---------- Forwarded message ----------
From: Fatchur Berlianto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 18 Sep 2008 07:20:46 +0700
Subject: [myQers] Nantikan, Lailatul Qadarmu…!
To: [EMAIL PROTECTED]

 Nantikan, Lailatul
Qadarmu…!<http://fsialkaun.wordpress.com/2008/09/17/nantikan-lailatul-qadarmu/>

Posted on *17 September, 2008*. Filed under: Fiqih
Islam<http://id.wordpress.com/tag/fiqih-islam/>| Tags:
I'tikaf <http://id.wordpress.com/tag/itikaf/>, Lailatul
Qadar<http://id.wordpress.com/tag/lailatul-qadar/>,
Ramadhan <http://id.wordpress.com/tag/ramadhan/> |
[image: heningnya malam]<http://fsialkaun.files.wordpress.com/2008/09/malam.jpg>

 *Oleh : Asy Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Bin Hasan Bin Ali
Bin Abdul Hamid*

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al
Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan
kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam
yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak
pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam
Lailatul Qodar/Nuzul Qur'an, red), akan tetapi mereka bangun di malam
harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur'aniyah dan hadits-hadits
Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

*1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar*

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan
mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah
berfirman (yang artinya),

[1] *Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.
* [2] *Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?* [3] *Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan.* [4] *Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. *[5]* Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar.*[QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,

[3]*Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.* [4] *Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,* [5] *(yaitu) urusan yang besar
dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,*
[6] *sebagai
rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.* [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]

*2. Waktunya*

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa malam tersebut
terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan
Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam
Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr
bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini,
lihatlah).

Imam Syafi'i berkata, "Menurut pemahamanku, wallahu a'lam, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada
beliau, "Apakah kami mencarinya di malam hari?", beliau menjawab, "Carilah
di malam tersebut.". (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah
6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam
terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits 'Aisyah radiyallahu 'anha, dia
berkata: *Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh
hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) "Carilah
malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan."* (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari
tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), *"Carilah di sepuluh
hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari
sisanya."* (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), *"Aku melihat mimpi kalian telah
terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang
terakhir."* (Lihat maraji' diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para
sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua
orang sahabat berdebat, beliau bersabda, *"Aku keluar untuk mengkhabarkan
kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang)
berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar
terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27,
25* (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima)." (HR Bukhari 4/232).
Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada
sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari
terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah
khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan
telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu
ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak
mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits
tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.
Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah
pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah
dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam
ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a'lam.
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari
terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah,
ia berkata: Adalah Rasulullah beri'tikaf pada 10 terakhir pada bulan
Ramadhan dan berkata, "Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil
10 terakhir bulan Ramadhan."

*3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar*

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk
mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya).
Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan
(untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar)
bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam
Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar,
jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang
telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), *"Barangsiapa
berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan
mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu."*(HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do'a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan
dari sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, (dia) berkata, "Aku bertanya, Ya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan
malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?" Beliau
menjawab, "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii. Ya Allah,
Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka
ampunilah aku." (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah,
sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan,
halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk
mentaatiNya - engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar
(dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh
malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita,
perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan
ketaatan.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, *"Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau
mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah,
menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya
dan membangunkan keluarganya."* (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, (dia berkata), *"Adalah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah
masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada
malam-malam lainnya."* (HR Muslim 1174).

*4. Tanda-tandanya*

Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh
dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar
agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari Ubay radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda (yang artinya), *"Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari
terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi."* (HR Muslim
762).
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda (yang
artinya), *"Siapa
di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah."* (HR
Muslim 1170. Perkataannya "Syiqi Jafnah", syiq artinya setengah, jafnah
artinya bejana. Al Qadli 'Iyadh berkata, "Dalam hadits ini ada isyarat bahwa
malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan
seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.")
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), *"(Malam) Lailatul Qadar adalah
malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan
harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan."* (HR Thayalisi
(349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).

*Dikutip dari Sifat Puasa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam *

*Penerbit Pustaka Al-Mubarok (PMR)*

*penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. *
*Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. *
*Judul asli "Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii
Ramadhan" *
*Bab "Malam Lailatul Qadar" *
*Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid *
*Penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H.
*

*Sumber:http://fsialkaun.wordpress.com/2008/09/17/nantikan-lailatul-qadarmu/
*

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW juga menegaskan, bahwa Allah SWT dalam hadist Qudsi berfirman, 
Tidaklah ada balasan bagi seorang hambaKu bila aku dipanggil orang yang di 
cintainya dari dunia, lalu ia bersabar dan memohon balasan (kepada-Ku) kecuali 
baginya adalah surga. (HR. Bukhori dari Abu Hurairah).

Kirim email ke