Kisah nyata yang sangat menyentuh...
Tapi perlu diwaspadai bahwa kita beribadah bukan karena "pamrih" ingin 
mendapatkan harta duniawi, tapi memang karena kita diwajibkan oleh Allah. Bukan 
juga karena takut neraka, tapi memang karena kita diperintah oleh Allah. 
Saat ini juga banyak orang yang menggunakan hukum kekekalan energi, dimana 
energi tidak bisa dihilangkan, hanya berubah bentuk, yang artinya jika kita 
berbuat baik kepada orang lain, maka perbuatan baik itu akan kembali ke kita 
dalam bentuk yang lain. Ini juga "pamrih", karena perbuatan itu dilakukan 
karena niat supaya orang berbuat baik juga ke kita. Akibatnya, jika ternyata 
yang terjadi berlawanan, kita akan marah dan menyesal......, kita berbuat baik, 
karena diperintahkan oleh Allah.
Lana's

--- On Wed, 11/26/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Ar-Royyan-8381] (UST. YUSUF MANSYUR) = Fw: Banyak yang mau berubah, 
tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya?
To: [email protected]
Date: Wednesday, November 26, 2008, 7:10 AM

                                                                           
             Karina                                                        
             Amalia/Asia                                                   
             Division/Manulife                                          To 
                                                                           
             11/26/2008 10:47                                           cc 
             AM                                                            
                                                                   Subject 
                                       Banyak yang mau berubah, tapi       
                                       memilih jalan mundur. Andakah       
                                       orangnya?                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           
                                                                           









SEMOGA BERMANFAAT

Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya?

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat
terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi.

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat
terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya:
"Nanti di depan ke kiri ya".
"Masih banyak, Pak Ustadz".

Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya
pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.

"PakUstadz!". Dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya
menghentikan
langkah. Menunggu beliau.
"Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya
melihat di TV saja…".
Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.

"Saya ke toilet dulu ya".
"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"
"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"
"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".

Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya.
Lagi
enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis.
Eh nemu pom bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya
kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi"
dakwah
hari ini. Bukannya jadwal dakwah yang setelah ini. Begitu pikir saya.
Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet
ya".

***

"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya
membuka percakapan.
Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini.
Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi
fasilitas ngopi-ngopi ringan.

"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"
"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu.
Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya" .
"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah.
Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga
mau mendekat.
Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.

"Udah shalat ashar?"
"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya
ga?
Ya saya pikir sama saja".
"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga
ibadah?"
Sekuriti itu senyum aja.

Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu
bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah,
tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doang. Lagian, kalo nganggap
kerjaan-kerjaan kita ibadah,
apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai
ibadah.

Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap
nomor satu.
Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan
adalah ibadah.
Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus
malah.. Bukan hanya boleh.
Tapi kemudian kita menerima tamu sementara panggilan Allah datang. Artinya
kita menerima tamu pas waktu shalat datang,
dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian
masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah?
Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih
sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita.
Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.

"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam
5
nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.
"Ya, kurang lebih dah".

Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang
'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu, lebih tepatnya di awal waktu.
Tidak dapat dikatakan memberi perhatian yang sama kepada Yang Memberi Rizki
bila shalatnya tidak tepat waktu.
Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.

Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan
jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah.
Maka lalu saya ingatkan sekuriti itu, yang tiba2 entahlah saya merasa "he
is the man" yang Allah sedang berkenan mengubahnya
dengan mempertemukan dia dengan saya, mungkin..

"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk
mengejar
ketertinggalan dunia saja, jauh tuh.
Butuh perjalanan satu setengah jam karena ashar sekarang, jam tiga kurang
dikit."

"Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian
dikalikan
sejak akil baligh (sejak diwajibkan shalat) kita telat terus, maka berapa
jarak ketertinggalan kita tuh? 5 kali satu setengah jam, lalu dikali sekian
hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian
tahun kita telat. Itu baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau
kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh
shalat? Wuah, makin jauh saja
kita dari bahagia yang benar-benar bahagia".

Saudara-saudaraku, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan
sekuriti ini paham apa yang saya omongin.
Dari raut mukanya, nampaknya ia paham, walau saya tidak tahu pasti.
Saya katakan pada dia.

Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan
seangkatannya mah udah di mana, eh dia masih seperti diam di tempat.
Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang
satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa
jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.

Dan saya mengingatkan kepada saudara-saudara untuk tidak menggunakan mata
telanjang untuk mengukur,
kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat, lalu hidupnya seperti
penuh berkah tanpa terlihat banyak masalah?
Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu
hidupnya susah.

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi
bisa diurai satu satu
dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat
dengan fakta.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya,
"Terus, ente mau berubah ga?"
"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga
serius?"
"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".
"Ngebut gimana?"

"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya.
Pantangan telat.
Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe
keduluan Allah".

Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di
atas sajadah.
Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki.

Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan aneh..
Orang-orang pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki.
Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya
menjadikan seseorang bekerja,
malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah.

