), When (Kapan kejadiannya), Where (Di 
mana lokasi kejadiannya), Why (Mengapa peristiwa itu terjadi), dan How 
(Bagaimana kejadiannya). Keenam unsur itulah yang membangun sebuah naskah 
berita dan menjadi informasi yang "lengkap" bagi pembaca.

Struktur penulisannya (anatomi berita) terdiri dari empat bagian, yaitu 
Headline (judul atau kepala berita), Dateline (waktu atau nama tempat berita 
dibuat atau diperoleh), Lead (teras berita), dan News Body (tubuh atau isi 
berita).

Transkrip
Transkrip adalah "catatan kata demi kata", yakni menuliskan kata demi kata yang 
diucapkan penceramah atau khotib sehingga menjadi sebuah naskah artikel opini.

Teknisnya adalah merekam dengan alat rekam, lalu memindahkannya ke dalam 
tulisan -menuliskan semua yang diucapkan penceramah. Setelah itu, transkrip 
tadi yang berupa bahasa lisan, diubah menjadi bahasa tulisan dengan "sentuhan 
editing" -boleh menambah atau mengurangi kata/kalimat agar lebih lengkap dan 
jelas, tanpa mengubah arti, maksud, atau makna.

Jika pembahasannya "loncat-loncat", boleh disusun ulang sehingga sistematis, 
tanpa mengubah substansinya.

Press Release
Jurnalis masjid dapat beperan sebagai humas atau public relations, dalam hal 
ini menjalankan peran dalam menjalin hubungan dengan media massa atau wartawan 
(media relations, press relations).

Jenis media relations terpopuler adalah menulis dan mengirim press release, 
yakni siaran pers berupa naskah berita (data atau informasi tentang sebuah 
kegiatan -pra ataupun pasca) untuk disiarkan atau dipublikasikan di media massa 
yang dituju.

Siaran pers hendaknya ditulis dengan gaya penulisan berita, ringkas (cukup satu 
lembar), cantumkan nomor kontak -misalnya nomor telpon DKM, konfirmasi siaran 
pers yang sudah dikirimkan, jika perlu seratakan ilustrasi foto, tabel, atau 
grafik atau bahan pendukung lainnya -makalah, naskah pidato, susunan acara, 
dsb., dan tuliskan pada kertas berkop surat sehingga benar-benar resmi, lalu 
tandatangani oleh pejabat paling berwenang, misalnya Ketua DKM dan/atau Seksi 
Humas. Jika perlu, sertakan surat pengantar berisi permohonan publikasi di 
lembar terpisah.

Buletin
Buletin berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi DKM. Melalui buletin, 
DKM dapat secara rutin dan transparan mengumumkan keadaan keuangan (dana zakat, 
infak, dan sedekah) sehingga menambah kepercayaan jamaah.

Pengurus DKM juga dapat menjadikan buletin sebagai media promosi (ekspose) 
sekaligus undangan bagi berbagai program kegiatan di lingkungan mesjid. Jadi, 
tidak selalu harus membuat surat undangan jika mengadakan pengajian misalnya.

Penerbitan buletin dapat menambah sumber dana baru bagi mesjid, yakni dengan 
adanya pemasukan dari iklan. Kru penerbitan buletin dapat mencari iklan, 
misalnya toko-toko atau warung di sekitar mesjid, tanpa mengurangi nilai 
religius buletin.

Buletin dapat juga menjadi media komunikasi jamaah. Opini jamaah, misalnya 
berupa surat pembaca, dapat ditampilkan. Hal ini dapat mendorong dinamika 
jamaah sekaligus mencapai idealisme mesjid sebagai pusat kegiatan umat Islam 
sebagaimana zaman Rasulullah Saw.

Format Buletin
Buletin biasanya terdiri dari satu lembar kertas kwarto (A4) atau folio (F4) 
yang dilipat, kedua halamannya terisi, sehingga menjadi empat halaman. Isi 
buletin dakwah/buletin masjid biasanya adalah artikel dakwah -ditulis oleh 
redaksi atau hasil transkrip penceramah pengajian/khotbah jumat- dan berita 
kegiatan masjid dan jamaah, plus kutipan ilmu agama Islam.

Sebagaimana media cetak pada umumnya, manajemen buletin dimulai dengan 
penentuan visi-misi (dalam hal ini media komunikasi, informasi, dan dakwah), 
nama, moto, periode terbit, susunan redaksi/pengelola, dan rubrikasi.

Contoh rubrikasi buletin -Hlm. 1: Logo/Nama Buletin, Indeks, dan Artikel 
Dakwah; Hlm. 2 : Lanjutan Artikel Dakwah; Hlm. 3 : Berita singkat seputar 
kegiatan masjid dan/atau jamaah masjid; Hlm. 4 : Kisah-kisah sufistik, kutipan 
hadits, iklan, dan box redaksi.*

CATATAN:

1. Anda yang minat ikut PJRM, silakan hubungi Sekretariat Panitia PJRM IX ICMI 
Orwil Jabar, Jl. Cikutra No. 276-D Bandung, Tlp. 022 - 7206964. Fax. 022 
7208592. Atau contact person Asep (085282773800), Andri 022-70108968. (Rilis 
Panitia PJRM IX ICMI Jabar).

2. Anda juga bisa ikuti DIKLAT RETORIKA DAKWAH (12-13 September 2008 Pkl. 
09.00-17.00 WIB) dan  DIKLAT JURNALISTIK DAKWAH (19-20 September 2008 Pkl. 
09.00-17.00 WIB) di Pusdai Jabar Jln. Diponegor0 63 Bandung. Kontak Panitia di 
Bidang K.I.K Pusdai (022) 7217074.*

http://www.warnaislam.com/rubrik/jurnalistik/2008/9/2/47362/Jurnalistik_Aktivis_Masjid_Why_Not.htm

Kirim email ke