Tentang Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah
Kamis, 20 November 2008 10:35
Pertanyaan
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ust.Yang dirahmti Allah SWT semoga ilmu ustad makin berkah
Beberapa kali antum menyebut nama almarhum Ustadz Rahmat Abdullah.
Ustadz.lainnya juga sering mengutip kata-kata beliau yang mendapat julukan
sang murrabi. Kebaikan yang disampaikan oleh beliau diteruskan oleh Ust.
Saarwat dan yang lainnya.
Setahu saya antum akan mendapat pahala dan juga Ustadz Rahmat Abdullah tanpa
mengurangi pahala. Seperti MLM. Begitu juga dengan murrabi dari sang
murrabi. Insya Allah dapat pahala dari kebaikan yg disampikan, bila kebaikan
itu bersumber dari murrabi sang murrabi.
Murrabi almarhum adalah ust.Hilmi Aminudin dan beliau bukankah masih hidup
tetapi kenapa jarang dikutip perkataannya ya stad. apakah harus meninggal
dulu baru kita kutip perkataannya? Dan disaat bersamaan, ada yang kagum
dengan Alm.Ust.Ramat Abdullah tetapi tidak suka dengan guru beliau?
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
ali
Jawaban
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh,
Saya mengenal almarhum Ustadz Rahmat Abdullah tidak sebagaimana umumnya
orang kebanyakan mengenal beliau. Saya mengenal beliau bukan hanya sebagai
ustadz, tapi juga sebagai teman, kakak, guru dan juga sebagai tetangga satu
kampung. Dulu namanya masih kampung, kampung Pedurenan Masjid. Kini nama
yang lebih tersohor adalah Kuningan.
Saya ingat sekali dahulu beliau pernah menulis puisi berjudul 'Pedurenan Nan
Jelita'. Isinya tentang perasaan miris beliau atas pembangunan pisik yang
menggusur perkampungan Islam. Lalu tempat itu berubah jadi hutan beton.
Apa yang beliau khawatirkan di puisinya itu memang sebagiannya menjadi
kenyataan. Setidaknya rumah beliau dulu tinggal yang tentunya juga rumah
orang tua beliau, kini sudah rata dengan tanah dan sudah jadi gedung
bertingkat.
Demikian juga dengan mushalla An-Ni'mah sebagai salah satu mushalla tempat
dulu kami mengaji, kini sudah rata dengan tanah dan jadi gedung bertingkat.
Namun madrasah Daarul-Uluum yang disebut-sebut dalam film Sang Murobbi,
tempat dimana beliau pernah mengadakan pengajian remaja masjid, masih
berdiri tegak. Dan di madrasah Daarul-Uluum itulah kini saya tinggal sejak
kami sekeluarga pulang dari Cairo. Waktu itu usia saya masih 2-3 tahun. Ya,
pedurenan saat itu adalah sebuah kampung betawi yang lekat dengan
nilai-nilai keislaman.
Sekarang saya meneruskan Madrasah Daarul-Uluum yang sudah berdiri dari tahun
1976. Di Madrasah itulah dahulu Ustadz Rahmat Abdullah diangkat menjadi
mengajar pengajian tiap malam Senin. Dan di samping madrasah ada masjid,
dimana almarhum ayah saya adalah ketua Takmir masjid di depan rumah saya,
dan almarhum Ustadz Rahmat adalah ketua remaja masjidnya.
Remaja masjidnya bernama Pemuda Raudhatul Falah, disingkat PARAF. Karena
nama masjid di depan rumah saya itu memang bernama Masjid Raudhatul Falah.
Masjid Raudhatul Falah dan madrasah Daarul-Uluum, keduanya masih berdiri
sampai hari ini. Sesungguhnya di kedua tempat itulah awal mula debut sang
Murobbi kita yang satu ini.
Sebagai putera pemilik madrasah dan juga putera Ketua Takmir Masjid, tentu
saya kenal Ustadz Rahmat bukan hanya sekilas, tapi memang kami dahulu tiap
malam 'nongkrong' bersama.
Yang kami kenal, beliau bukan sekedar sosok ustadz, tetapi juga seorang
seniman. Saya pernah main teater dimana beliau jadi penulis naskah sekaligus
sutradara. Malam-malam kami latihan teater di lapangan luas, sambil
lari-lari memutari lapangan dan latihan vokal.
Saya masih ingat dahulu saya mendapat peran sebagai Abu Mihjan, seorang
shahabat yang mati syahid, dalam lakon Darah Para Syuhada. Naskah langsung
ditulis oleh beliau, yang pada akhirnya saya ketahui merupakan terjemahan
dari naskah asli berbahasa Arab karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi.
Usia saya waktu masih belia, masih SMP dan kemudian masuk ke SMA. Pengajian
halaqoh yang beliau selenggarakan dimana saya ikut di dalamnya, adalah
format pengajian setelah remaja masjid kami dibubarkan oleh pihak
pemerintah, karena dianggap merongrong Pancasila dan penguasa. Maklumlah,
itu terjadi tahun 80-an, dimana penguasa sangat represif terhadap umat
Islam.
Almarhum Ustadz Rahmat menjadi murobbi saya sejak masih SMP, lanjut ke SMA
bahkan sampai saya kuliah. Kami mengaji kepada beliau bukan seminggu sekali,
tapi tiap malam. Formalnya 3 kali dalam seminggu, yaitu malam Senin, malam
rabu khusus bahasa Arab dan hari Ahad pagi khusus para naqib.
Materi 'panah-panah beracun' saya kenal pertama kali dari beliau. Demikian
juga buku kecil Al-Ma'tusrat dan tafsir Fi Dzhilalil Quran. Ustadz Rahmat
sebenarnya lebih merupakan seorang otodidak, karena bahkan jenjang madrasah
'aliyah pun tidak sempat lulus.
