Assalamualaikum
Semalem di Masjid Ar-Royyan ada ceramah dari Jamaah Pakistan, seorang dokter 
spesialis THT yang sedang mengambil program khuruj 4 bulan bersama istrinya. 
Ada 4 pasang suami istri, mereka sedang dakwah dan silaturahmi dari masjid ke 
masjid. Inilah antara lain yang saat ini dikerjakan oleh Sakti Sheila on7 juga 
almarhum Gito Rolies, Hengki tornando, dll.

Wassalam,
M.K.Roziqin


http://www.hidayahku.com/?p=68




Sakti “Sheila on 7 ” - Dari Chord Gitar ke Chord Allah
September 8, 2008
Dengan petikan gitarnya, Sakti turut membawa Sheila on 7 menjadi salah satu 
grup band besar di tanah
air. Kini jari-jarinya tak lagi memetik chord lagu-lagu Sheila, tapi
‘chord’ ayat-ayat Allah SWT dan sunah Rasul-Nya demi masuk ke agama
tauhid ini dengan utuh.
Hati Hidayah sungguh sumringah saat di layar telepon selular muncul
nama Sakti. Sedari siang Hidayah yang mencari Sakti di kota Bandung
agak panik, karena telepon selular mantan pemetik gitar Sheila on 7 itu
tak bisa dihubungi. Sehari sebelumnya ia bilang bahwa tengah berada di
daerah Ujung Berung Bandung, tapi setelah didatangi ternyata dia sudah
tidak ada.
“Assalamu’alaikum…maaf Mas, sekarang saya udah pindah. Ada di masjid Jami 
Al-Ukhuwwah kompleks Bumi Panyileukan…,” begitu bunyi sms-nya.
Sakti ternyata tengah mengikuti satu kegiatan dakwah dan tarbiyah
sebuah organisasi Islam bernama Jamaah Tabligh selama 40 hari.
Kegiatanyang dinamai khuruj itu mengharuskan pesertanya
berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu masjid ke
masjid lain, guna berdakwah dan melatih diri dalam beribadah secara
ihklas kepada Allah SWT. Sehari sebelumnya Sakti memang berada di Ujung
Berung namun pada hari itu ia sudah berpindah ke Panyileukan yang
jaraknya tidak terlalu jauh.
Mengenakan gamis putih bergaris-garis, berkopiah dan bercelana
hitam, ia tampak tengah berwudhu bersama para jamaah yang lain. Dari
kejauhan, Sakti terlihat lebih kurus, namun wajahnya tampak bersih.
Jenggot hitam lebat yang memenuhi dagu dan sebagian pipinya tak mampu
menyembunyikan wajah mudanya yang tampan.
Selepas sholat Ashar , Sakti tampak bersalaman dengan imam sholat,
ia lalu beranjak ke pojok masjid mengambil buku Fadhilah Amal. Sesaat
kemudian, pria bernama lengkap Sakti Ari Seno itu duduk menghadap
kamaah dan mulai membacakan beberapa hadist dari buku itu. Jamaah lain
mendengarkan dengan seksama. Suara Sakti terdengar lancar sekalipun
volumenya terdengar perlahan.
Bila mengingat Sakti pernah merajai panggung musik tanah air bersama
Sheila on 7, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang lain. Mengawali
karier musik lewat album Sheila on 7 ( 1999 ), yang dilanjutkan dua
album lainnya yang meledak di pasaran, Kisah Klasik Untuk Masa Depan (
2000 ) dan Anugerah Terindah yang pernah Kumiliki ( 2000 ), Sakti
bersama empat orang karibnya, Erros, Duta, Adam dan anton, adalah ikon
penting musik tanah air waktu itu.
Di setiap sudut negeri, lagiu-lagu Sheila seperti Sephia, Jadikanlah
Aku Pacarmu, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, dan masih
banyak yang lainnya diperdengarkan dan dinyanyikan siapa saja. Kini
pemandangan Sakti yang seperti itu tentulah menghadirkan sebuah kontras
karena orang tahunya ia adalah pemetik gitar kalem. perannya menjadi
warna sendiri di panggung mendampingi permainan gitar Erros yang
atraktif di setiap show Sheila.
“Saat ini saya tetaplah seniman, dan sesekali masih memegang gitar,” ujar
Sakti yang jari-jarinya refleks memperagakan chord-chord gitar di dekat
perut seperti memainkan gitar betulan. namun Sakti mengaku memang
mengurangi kegiatan-kegiatan bermusik dan memperbanyak kegiatan agama
karena ia merasa harus lebih banyak belajar.
Menurut Sakti, setiap profesi adalah sah saja hukumnya asal
setiap orang mengetahui apa kehendak Allah baginya. ” Artinya
berprofesi sebagai seniman, dosen, dokter atau apa saja, selama kita
mengetahui apa kehendak Allah bagi kita, maka kita akan menjadi manusia
yang berbahagia di dunia dan akherat. Seperti almarhum Gito Rollies ,
beliau seniman tapi juga berusaha mengerti apa kehendak Allah atas
dirinya, ” ujar Sakti lagi.

