Assalamualikum, Sekali lagi mengenai sosok Gito Rollies dalam kerja 
dakwahnya.Wassalam,
M.K.Roziin


Gito Rollies Wafat, Tinggalkan Semangat Dakwa
Oleh: Dedy Rahmat 

Luar biasa memang sosok Gito,
penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita
sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura),
tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia
tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.

Gito Rollies   
 E-mail ke 
 
 Print 
 
 Terpopuler 
 
 Versi PDF 
 
 Versi XML 
 
 Versi Teks 
  
ALLAHMAHA BESAR, demikian kira-kira satu
ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia, Gito
Rollies yang kembali ke rahmatullah pada Kamis (28/02), sekitar pukul 18.45 
WIB, di Rumah Sakit Pondok
Indah Jakarta Selatan. Tokoh yang bernama lengkap
H. Bangun Sugito Tukiman ini wafat dalam usia 61 tahun (lahir di Biak, Papua, 1 
November 1947. Wafat di Jakarta, 28
Februari 2008).
Betapa tidak, mantan rocker yang semasa hidup pernah
terjerembab dalam dunia narkotik selama puluhan tahun ini, mendapatkan hidayah
yang luar biasa dari Allah Swt, ketika pada tahun 1997, ia memutuskan hijrah
menuju kehidupan Islami (dengan segala hormat, penulis tidak bermaksud membuka
aib sang tokoh. Namun, penulis berharap, informasi ini akan menjadi hidayah
bagi seluruh umat, yang mungkin pernah mengalami hal yang sama, atau saat ini
belum menemukan jalan Allah. Dan mudah-mudahan informasi ini menjadi sebab
mengalirnya pahala yang berlipat ganda bagi almarhum. Amin).
Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat
dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan
dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat
yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu.
Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”.
Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang 
“compang-camping” ala rocker, berubah
menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan
celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya
umat Islam.
Tidak ada yang tidak
mungkin selain mengecat langit!Demikian kira-kira
perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito 
Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997
ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun (pekerja dakwah yang rela 
mengorbankan harta dan kehidupan dunia
semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentan waktu 1997-Februari
2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk
menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid
lainnya.
''Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang
pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam.
Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama
rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan
memberikan hidayah kepada saya,'' ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia
ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari 
suaramerdeka.com. Berita Edisi
17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah[pergi ke luar
(rumah/kampung halaman)], semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman
dan
ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito
sebagai jalan
hidup. Seorang, artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional
mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus
membahagiakan, “Gito
dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung
sebagai
seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang
ia ingin
mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,”
ungkapnya
dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa
keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito
meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan
dakwah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada
wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito
Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah
berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang
diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas,
kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia
bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya.
Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke
mesjid.
Lintasan
singkat pengalaman rohani Gito Rollies, tokoh  juga besar di Kota
Bandung ini (ia sempat tercatat sebagai mahasiswa Seni Rupa ITB),
mudah-mudahan menjadi
hidayah bagi kita semua, untuk senantiasa berupaya menjalankan hidup
semata-mata untuk kemaslahatan umat dan mencapai surga kelak. Selamat
jalan
Kang Gito, mudah-mudahan perjuangan syiar Islam-mu senantiasa harum di
mata
umat dan dijadikan teladan serta motivator tegaknya iman dan takwa.
Allahu
Akbar!
Penulis adalah Redaktur
Pelaksana Media Massa Online www.pelitanews.com
Tinggal di Bandung.
Hp. 08157149718. E-mail [EMAIL PROTECTED]


      

Kirim email ke