Sebenarnya beliau punya guru yang banyak, bukan hanya satu orang. Beliau
adalah santri di perguruan Asy-Syafi'iyah Bali Matraman. Beliau adalah
santri kesayangan kiyai Abdullah Syafi'i, ulama betawi kondang yang
legendaris itu. Sayang karena masalah finansial, beliau urung diberangkatkan
ke Mesir, negeri impian beliau untuk meneruskan menuntut ilmu. Beda nasib
dengan senior beliau, Ustadz Bakir Said yang juga santri kesayangan kiyai
Abdullah Syafi'i dan berhasil sampai ke Mesir.
Tapi semangat belajar almarhum tidak surut. Beliau banyak membaca, apalagi
kemampuan bahasa arab beliau lumayan, banyak buku berbahasa arab yang beliau
lahap. Teman-temannya dari Mesir juga rajin mengirimi kitab, termasuk
kitab-kitab harakah Ikhwanul Muslimin.
Lepas dari keustadzannya, almarhum saya kenal juga sebagai pemuda yang
awalnya dulu juga masih merokok. Kalau tidak salah, rokoknya Marlboro. Wah
jadi buka kartu nih. Tapi setelah itu beliau sama sekali meninggalkan rokok,
dan melarang murid-muridnya merokok. Tapi tidak semua kami patuh, ada juga
yang bandel.
Kalau ustadz tidak ada, beberapa dari kami ada yang dengan santainya
merokok. Eh, tiba-tiba ustadz datang, maka rokok-rokok itu dibuang, takut
ketahuan. Tapi ada satu teman yang waktu itu tidak sempat membuang rokok,
entah kaget entah bingung, rokok masih menyala dimasukkan kantong. kontan
dia melompat-lompat kepanasan. Yah, ketahuan juga akhirnya.
Saya mengenal beliau saat beliau masih bujangan. Saat itu saya tahu beliau
sedang dalam proses berkenalan dengan salah satu murid beliau yang saya juga
kenal langsung. Walau akhirnya beliau tidak jadi menikahinya dan menikahi
murid beliau yang lain. Tapi kenangan itu masih jelas dalam ingatan saya.
Yang menarik, di hari walimah pun, beliau tetap ceramah berpidato di hadapan
hadirin tamu undangan. Hihihi, pengantin kok ceramah. Lucu juga ya.
Oh ya, beliau terkenal kalau ceramah tidak bisa sebentar. Bahasa yang beliau
pakai pun juga bahasa langit. Jadi sebenarnya buat kami saat itu, tidak
semua yang beliau ceramahkan, bisa kami pahami dengan mudah. Sebagiannya
merupakan bahasa perlambang, yang selesai pengajian, kita diskusi lagi
membahas apa yang tadi beliau maksudkan. Lucu juga ya, ngaji kok nggak
paham.
Yang konyol tapi lucu, kalau beliau Khutbah Jumat. Lamaaaa dan panjaaang.
Sebagian jamaah yang tidak kenal beliau kadang suka marah-marah. Sampai
akhirnya saat doa dibacakan, mereka pun mengucapkan 'amin' dengan
sekeras-kerasnya. Mungkin kesel kali ya, khutbah kok lama banget.
Tapi ya itulah ustadz Rahmat Abdullah. Sosok yang kini jadi legenda.
Sepanjang yang saya ketahui, beliau tidak sampai mengaji dalam arti halaqoh
dengan ustadz Hilmi. Karena Ustadz Rahmat sudah jadi ustadz kondang saat
Ustadz Himi baru pulang dari Saudi Arabia. Dan meski secara formal beliau
tidak duduk di bangku kuliah dan juga tidak pernah tinggal di Arab, namun
beliau baca buku cukup banyak. Ilmunya luas dan boleh diadu dengan para
sarjana dari timur tengah.
Tentu Ustadz Rahmat berinteraksi dengan Ustadz Hilmi dalam kancah harakah
Islamiyah. Namun posisinya tidak sebagai murobbi dan mad'u. Sebab boleh
dibilang, muridnya ustadz Rahmat lebih banyak dari muridnya Ustadz Hilmi
saat awal mulanya. Namun keduanya kemudian aktif dalam kancah tarbiyah, dan
membina umat lewat berbagai macam halaqah dan daurah.
Kelebihan Ustadz Rahmat dari semua murobbi lainnya adalah beliau seorang
yang menguasai ilmu-ilmu keislaman secara baik, walau lewat jalur pesantren
tradisonal. Beliau belajar ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushul fiqh, ilmu
fiqih dan seterusnya. Sementara para murobbi yang lain cuma bermodal materi
panah-panah saja dan semangat 45-nya.
Ketika beliau mulai membina dengan sistem halaqoh, beliau sudah punya murid
dimana-mana. Sebaliknya, ustadz-ustadz yang baru pulang dari timur tengah
belum punya murid. Lagian, gaya halaqoh di Arab sana sangat beda dengan gaya
halaqah di Indonesia.
Di Arab, murabbinya memang para masyaikh, semua anggota halaqah adalah
mahasiwa yang melek huruf Arab. Jadi modelnya mereka baca kitab tertentu.
Saya tahu gaya itu karena saya pernah diikutkan dengan halaqah khas gaya
Arab. Menarik memang dan jauh lebih ilmmiyah.
Sementara para murabbi di negeri kita, tidak bisa bahasa arab dan mereka
bukan pembaca buku yang baik. Maka ustadz Hilmi membuat materi panah-panah
itu, yang kemudian saya sadari bahwa semua itu adalah materi aqidah dan
fiqhuddakwah. Tidak ada materi ulumul Islam seperti Fiqih, Ushul, Tafsir,
Hadits dan lainnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)