Semoga Bermanfaat.
Untuk-Nya Cukup Sisa Waktu
oleh Galih Ari Permana
Entah untuk yang ke berapa kali pagi itu shalat subuh si Fulan tertinggal
untuk berjamaah. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi dan pada jam
segitu masjid sudah barang tentu kosong dari jemaah. Kemudian dengan
mata yang masih sepet Fulan beranjak untuk mengambil air wudhu dan
dilanjutkan dengan shalat subuh secara munfarid. Saking seringnya tidak ada
perasaan sesal yang singgah di benak Fulan ini. Seolah hal yang wajar
apabila
shalat subuh dikerjakan pukul 05.30 pagi. Bukan hanya itu, sebagai orang
yang tinggal di kota yang padat dengan aktivitas mengharuskan untuk selalu
berburu dengan waktu. Otomatis selepas shalat subuh sendirian tidak bisa
melakukan dzikir pagi karena harus segera merapikan diri untuk berangkat
kerja, apalagi baca quran, satu ayat pun tidak akan keburu.
Tapi entah kenapa untuk masalah pekerjaan Fulan selalu berusaha untuk
tepat waktu masuk kantor. Jam masuk kantornya adalah jam delapan pagi
dan Fulan sering sampai disana sebelum jam delapan. Setiap pergi ke kantor
Fulan selalu berusaha untuk tampil rapi dan wangi dan hal ini sangat
bertolak belakang dengan aktivitasnya ketika bangun tidur. Aktivitas shalat
subuh Fulan cukup dengan menggunakan pakaian tidur, tanpa gosok gigi,
apalagi wangi-wangian. Intinya yang penting kewajiban sudah gugur.Sebagai
seorang karyawan Fulan selalu mendedikasikan dan mengerjakan segala tanggung
jawabknya dengan sungguh-sungguh dan senang hati. Hal ini diperlukan agar
kinerjanya baik yang akan berakibat bagusnya karir di kemudian hari. Karir
bagus akan berbanding lurus dengan penghasilan tentunya. Boleh di bilang
Fulan ini seorang yang perfectionist. Apabila terjadi suatu kesalahan, Fulan
akan dengan segera menelusuri akar penyebab masalahnya dan mencari solusi
terbaik sehingga masalah ini tidak muncul lagi.
Pada jam istirahat, selepas makan siang, biasanya Fulan asyik ngobrol
dengan teman-teman kerjanya. Biasanya Fulan shalat Dzuhur lima menit
menjelang bel masuk berbunyi. Walhasil shalat dzuhur yang dikerjakannya
sangat minim waktunya. Dari mulai wudhu pun terlihat terburu-buru. Maka
selepas salam Fulan langsung kembali bekerja. Tidak ada dzikir ataupun
shalat ba'diyah dzuhur.
Gambaran di atas bisa jadi merupakan refleksi dari rutinitas harian
kita.
Di sadari atau tidak terkadang kita tidak adil dalam menyikapi urusan
dunia dan akhirat. Meski kita sering mengatakan bahwa dalam hidup ini
harus seimbang antara dunia dan akhirat kita. Tapi, tanyalah ke dalam
lubuk hati ini, benarkah perkataan itu? Benarkah kita sudah memposisikan
timbangan dunia dan timbangan akhirat pada posisi yang sama tinggi jika
takarannya harus seimbang?
Kalau boleh jujur kita lebih cenderung memperhatikan kepeluan dunia
kita. Dalam arti nilai-nilai agama jarang sekali dilibatkan dalam seluruh
aktivitas kita.
Dalam pekerjaan kita sering berusaha untuk datang tepat waktu. Jika
sekali saja terlambat maka keesokan harinya akan bangun dan berangkat lebih
awal agar tidak terlambat lagi. Tapi kita jarang sekali khawatir karena
telah
mengakhirkan shalat, bahkan kalau sedang asyik biasanya kita dengan
tenang meninggalkan kewajiban tersebut tanpa ada sesal yang singgah di hati.
Kita selalu berpenampilan rapi, harum dan segar setiap pergi ke kantor.
Kita selalu memberikan penampilan terbaik dalam bekerja bahkan memakai
seragam sesuai peraturan perusahaan. Namun dalam sujud kepada Alloh kita
cukup memakai kaos oblong dan sarung seadanya. Bahkan hal yang wajar
memakai pakaian yang terlihat aurat dalam keseharian meski dalam aturan
Alloh kewajiban untuk menutupnya cukup jelas.