Maut dan Pakistan
Sakti memetik cahaya hidayah di bandara Adisucipto, Yogyakarta, lima
tahun lalu. Saat itu ia bersama Erros akan terbang ke Malaysia untuk
menerima penghargaan musik di negeri jiran itu. Saat menunggu pesawat,
ia masuk ke sebuah toko buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku
berjudul “Menjemput Sakaratul Maut Bersama Rasulullah”.
“Saat itu sedang musim kecelakaan pesawat. Hati jadi tidak menentu,
kepikiran bagaimana kalau pesawat yang saya tumpangi jatuh dan saya
mati, bagaimana nanti jadinya,” ujarnya mengenang.
Buku itu lalu ia beli dan ia bawa kembali saat pulang. Di rumah,
perasaannya semakin trenyuh karena mendapati ibunya sedang sakit
lantaran sebelah paru-parunya mengecil. Pikirannya makin lekat pada
kematian setelah seorang bibinya yang datang menjenguk membawakan
sebuah majalah keagamaan yang juga bicara kematian.
Rentetan peristiwa itu membuat Sakti merasa diingatkan Allah tentang kematian, 
hal yang dulu sama sekali tak pernah ia pikirkan.
“Kita semua akan mati. Masalah waktunya, kita tak pernah tahu,” ujarnya pelan.
Ia seperti tersadar bahwa amal di dunia sangat menentukan
kebahagiaan di akherat. Pikirannya semakin fokus pada kematian seteklah
dalam pengajian-pengajian yang ia ikuti ia memperoleh penngetahuan
betapa dahsyatnya kepedihan akherat, dan sebaliknya betapa indahnya
kebahagiaan disana.
“Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit
parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebaginya tidak ada
artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan
sekalipun, bagai setitik air di lautan. begitupun sebaliknya, jika
semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika
dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah,” ujarnya
serius.
hal itu menjadi motor dalam dirinya untuk terus belajar agama. Ia
juga mulai tahu bahwa amal itu tak hanya untuk diri, tapi juga untuk
orang lain. Karenanya, ia ingin seutuh mungkin masuk ke dalam agama
Allah yang rahmat ini, hingga seluruh bagian dirinya termasuk di
dalamnya. Sakti mengibaratkan itu seperti masuk kedalam mobil.
“Kan tidak mungkin tubuh kita sudah masuk mobil tapi kaki kita tertinggal.” 
ujar ayah Asyiah Az-Zahra ( 1 tahun ) dan suami Miftahul Jannah ( 23 tahun ) 
ini menegaskan.
Dengan segala kekuatan hati itu, bisa dimengerti mengapa Sakti
sampai mau melepaskan posisinya sebagai anggota Sheila on 7, posisi
yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Menjadi bisa dimengerti
pula mengapa Sakti sampai mau berkeliling dari masjid ke masjid untuk
berdakwah.
Keutuhan Islam itu yang kini ia kejar dengan segiat mungkin belajar
dan beribadah. Ia sempat belajar di beberapa pengajian dari berbagai
aliran Islam yang ada. Tapi hatinya kemudian merasa cocok dengan Jamaah
Tabligh/ kepergiannya ke Pakistan tahun 2006 lalu untuk belajar yang
ramai diberitakan media sebagai alasan ia keluar dari Sheila, ternyata
tak lain untuk mengejar keutuhan itu.