Nemuin klien, rapi, wangi, dan persiapannya masya Allah, mantep dah
pokoknya.
Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit pakaiannya, udh gitu ga ada persiapan,
dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya.
Ini namanya ga kenal sama Allah.

Saya teruskan.
"Yang kedua, keluarin sedekahnya".

Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa.
"Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis
belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa
dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan".
"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"
"Satu koma tujuh, Pak ustadz".
"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang
sering sebut sebagai orang kecil, gaji sgitu udah gede".
"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini
bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".
"Itu gaji bisa gede bgitu, emang udah lama kerjanya?"
"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama
kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".
"Koq bisa?"
"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu
sampe
ketemu angka 1,7jt".
"Terus, kenapa masih kurang?"
"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".
"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor.. Ngapain juga
ente
kredit motor? Kan ga perlu?"
"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".
"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, kok motornya?? Bukan
ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Ya repot".

Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.
Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin
kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan
listrik.
Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.

"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"
"Mau Ustadz. Saya benahin dah".
"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan
berdua.. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan semuanya
ngebenahin shalat".
"Siap ustadz".
"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".
"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".
"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".
"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya.
Tabungan
juga ga ada. Emas juga ga punya".

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia.
Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya
saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul..
Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya
lain soal itu mah.
Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti,
"Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, ga tanggung2 sedekahnya
bisa yang besar, situ mau percaya?".

Si sekuriti mengangguk.
"Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?" .
Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan jalanin,"
katanya,
manteb.
"Gajian bulan depan masih ada ga?"
"Masih. Kan belum bisa diambil?"
"Bisa. Dicoba dulu".
"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"
"Yakin ga sama Allah?"
"Yakin".
"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi
usahakan semaksimal mungkin yg dia dpt sedekahkan.
Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa.
Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya.
Trmasuk dia akan polin shalat dan taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha
dan tahajjudnya.
Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur'an.
Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah.
Shalat Jum'at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan
itu
dia aminin.
Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya
menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan
posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana.
Tapi ya begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting
kerja dan ada gajinya.

Bagi saya sendiri, ga masalah punya banyak keinginan. Asal keinginan itu
keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar.
Dan gapapa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita.
Asal apa? Asal kita barengin dengan peningkatan ibadah kita.
Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir.
Ancem aja diri sendiri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya.
Jangan malah berleha-leha. yang pd akhirnya hidup kemakan dengan tingginya
harga,. Ga kebagian.

***
(Sekuriti tersebut menghubungi saya kemudian hari dan bercerita)

Sekuriti ini maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia
nyengir ga jawab.
Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya.

"Mana bisa?" kata komandannya.
"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya
berani".

Komandannya terus mengejar, buat apa?
Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya
dengan saya.
Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama
ownernya ini pom bensin...
Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos
cepet.

Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui.
Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya Pak",
begitu
kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini.
Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah
pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya.
Termasuk dinanti oleh bos nya.

"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah
pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah
bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul
shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah
sunnahnya.
Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah
dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini.
Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya..
Malah tambah cerah muka nya.

Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia
tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan
kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan
catatan dia berhasil dulu.

Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini.
Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah
tidak akan tinggal diam.
Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti.
Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya
iman.
Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan
mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan
mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihat aja entar. Kalo dia ga
kasbon lagi, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon lagi, maka
kelihatannya dia
gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka,
kalau kemudian kasbon lagi. Percuma".

Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.

Berhasil kah?

Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak
kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor.
Bukandari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan
yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.

"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan
gajian.Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo
ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda.
Tapi kemudian cerita si sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.
Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia
sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya
di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban.
Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya.. Padahal dirinya
ga trlibat secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan
penjual.
Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan
lebih. Dia sedekah 1,7jt gajinya.
Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5
jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum
selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan.

Kata si sekuriti, sadar segitu dahsyatnya, akhirnya dia malu sama Allah.
Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual!
Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin
satu-satunya ibunya yang masih hidup untuk naik haji.
Subhaanallaah kan? Itu jual motor, tapi masi kurang. Sebab itu motor dijual
cepat harganya ga nyampe 13 juta.
Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga
ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta
lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia
aman. Ga perlu kasbon. Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin
semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang
keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.

Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga.
Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai
sarjana S1 Akuntansi.
Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan staff
keuangan di sana.
Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.

Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang
Keajaiban Sedekah dan Shalat saja.
Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah, Tuhannya.
Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu
berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan.
Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah.
Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini.
Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan
hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah.

Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar
sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini?
Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti
jejak suksesnya si sekuriti ini.
Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja.
Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.
Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.


Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada anda yang membaca tulisan
ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah?
Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya?
Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya?
Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan
testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda.
Di antara anda saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami
keajaiban-keajaiban dalam hidup ini.
Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih menceritakan
ini kepada satu dua orang saja,
dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka
untuk dicontoh.
Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat
seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.


Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini
menginspirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah
ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak,
sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah
dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal
saleh.

Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat
keluarga dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua.
Terima kasih banyakatas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah
membalas amal baik saudara semua.
(UST. YUSUF MANSYUR)




      

Kirim email ke