Agar mudah mendapatkan pekerjaan banyak dari kita sekolah sampai jenjang
yang tinggi. Latar belakang pendidikan akan mempengaruhi masa depan kita
nantinya, terutama dalam masalah jenjang karir. Lagi, sampai saat ini
kita masih belum mengetahui bagaimana cara wudhu yang baik sesuai dengan
petunjuk nabi. Artinya, bagaimana shalat kita diterima apabila kita keliru
dalam berwudhu. Ajaibnya hal itu tidaklah dianggap terlalu penting karena
tidak pernah ditanyakan dalam setiap interview di perusahaan Masih banyak
hal-hal lain dimana kita tidak adil dalam menempatkan antara dunia dan
akhirat. Padahal, seandainya kita mau sedikit mempelajari, apa yang kita
lakukan dalam 24 jam bisa bernilai ibadah. Namun untuk mempelajarinya badan
ini sudah terlampau letih oleh setumpuk pekerjaan.
Saking letihnya kita sering ketiduran untuk melaksanakan shalat isya.
Namun, meskipun badan ini letih terkadang kondisi badan bisa menjadi fit
kembali ketika ada panggilan dari atasan meskipun itu tiba-tiba.
Begitu pun pada hari libur di akhir pekan. Dengan alasan istirahat kita
menghabiskan waktu dengan tidur, nonton tv, shopping, ke bioskop, hang
out, dll. Sangat jarang dari kita untuk meluangkan waktu sesaat untuk
sekedar membaca satu ayat dari ribuan firman Alloh. Apalagi membaca satu
bab tata cara berwudhu. Bahkan meskipun tidak dalam kondisi bekerja kita
masih saja tidak dapat melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Tetapi
jika sang pacar meminta waktu untuk bertemu, kita akan dengan sigap
memenuhi permintaannya itu tanpa pikir panjang dan tepat waktu.Tidak salah
jika sesakali kita memanjakan diri dengan hiburan di tengah kesibukan
sehari-hari. Tapi apakah tidak ada waktu untuk sekedar bercakap-cakap dengan
Alloh meski dengan shalat di awal waktu? Atau sekedar membaca satu ayat saja
setiap minggunya?
Sebenarnya hukum untuk mendapatkan kebahagiaan dunia sama dengan
kebahagiaan akhirat. Kita akan mendapatkan kemapanan hidup apabila
memiliki bekal ilmu yang cukup dan bersungguh-sungguh bekerja. Tentunya
untuk mendapatkan ilmu tersebut kita memerlukan waktu untuk mempelajarinya
bahkan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Semua itu kita lakukan dan
jalani dengan kerelaan.
Untuk mendapatkan akhirat pun demikian. Diperlukan ilmu yang cukup dan
kesungguhan untuk mengamalkannya. Ilmu tersebut pun harus diusahakan
dengan cara menuntut ilmu dan itu memerlukan waktu dan biaya. Namun
kenapa kita menjadi pelit untuk segala hal yang dapat membuat kita lebih
memahami ajaran islam. Membeli buku aqidah seharga lima puluh ribu akan
terasa mahal apabila dibandingkan dengan jalan-jalan yang bisa menghabiskan
uang sampai ratusan ribu rupiah.
Berhenti sejenak dan merenungi atas apa yang telah kita kerjakan mungkin
salah satu sikap yang bijak. Mencoba berfikir atas semua aktivitas kita
apakah sudah proporsional dan adilkah kebutuhan dunia dan akhirat kita
tunaikan?
Akan terlalu berat mungkin apabila kita mengikuti Rasulullah dalam semua
hal. Paling tidak ada proses untuk berkeinginan mengenal Alloh dalam
ibadah-ibadah pokok dan milibatkan-Nya dalam seluruh aktivitas kita.
Setidaknya untuk tidak lupa mengucapkan basmalah dalam setiap memulai
aktivitas sehingga akan bernilai kebaikan. Alloh pun tidak membebankan
syariat-Nya melainkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.
Wallahu'alam
14 November 2008
Renungan kala menyadari diri ini telah banyak berbuat dzalim atas
hak-hak-Nya. Diri ini memang bukan seorang hamba yang taat melainkan
penuh dengan kekhilafan. Namun masih berharap untuk datangnya secercah
hidayah yang akan menggerakkan hati ini untuk lebih dekat mengenal Tuhannya.
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)