“Saya ke India, Pakistan dan Baghdad, disana saya melihat bagaimana
agama dijalankan dengan sebenar-benarnya. Dari situ saya tahu ada hak
tetangga dalam diri kita, ada ajaran kasih sayang pada sesama.” ujarnya
sambil menceritakan bagaimana ia bertemu dengan muslim dari segala
bangsa disana.
Sakti sempat ditanya seorang ustadz saat di Pakistan. bagaimana
perasaannya jika melihat orang dekat,keluarga, dan lain sebagainya jauh
dari agama Allah? bagimana rasa kasih sayang itu harus diwujudkan dalam
konteks ini? bagimana rahmat bagi seluruh alam yang menjadi merk agama
ini dapat kamu perankan. Bagaimana perasaan cinta Nabi kepada Allah
yang ditransfer kepada umatnya dapat pula ditransfer kepada orang di
sekeliling kita? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kesan tersendiri di
hatinya untuk semakin kukuh di jalan ibadah dan dakwah.
Jalan Menuju Kekasih Allah
Hubungan karib dengan teman dan para penggemar membuat dua pihak
inilah yang paling dulu mengerti dengan jalan hidup yang ditempuh Sakti
sekarang. Sementara pihak keluarga sebelumnya agak sulit mengerti, tapi
kemudian bisa memaklumi. Dari penggemarnya, Sakti bahkan menerima
buku-buku agama yang dikirim khusus untuknya.
Sampai saat ini, Sakti mengaku masih sering bersilaturahmi dengan
teman-temannya di Sheila. Di milis Sheila gank milik para penggemar
Sheila, nama Sakti juga masih sering disebut. Sekalipun frekuensi
pertemuan sudah mulai berkurang, Sakti mengaku masih saling berpaut
hati dengan teman-temannya yang sama sama merintis karier dari
Yogyakarta itu.
“Dalam doa, saya selalu menyebut teman-teman agar mereka bisa di dekatkan 
dengan Allah,” ujarnya.
beberapa kali Sakti tercatat menjadi bintang tamu konser Sheila. Dua
diantaranya saat konser di sebuah stasiun swasta dan konser 1000 Gitar
yang diadakan di Yogyakarta tahun lalu. Acara yang melibatkan beberapa
gitaris ternama tanah air itu antara lain Ian Antono ( God Bless ) ,
Eet Sjahranie ( Edane ) dan Teguh ( Coconut Treez ) itu, turut
dimeriahkan Sakti yang menjadi tamu misterius berduet dengan Erros
membawakan lagu Little Wings milik Jimi Hendrix. Sakti tampil dengan
menggunakan baju muslim yang sudah jadi pakaiannya sehari-hari.
Dengan seorang temannya, Sakti kini tengah menggarap sebuah album
religi yang ia harapkan dapat dirilis Ramadhan tahun ini. Misinya
mengeluarkan album kali ini dengan mantap, ia sebut sebagai wujud
ibadahnya kepada Sang Rabb.
“Materi sedang disiapkan yang isinya tentang pengalaman dan
penyampaian saya tentang keberislaman,” ujarnya seraya berharap album
itu bisa jadi asbab hidayah bagi yang mendengarkan.
lalu seberapa bahagia Sakti sekarang ? Ia hanya tersenyum seraya
mengucap tahmid. Menurutnya, mengutip perkataan seorang ulama yang
pernah didengarnya, semakin kita mengenal makhluk semakin kita mengenal
allah semakin kita tahu kesempurnaan-Nyadan siapa saja yang semakin
tahu kesempurnaan Allah ia akan tenang dan bahagia.
“Dulu saya tak tahu dimana harus bersandar bila ada masalah, saya
