----- Pesan Diteruskan ----
Dari: adenopang <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Kamis, 27 November, 2008 08:55:23
Topik: halal Indahnya Kegagalan

Suatu hari saat kuliah dulu, saya dan teman-teman hiking ke salah satu
gunung tertinggi di Jawa barat. Karena kondisi jalan yang licin akibat
baru terguyur hujan, beberapa kali saya terpeleset, terjatuh hingga
badan berlumuran Lumpur. Cuaca yang dingin berkabut, ditambah lagi
kambuhnya rasa nyeri di kaki akibat terjatuh dari motor setahun
sebelumnya, membuat perjalanan tersebut kian berat kurasakan. Belum
lagi rasa letih dan pegal akibat membawa ransel yang membebani
punggungku, semuanya semakin menambah berat perjalananku.
Tanpa terasa, puncak gunung terlihat sudah di depan mata, kami pun
berteriak kegirangan, dan dengan penuh semangat kami percepat langkah
kami .Tapi ternyata, sudah lebih dari lima belas menit kami berjalan,
kami masih belum mencapainya, ternyata puncak tidak sedekat yang kami
kira.Dengan langkah gontai penuh kecewa, saya paksakan kaki ini untuk
melangkah, kami saling menguatkan hati satu sama lain, dan terus
berjalan merangkak menuju puncak.
Akhirnya, sampailah kami pada puncak gunung itu dalam keadaan
bahagia dan luar biasa puas.Luar biasa Puas karena keindahan gunung
itu lebih dari apa yang kami bayangkan sebelumnya , dan kepuasan yang
lain adalah karena kami telah berhasil melewati berbagai rintangan dan
hambatan.andaikata satu kedipan mata sudah ada di puncak gunung
tersebut , barangkali nilai kepuasannya tidak sedahsyat ini, begitu
fikirku saat itu.
Hal tersebut mengajarkanku bahwa untuk mencapai puncak harapan, akan
selalu ada berbagai rintangan , keterplesetan, kekecewaan atau
keterjatuhan dalam konteks ini saya akan mengistilahkannya sebagai
kegagalan. Untuk itulah , agama seringkali mengajarkan kita untuk
sabar dalam menghadapi segala hambatan di hidup ini, atau sabar dalam
menerima dan kemudian melewati kegagalan demi kegagalan. Dan dalam
kesabaran, kita sesungguhnya sedang terhubung dengan energi Ilahi yang
tanpa batas sebagaimana firmanNya :
'Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.' (QS. 2:153/ 8:66)

Saat dipuncak kegagalan dalam keterbatasan kita, sesungguhnya , energi
Tertinggi yang Tak Terbatas senantiasa hadir di tengah -tengah kita
.Tentang hal ini, Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi berkomentar " Tuhan
menemukan kesempurnaaNya dalam keterbatasan kita." atau sebagaimana
sebuah hadist Qudsi yang mengatakan," Aku hadir dalam hati orang-orang
yang remuk." Artinya di setiap puncak kesulitan dan keterbatasan kita
Sumber Energi Tertinggi senantiasa hadir dan mencurahkan kuasaNya pada
kita, sebagaimana Musa as yang berada dalam puncak keterbatasannya
saat Fir`aun dan tentaranya kian mendekat sementara di hadapanNnya
tidak ada jalan lain kecuali lautan, saat itulah Sang Maha Terbatas
men"campur tangani" urusan Musa dengan membelahkan lautan untuk beliau
alaihissalaam. Saat itu, segala keterbatasan kita menjadi tak
terbatas, segala ketidakmungkinan kita menjadi MUNGKIN

Kegagalan merupakan anak tangga menuju sukses

Di balik manisnya kesuksesan selalu ada setumpuk kegagalan. Seorang
bayi, ketika belajar berbicara, harus melewati "kegagalan" dalam
mengucapkan huruf, kata, dan kalimat. Sebelum seorang anak bisa
berjalan, bahkan berlari, pasti mengalami jatuh berkali-kali.
Kegagalan juga dialami oleh para ilmuwan, Sebelum mereka berhasil
mempersembahkan penemuan yang gemilang, mereka banyak mengalami
kegagalan (puluhan, bahkan ratusan kegagalan) dalam percobaan dan
riset yang mereka lakukan.
Sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu yang berhasil
merevolusi kehidupan manusia, ia melakukan banyak kesalahan dan
mengalami ratusan percobaan yang gagal. Bahkan dari ratusan percobaan
tersebut, hanya satu yang berhasil membawa sukses: penemuan bola
lampu. Demikian juga dengan olahragawan, sebelum mereka berhasil
membukukan sukses, mereka juga harus melewati jalan yang sama: kegagalan.
Jack Canfield, Penulis buku best seller Chicken Soup for Soul pernah
mengalami penolakan sebanyak 36 kali dari berbagai penerbit sebelum
bukunya pada akhirnya diterbutkan, laku keras, dan sukses.
Hal yang sama juga dialami oleh para pebisnis sukses. Mereka bahkan
memasukkan kegagalan dalam rencana sukses mereka. Kegagalan mereka
antisipasi dalam perjalanan meraih sukses, sehingga mereka pun bisa
mempersiapkan diri dengan baik untuk melewati jalan yang penuh
kesulitan.Ketika jalan itu berhasil mereka lalui, mereka mengambil
pelajarannya dan terus melaju meraih yang mereka cita-citakan.

