Keutamaan Itikaf Di Bulan Ramadhan
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

SAUDARAKU yang baik, i'tikaf pada intinya adalah berdiam diri di masjid, 
berkhalwat (mengasingkan diri), dengan niat dan tujuan mendekatkan diri kepada 
Allah SWT. Dalam pengertian yang lain i'tikaf ialah memutuskan hubungan dengan 
makhluk, untuk menghubungkan diri dengan Khalik-Nya, melalui jalan 
pengkhidmatan dan berdiam secara khusuk melaksanakan ibadah.
Alangkah baiknya pekerjaan sunah ini untuk melakukannya, karena sesuatu ibadah 
yang wajib apabila tidak didukung dengan ibadah yang sunah dianggap kurang 
sempurna. Kalau kita lihat akan i'tikaf adalah bagian dari pekerjaan yang 
disunnahkan, maka pahalanya bernilai tinggi. Apalagi Rasulullah SAW selalu 
beri'tikaf setiap bulan Ramadhan, selam 10 hari terakhir. Pada tahun Beliau 
wafat, bahkan beri'tikaf selama 20 hari. Selanjutnya jejak Rasulullah SAW 
beri'tikaf di bulan Ramadhan, diikuti oleh isteri dan para sahabatnya, baik 
ketika Nabi masih hidup, maupun setelah wafat.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menandaskan, "Bahwa 
Rasulullah beri'tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau 
wafat". Kegiatan i'tikaf ini dihubungkan dengan kedatangan Lailatul Qadar yang 
sebagian besar pendapat menyatakan jatuh pada malam ganjil 10 hari terakhir 
bulan Ramadhan.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Siti Aisyah: "Rasulullah SAW jika telah masuk 
sepuluh hari terakhir (Ramadhan), Beliau mengikatkan kainnya dan menghidupkan 
malamnya, serta membangunkan keluarganya" . Aisyah juga berkata, "Rasulullah 
SAW beri'tikaf pada 10 hari terakhir dari Ramadhan hingga Beliau meninggal 
dunia. Kemudian isteri-isteri Beliau juga beri'tikaf setelah wafatnya" (HR 
Bukhari dan Muslim).
Begitu pentingnya ibadat i'tikaf dalam pandangan Rasulullah SAW sehingga tak 
pernah meninggalkannya. Akan tetapi sudah banyak orang yang melupakannya. 
Apalagi kesibukan urusan duniawi semakin hari semakin erat mengikat. Maka 
i'tikaf mungkin hanya tinggal kenangan. Sesuatu ibadah sunah yang sangat 
dianjurkan tapi justru semakin dilupakan.
I'tikaf merupakan sarana meningkatkan kualitas ketaqwaan yang sangat efektif 
bagi seorang muslim dalam memlihara keislamannya. Pengembangan rohaniyah akan 
lebih sempurna apabila telah kita lengkapi dengan beri'tikaf di masjid. Dengan 
i'tikaf sejenak kita tinggalkan urusan dunia dan mengisi rohani dengan berbagai 
ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Orang yang beri'tikaf 
memperbanyak membaca Al-Qur'an, ibadat-ibadat sunat, tasbih, takbir, tahmid, 
istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan amalan-amalan lain yang 
dibolehkan oleh syara.
Walaupun i'tikaf berarti mengasingkan diri, namun orang yang beri'tikaf 
dimakruhkan menahan diri berbicara kepada orang lain yang ditemui di dalam 
masjid selama beri'tikaf. Diam di dalam masjid, bukan berarti orang yang 
beri'tikaf tidak boleh ke luar masjid. Untuk buang air, mengantar keluarga, 
mandi, diperbolehkan, karena tidak membatalkan i'tikaf. Yang dilarang adalah 
melakukan kewajiban suami isteri. Larangan ini langsung dari Allah SWT, S. 
Al-Baqarah 187, "Dan janganlah kamu menyetubuhi isterimu, selagi kamu sedang 
beri'tikaf di dalam masjid".
Saudaraku, memang i'tikaf terasa berat untuk kita lakukan. Harus diam di 
mesjid, bershalawat, menjaga larangan-larangan yang dapat membatalkan i'tikaf. 
Di bulan Ramadhan sekarang ini mari kita coba memulai i'tikaf meski memiliki 
waktu sempit akibat himpitan dan tuntutan pekerjaan. Kalau tidak sekarang 
lantas kapan lagi? Wallahu a'lam. 

Kirim email ke