Assalamualaikum,
Salah satu target dakwah pada saat khuruj fi sabilillah adalah membimbing para 
mualaf (orang yang baru masuk Islam) biasanya selama 40 hari atau 4 bulan dan 
dilanjutkan dg program 3 hari setiap bulannya seperti yang dialami Bp. 
Dominikus di bawah ini.

Wassalam,
Abu Izza

http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-a-to-z/199

Dominikus Doni (Dahlan Daud) : Terpikat Suara Azan di Radio


   
Thursday, 10 November 2005 15:00  
Menilik nama saya, pembaca tentu mafhum latar
belakang keluarga dan lingkungan yang membesarkan saya. Ya, saya memang
lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat yang mayoritas memeluk
agama Kristen Katolik. Kedua orang tua saya sangat ketat memelihara dan
mengamalkan ajaran Katolik. Tak heran, jika akhirnya saya disekolahkan
di Sekolah Rakyat (sekarang SD) Katolik Aliur Oba, Flores Timur, lulus
tahun 1952. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik
Pertukangan di Larantuka, Flores Timur, hingga tamat tahun 1958.
Karena ayah saya seorang aktivis gereja, saya pun
direkrut oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Katolik untuk
melaksanakan program-program bantuan sosial kepada masyarakat pedesaan.
Sebagai seorang ahli pertukangan, saya ditugaskan untuk memberikan
bimbingan dan penyuluhan yang berkaitan dengan teknotogi tepat guna,
yang memang sangat dibutuhkan warga desa.

Karena tugas-tugas
itu, saya bergaul akrab dengan warga desa. Mereka sangat berterima
kasih dengan kehadiran saya. Sehingga ketika diadakan pemilihan kepala
desa (pilkades), saya secara aklamasi dipilih menjadi Kepala Desa
Meluwiting. Karena dianggap cukup berprestasi, jabatan kepala desa itu
saya jabat selama tiga periode.

Sering Mendengar Suara Azan

Sebagai kepala desa, tentu saya dituntut untuk menyerap sebanyak
mungkin informasi, khususnya informasi pembangunan guna
disosialisasikan kepada warga desa. Salah satu sumber informasi yang
paling Bering saya serap adalah melalui siaran RRI (Radio Republik
Indonesia).

Karena itu pula saya jadi sering mendengar
lantunan suara azan yang dikumandangkan RRI lima kali dalam sehari.
Lama-lama saya tahu kalau itu panggilan atau seruan untuk mengingatkan
kaum muslimin agar mereka segera menunaikan shalat.

Selain
suara azan, melalui RRI pula saya jadi terbiasa mendengar alunan ayat
ayat suci Al-Qur`an yang dikuman dangkan menjelang masuk waktu shalat.
Baik suara azan maupun alunan ayat suci Al-Qur'an telah menggugah
kesadaran saya yang paling dalam untuk mencari kebenaran yang hakiki
(sejati).

Saya pun mulai mencoba mempelajari kitab suci umat
Islam itu. Melalui terjemahan yang diterbitkan Departemen Agama RI,
saya jadi bertambah yakin bahwa Al-Qur'an itu memang kitab suci. Selain
masih terjaga dari segi bahasa-hanya menggunakan bahasa Arab-juga
konsisten dalam kandungan isinya.

Berbeda dengan kitab suci
umat Kristen (Alkitab) yang terbagi empat: Matius, Markus, Yohanes,
Lukas. Keempat kitab suci itu isinya tak jarang saling bertolak
belakang. Apalagi redaksi bahasanya. Hal ini sempat membuat saya ragu
akan kebenarannya. Saya mulai meragukan Alkitab sebagai wahyu Allah.

Apalagi selama bertugas di Larantuka saya pernah menemukan Al-Qur'an
disembunyikan di dalam kamar seorang pendeta. Untuk apa pendeta
menyembunyikan Al-Qur'an? Mungkin ia ingin mempelajari Al-Qur'an Itu
membuktikan Al-Qur'an memang wahyu Allah.

Hal-hal tersebut
semakin mendorong tekad saya untuk mempelajari Islam lebih serius.
Setelah itu, saya mulai tekun membaca buku-buku tentang Islam, di
samping banyak bertanya dan berdiskusi denganpara tokoh Islam.
Alhamdulillah, pada tahun 1972, saya resmi mengucapkan ikrar dua
kalimat syahadat.

Tantangan

Setelah
menjadi seorang muslim, saya menemui banyak tantangan. Antara lain,
saya diberhentikan dari jabatan sebagai Kepala Desa Meluwiting. Bahkan,
saya difitnah menggelapkan kas desa sehingga membuat saya harus
berurusan dengan pihak kepolisian. Tapi, semua ujian dan cobaan itu
saya hadapi dengan sabar.

Alhamdulillah, saat ini saya aktif
mengikuti Jamaah Tabligh, Saya juga sering mengikuti perjalanan dakwah
(khuruj fii sabilillah) ke berbagai kota di Indonesia. Kini, saya hidup
bahagia bersama dua orang istri dan sembilan orang anak. Delapan orang
anak saya sudah masuk Islam. Tinggal seorang lagi yang masih beragama
Katolik.

Dalam kesempatan ini pula, saya ingin mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Haji Panity sebagai pimpinan rombongan Jamaah
Tabligh Jakarta untuk kawasan Flores Timur yang telah membimbing kami
untuk memperbaiki diri dan memperdalam iman dan Islam selama 40 hari di
Jakarta. Semoga aural ibadah Bapak Haji Panity dan kawan-kawan mendapat
ridha Allah SWT. 



      

Kirim email ke