---------- Forwarded message ---------- From: andi IRMAN <[EMAIL PROTECTED]>
Pengalaman Wartawan Peliput Pembagian Zakat "Jangan Maju, yang Depan Tertindih" Laporan wartawan Surya, Abdus Syukur PASURUAN, SELASA - Sebagai saksi mata dalam berbagai peristiwa, wartawan seringkali dihadapkan pada situasi yang menggugah rasa kemanusian dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Tidak heran bila sejumlah wartawan yang meliput pembagian zakat bagi ribuan fakir miskin dari Haji Saikhon ikut larut dalam emosi. Mereka tidak tega melihat peristiwa memilukan yang membuat air mata menetes, bahkan menangis tersedu tanpa disadari. Wartawan juga manusia, itulah gambarannya. Berbagai perasaan bercampur aduk, mulai dari rasa tidak tega melihat penderitaan fakir miskin yang terdesak hingga tewas disertai perasaan marah melihat kemiskinan yang begitu luas sebagai kebalikan dari segelintir manusia Indonesia yang hidup bergelimang kemewahan. Tidak heran dalam kondisi suasana seperti itu, wartawan termasuk dari harian Surya, memilih untuk mendahulukan kemanusiaan daripada melakukan peliputan. Wartawan pun mengorbankan kesempatan mengambil gambar peristiwa untuk menolong para korban dengan berbagai cara, mulai dari menarik ibu-ibu yang tertindih hingga menggendong nenek-nenek yang terjepit. Saksi-saksi mata ini juga mencoba mengendalikan situasi agar korban jatuh tidak makin banyak. Teriakan-teriakan sekuat tenaga pun terdengar. "Hai, bu, minggir. Ojo mekso maju, sak aken seng ngarep ketindian (jangan maju, yang depan tertindih dan kegencet). Sampean menengo dikek (kamu semua diam dulu), ayo mundur. Iku loh deloken onok sing mati ngarep pager," teriak Surya berkali-kali hingga pita suara seakan hendak putus, dari atas pagar kepada kerumunan pengantri zakat bagian belakang. Sembari berteriak, Surya dan sejumlah wartawan lain mencoba mengangkat wanita renta yang posisinya terjepit. "Ayo terus bu, menek, mencolot pager. Hai rek, iki tampanono wis gak kuat ngadeg (hai rek, -kawan wartawan maksudnya- ini dibantu karena sudah tua tidak kuat lagi berdiri)," teriak Surya. "Aduh aku wis gak kuat jupuk gambar, gak tego yek (aduh saya tidak tahan lagi dan tidak tega). Ayo wis ditulungi ae (ayo sekalian dibantu mereka semua)," jawab Krisna Misbah, reporter Metro TV dan Ersa Priyongko, reporter Trans TV bersama sejumlah wartawan lainnya. Tak ayal karena upaya menolong itu, foto-foto kejadian banyak sekali yang terlewatkan. Namun meski berusaha keras, jumlah wartawan yang menolong tidak memadai di tengah ribuan pengantri zakat. Bahkan saat di depan pagar terlihat ada beberapa ibu yang lemas tidak bisa bernafas dan meninggal, Surya tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak terasa air mata menetes dan perasaan marah pun tidak terbendung lagi. "Khi (saudara, disampaikan Surya kepada Vivin putra H Saikhon), yak opo iki (bagaimana ini). Ente ojok meneng thok leh, ayo golek coro carane yak opo ben podo selamet dan gak tambah korban (kamu jangan diam saja dan mari mencari cara agar semua terselamatkan)," kata Surya dengan nada emosi. Untungnya segera ditemukan cara memecah konsentrasi antrian dengan membagikannya dari luar lokasi, sehingga kerumunan antrian sedikit longgar. Namun upaya itu ternyata sudah terlambat. Korban yang tewas maupun pingsan sudah terlanjur banyak. Saat polisi datang dan membubarkan kerumunan, korban tewas makin nyata berserakan dan bertumpuk di depan pintu gerbang Musholla Roudlotul Jannah. Spontan air mata kesedihan tidak dapat terbendung lagi. Dengan air mata yang terus menitik Surya bersama sejumlah wartawan lainnya seperti Abd Kadir, Memorandum, Zainal Arifien, Radar Bromo dan lainnya serta sejumlah warga, mengangkat tubuh-tubuh lemah itu satu persatu ke mobil patroli polisi maupun lainnya untuk dievakuasi. Saat melihat banyaknya korban, Surya belum berani memastikan jumlah yang tewas, khawatir salah. Sebab antara yang meninggal dengan yang pingsan namun detak nadinya lemah sulit dibedakan. Karenanya saat melaporkan kejadian ke redaksi pada hari Senin (15/9), Surya hanya menyebutkan kisaran 10 hingga 15 orang saja yang meninggal. ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa Abdurrahman bin Shakhr berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, Apapun yang saya larang untuk kalian lakukan, jauhilah; dan apapun yang saya perintahkan untuk kalian lakukan, kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