juga tak tahu apa sebenarnya tujuan hidup ini. Tapi setelah diberi
kesempatan semakin mengenal Allah, kita sadar bahwa Dia Maha pengasih,
Maha Penyayang semua makhluk, Maha penjawab setiap doa, kita jadi tahu
bahwa Dialah tempat bersandar yang paling tepat”, ujarnya pasti.
Dalam hidup, menurutnya manusia mengejar rasa. Ketika seseorang
ingin punya mobil, kemudian mendapatkannya, ia pun ingin merasakan merk
mobil yang lain. Begitu pula dalam hal-hal lain. Tapi jika rasa itu
diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, maka ketenangan dan
kejernihanlah yang diraihnya.
“itu kata teman saya, ibarat antena bagi televisi. Bila kita benar
mengarahkan antena ke satelit, maka siaran akan jernih dan sebaliknya.
Jika arahnya tak benar maka gambar akan buram. Seperti itu juga kita,
apapun kegiatan kita, jika itu sepenuhnya mengarah kepada Allah maka
hati kita akan jernih, dan jika sudah berpaling maka hati akan menjadi
kotor,” ujarnya lagi.
bagi Sakti, ketenangan itu adalah fitrah yang dicari semua orang di
dunia. Tak ada jalan lain meraih itu selain mendekatkan diri kepada
Allah, karena Dialah sumber kebahagiaan. Dan pendekatan itu harus
dibuktikan dengan amal, harus dicicipi oleh pribadi-pribadi yang memang
menginginkan itu.
Untuk menghidupi keluarganya, Sakti membuka sebuah minimarket dan
jasa Laundry. baginya itu sudah cukup, sekalipun jika dibandingkan
dengan uang yang ia peroleh semasa  menjadi artis tentulah tak
seberapa. Jalan hidupnya saat ini adalah sebuah ketentuan-Nya yang
ingin selalu istiqomah ia jalani.
“Selalu akan ada ujian dan friksi, tapi bagi saya itu adalah jalan
agar saya selali istiqomah. Ini barangkali sudah takdir. Jika dulu saya
sering pegang gitar sekarang jadi sering pegang tasbih,” ujarnya sambil
tersenyum.
Tak ada harapan di hatinya selain bisa terus lebih dekat dengan-Nya
dan semakin tahu apa yang Allah kehendaki atas hidupnya. Harapan yang
juga pernah dipesankan oleh seorang penggemar kepadanya, ” Semoga Mas
Sakti jadi kekasih Allah….”, Amin ya Robbal Alamien.
Sumber : Majalah Hidayah Edisi 85 September 2008
Written by redaksi · Filed Under Tamu Kita 
Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.
Qur'an Online  
 
 
 Gadgetspowered by Google 
Ajang Sapa Pembaca
        * Text Links
        * One Way Links
        * Buy Link
Katagori Berita
        * Alam Ghaib 
        * Annisa 
        * Editorial 
        * Iktibar 
        * Jendela Islam 
        * Keluarga Sakinah 
        * Potret 
        * Profil Da'i 
        * Setetes Hidayah 
        * Sunah Nabi 
        * Tamu Kita 
Arsip
        * September 2008
Spam Block
0 spam comments
blocked by
Akismet
Situs Relasi
Komentar Terakhir
        * redaksi: testing...
        * Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log 
in...
Member Area
        * Register
        * Log in
        * XHTML
Copyright © 2008 Hidayahku.com - Setetes Hidayah Sebagai  Intisari Islam · 
Hidayahku.Com by Uyung.Inc · Log in  


      

Kirim email ke