Belajar dari Siti Hajar

Barangkali kita ingat sejarah Siti Hajar as, sang guru besar teladan
kepasrahan, kesabaran, ketaatan tanpa mengeluh, perjuangan dan cinta
suci.Pada masa lalu, Siti Hajar bersama bayinya Ismail yang masih
merah ditinggalkan Ibrahim as kepala rumah tangga mereka di tanah
tandus tak berpenghuni. Saat Ibrahim sang suami meninggalkannya,
bertanyalah Siti Hajar," Wahai suamiku, mengapa engkau tinggalkan
kami." Ibrahim terdiam , menangis tanpa sanggup berkata apa-apa,
kecuali menunduk sambil bergegas meninggalkan isteri dan buah hatinya
tersebut.Untuk keduakalinya Hajar bertanya lagi," Wahai suamiku
mengapa engkau tinggalkan kami." Lagi-lagi Ibrahim tidak menjawab
kecuali menunduk haru sambil bergegas pergi.Dengan kesabarannya, Hajar
bertanya lantang pada suaminya Ibrahim yang kian jauh dari
pandangan,"Wahai suamiku, apakah ini perintah Allah?" .Suaminya
mengangguk sambil menjauh dari pandangan, meninggalkan Siti hajar
bersama Ismail kecil di tengah padang gersang menyendiri.
Sang bayi Ismail pun menangis keras , Hajar berusaha menyusuinya,
namun malang air susunya tak keluar setetes pun.Saat tangis sang bayi
kian keras, hajar bangkit , tanpa mengeluh ia berusaha bergerak
berlarian ke sana kemari mencari seteguk air bagi anaknya.Hal ini
mengingatkan kita pada perjuangan ibu kita, dan ayah kita yang telah
membesar kita dengan susah payah, karena keringat merekalah kita
tumbuh seperti ini.Kita kembali ke kisah tadi, akhirnya sampailah Siti
Hajar di bukit Shofa yang dari jauh terlihat seperti ada air ternyata
kering tak ada air setetes pun.Di Shafa ini Siti Hajar berdiri dan
melihat air di Marwah bukit batu yang satunya, dengan semangat
bergegaslah hajar ke Marwah untuk mendapatkan air bagi anaknya, dan
lagi-lagi hanya bukit batu keringlah yang ia dapat, tak ada air
setetes pun.Di Marwah kembali ia berdiri dan terlihat ada air di bukit
Shofa, kembali ia berlari ke bukit Shofa dan lagi-lagi hanya batuan
kering yang ia dapatkan, tak ada setetes air pun yang didapat,
begitulah hingga tujuh balikan ia berlarian dari shofa kemarwah, dan
dari marwah ke shofa yang panas dan tandus.Saat harapan seolah tada
lagi, rasa letih dan haus telah sampai pada puncaknya, tiba-tiba saat
memohon ampunan dan rahmat dari Tuhannya, Hajar merasakan basah pada
telapak kakinya, diangkatlah kedua kakinya dari tempat tersebut yang
bergemuruh, Maha besar Tuhan, air memancar dari tempat ia berdiri,
serta merta ia membuat kubangan air dengan kedua tangannya sambil
berkata "zam………zam… Zam." Atau "berkumpulah , berkumpulah…" .Ya,
itulah awal mula munculnya mata air zam-zam, mata air cinta yang tidak
pernah mengering.

Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita bahwa sebelum Hajar
memperoleh "Zam-zamnya" yang tidak pernah mengering, ia harus
melintasi perjalanan bulak-balik shofa marwah dalam rangka mencarikan
air baginya dan anaknya yang ternyata tidak ditemukannya di kedua
bukit tersebut.Sebagaiman a sabarnya Hajar melintasi "shofa marwah"
kegagalannya, kita pun harus pula sabar melintasi "shafa marwah"
kegagalan kita sendiri sebelum akhirnya pertolongan Tuhan hadir
ditengah-tengah kita.Andaikata Siti hajar saat itu menyerah belum
sampai 7 balikan misalnya baru enam kali bulak-balik shofa marwah ia
berhenti dan pulang mengejar Ibrahim, barangkali tidak pernah ada zam-zam.

Demikian pula dengan Thomas Alpha Edison yang pada akhirnya berhasil
menciptakan sebuah bola lampu dari seribu kali kegagalan sebelumnya,
andaikata saat baru puluhan atau ratusan kali gagal ia menyerah,
barangkali saat ini tidak akan ada lampu, atau barangkali kita tidak
akan mendengar nama Thomas Alpha Edison sebagai penemu lampu.

Maka demikian halnya dengan kita, bila kita menyerah ditengah jalan
begitu saja, barangkali kita tidak akan menemukan kesuksesan kita, dan
dipecundangi oleh sesuatu yang kita kita mnyebutnya sebagai "kegagalan"

Belajar sabar dari Nabi Muhammad
"… yaitu Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka…" (QS
Al-Hajj, 22: 35)
Kita tahu, secara historis bahwa kemenangan atau kesuksesan spiritual
Arrosul yaitu Israk Mikraj (tahun ke-10 kenabian) dan awal kesuksesan
politis-sosiologis beliau yaitu berdirinya Negara –masyarakat Madinah
didahului sebuah tragedi penting: yaitu Tahun Duka Cita .Pada tahun
ini sirah mencatat tentang mangkatnya Khadijah (isteri Nabi) pendukung
ekonomi perjuangan Nabi dan dan berturut-turut pada tahun yang sama
Abi Thalib (paman) yang mendukung perjuangan beliau secara politis
wafat. Hilangnya kedua figur yang sedari awal menjadi tulang punggung
dakwah itu memiliki implikasi besar bagi suasana psikis nabi. Sejalan
dengan itu, kaum Quraisy gencar meningkatkan tekanan-tekanan psikis,
ekonomis, dan politis mereka atas nabi dan pengikut-pengikut awalnya.
Pahitnya boikot terhadap kebutuhan pangan dan komunikasi, dirasakan
nabi dan para sahabat selama kurang lebih dua tahun.Pada tahun yang
sama, para Muhajirin , yakni para pengikut Nabi yang hijrah ke
Ethiopia yang dipimpin oleh ja`far sepupu Nabi diusir.
Hadist Riwayat Ahlul bait (Keluarga Nabi) menggambarkan betapa berat
tekanan psikis yang ditanggung Nabi saat itu terlihat dalam doa yang
beliau panjatkan yang dikenal dengan Doa Thoif :
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahan ku,
ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha
Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah
dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan
diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau
kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal itu tidak
aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu
bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi
segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku
berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon rida-Mu. Karena tidak
ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu. "(1)
Pada tahun –tahun penuh kesulitan tersebut , justeru ayat-ayat yang
berisi janji -janji Allah berupa kemenangan yang dekat turun silih
berganti untuk menguatkan hati arrosul, dan benarlah demikian,
skenario Allah berjalan. Nabi diberikan kemenangan spiritual berupa
diperjalankan (isra') dan dinaikkan (mi'raj) menuju ke
haribaan-Nya. Beberapa tahun setelahnya, kemenangan demi kemenangan
dating silih berganti, mulai dari keberhasilan hijrah beliau ke
Yatsrib yang kemudian menjadi sebuah tatanan masyarakat Madani yang
bernama Madinah, dan seterusnya hingga Fuuttuh Makkah.
Maka demikianlah, bahwa kegagalan dalam wujud kesedihan, kejatuhan,
keterpurukan , kekecewaan dan yang lainnya adalah merupakan langkah
awal dari sebuah kesuksesan, tinggal apakah hati kita cukup lega ,
atau lapang untuk menerimanya. Bila ya, siap-siaplah untuk meraih
kesuksesan, akan tetapi bila tidak, siap-siaplah untuk menghadapi
kegagalan-demi kegagalan berikutnya hingga seterusnya,

Oleh : Akbar Kuspriadi, Grand Master Reiki Neo Sufi
Founder Aktivasi Hati
(Konsep yang terkandung dalam Artikel ini adalah sebagian kecil
kematerian yang akan disampaikan pada pelatihan Aktivasi hati)

Fall in love? How does it feel?



------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke