Asslmkm.Wr.Wb.
Artikel yang bagus dari contoh sikap Nabi SAW yang cerdas dan tidak kaku, 
mudah-mudahan mencerahkan kita semua.

Wass / Jaerony.-

**************************************************
WARNING: Jika Anda tidak berkenan dengan tulisan ini langsung saja dihapus; 
jika menarik silakan didiskusikan; dan jika isinya sesat dan tidak benar 
silakan diberitahukan.



Monday, December 01, 2008

Nabi Garis Keras
at 1:50 AM

Surat al Fatihah yang setiap hari berkali-kali kita baca ada ayat yang berbunyi 
ihdinas shirath al mustaqim; yang artinya ya Allah tunjukkanlah kepada kami 
jalan yang lurus. Apa itu jalan lurus atau shirat al mustaqim? ayat itu 
ditafsirkan oleh ayat berikutnya' yakni; jalan lurus itu ialah "jalan" yang 
pernah dirintis dan dicontohkan oleh orang-orang yang telah diberi nikmat oleh 
Allah, bukan jalan dari orang yang dimurkai dan bukan jalan dari orang yang 
sesat. Lalu siapakah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah itu (alladzina 
an`amta `alaihim)? ayat itu ditafsir oleh surat an Nisa ayat 69, alladzina 
an`amallohu `alaihim minan nabiyyin was syuhada was shalihin. Orang-orang yang 
telah diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, syuhada dan orang-orang salih. 
Jadi shirathal mustaqim adalah jalan hidup konsisten yang telah dicontohkan 
oleh para Nabi, para syuhada dan para orang-orang saleh.

Pertanyaan berikutnya, Nabi siapa yang harus kita ikuti sementara tipologi para 
nabi juga berbeda-beda? Manusia memiliki tabiat, temperamen dan kecenderungan 
yang berbeda-beda. Ragamnya tipologi para nabi justeru merupakan rahmat Allah, 
karena setiap orang bisa memilih rujukan idolanya. Nabi Nuh misalnya adalah 
tipologi kepribadian yang keras dan ektrim. Dikisahkan dalam al Qur'an surah 
Nuh bagaimana Nabi Nuh melapor kepada Allah tentang berbagai cara yang telah 
dilakukan untuk mengajak bangsanya ke jalan yang benar, tetapi selalu direspon 
secara negatif oleh bangsanya. 

Nabi Nuh melapor bahwa bangsanya lebih memilih jalan dari orang-orang yang 
semua assetnya hanya mendatangkan kerugian (Q/71:21). Meskipun Nuh itu seorang 
Nabi, tetapi setelah berusaha ratusan tahun, iapun memiliki batas kesabaran. 
Nabi Nuh hopless terhadap bangsanya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada 
gunanya lagi mempertahankan eksistensi bangsanya yang tidak mau menengok jalan 
yang benar, karena mereka fanatik kepada jalan tradisionil mereka yang 
jelas-jelas sesat. Di akhir pengaduannya, Nabi Nuh mengusulkan agar bangsa¬nya 
yang kafir dimusnahkan saja; Rabbi la tadzar 'alal ardhi minal kafirina 
dayyara, ya Tuhan, jangan Engkau biarkan seorangpun dari orang-orang kafir itu 
tinggal diatas bumi (Q/71:26), karena mereka dan anak-anak mereka nantipun 
(berdasar pengalaman beliau) sudah tidak bisa diharap lagi (Q/71:27). 

Nabi Nuh mengakhiri laporannya dengan memohonkan ampun bagi dirinya, kedua 
orang tuanya dan sedikit orang yang mematuhinya, sambil terakhir kali tetap 
mohon agar orang-orang zalim itu tidak usah diberi peluang lagi (Q/71:28). 
Begitulah sikap keras Nabi Nuh setelah membuktikan kesabaran usaha sepanjang 
umurnya.
Jika di seberang sana ada Nabi garis keras, di ujung yang lain ada tipologi 
Nabi yang sebaliknya, lembut dan pemaaf. Dialah Nabi Ibrahim, bapaknya para 
nabi. Ketika Nabi Ibrahim melapor kepada Tuhan tentang tugas-tugas yang telah 
dijalankannya, beliau berkata; faman tabi'ani fa innahu minni, waman 'ashani fa 
innaka ghafurun rahim. Ya Tuhan; sesungguhnya berhala-berhala itu telah 
menyesatkan banyak orang, maka barang siapa yang mengikuti aku maka ia termasuk 
golonganku, adapun orang yang menentangku, maka (solusinya kami serahkan kepada 
Mu, karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Penyayang (Q/14:36). 

Dua tipologi yang berseberangan ini ternyata menurun kepada generasi sahabat 
Nabi Muhammad S.a.w., yaitu Umar bin Khattab dan Abu Bakar Siddik. Dikisahkan 
dalam sebuah hadis; Rasul meminta masukan kepada para sahabat tentang solusi 
atas tawanan perang. Ada situasi dilematis ketika itu. Di satu sisi, tawanan 
perang wajib dijamin makan (hak azazinya), di sisi lain, jangankan untuk 
menjamin makan tawanan yang jumlahnya banyak, untuk makan para prajurit 
Islampun persediaan makan tak mencukupi. Merespon sikap demokratis Nabi itu, 
Abu Bakar Siddik mengajukan pendapatnya. Agar kita terbebas dari beban 
kewajiban memberi makan kepada tawanan perang, maka saya usul bebaskan saja 
semuanya. 

Umar bin Khattab yang dikenal keras dan kritisnya, mengajukan pendapat yang 
sangat berbeda. Kata Umar; jika tawanan dibebaskan, maka hal itu akan 
membahayakan posisi kita, karena kita tidak bisa menjamin mereka tidak kembali 
menyerang kita. Agar kita terbebas dari ancaman mereka, dan bebas juga dari 
kewajiban memberi makan, saya usul disembelih saja semuanya. Nabi tersenyum 
melihat dua tipologi sahabatnya yang sangat berbeda, dan Nabi menyatakan bahwa 
Abu Bakar memiliki hati yang sangat lembut melebihi lembutnya susu (alyanu 
minal laban), seperti hatinya Nabi Ibrahim, dan menyebut Umar memiliki 
kekerasan hati seperti kerasnya batu (asyaddu minal hajar), seperti hatinya 
Nabi Nuh. Mengapa? karena Rasul melihat bahwa dibalik kelembutan dan kekerasan 
hati dua orang itu ada kesamaan, yaitu mencintai Allah dan Rasulnya, bukan 
fanatik buta.

Pemecahan yang dilakukan oleh Rasul ternyata tidak menggunakan dua pendapat 
itu, tetapi sebagaimana yang tersebut dalam sejarah, tawanan yang kaya harus 
menebus dengan harta, yang pandai menebus dengan mengajarkan tulis baca, dan 
tawanan yang miskin diberi ongkos pulang. Sikap ekstrim yang dilandasi oleh 
cinta kepada kebenaran akan dapat mengubah sikap terhadap masalah. Abu Bakar 
ternyata kemudian dalam mensikapi rencana ekpedisi militer yang dipimpin oleh 
Usamah bin Zaid, (setelah Nabi wafat) bersikap lebih keras dibanding Umar bin 
Khattab. 

Yang harus diwaspadai dalam bersikap adalah motivasi. Terkadang seseorang atau 
sekelompok orang bersikap keras dengan argumen agama, tetapi ternyata di dalam 
hatinya lebih banyak interest yang tidak ada hubungannya dengan agama. Itulah 
'ashabiyyah (fanatik) yang menyesatkan. Syaitan memang pandai menyulap, apa 
yang sesat tetapi justeru terasa indah di dalam hati, idz zayyana lahum 
assyaitan ''a'malahum (Q/8:48). Jarak antara kebenaran dan kesesatan dalam 
sikap fanatik memang sangat tipis. Kisah atsar dari literatur Syi'ah antara 
lain menyebutkan; suatu saat Ali bin Abi Thalib sedang dalam peperangan. Ali 
berhasil menjatuhkan lawan dan tinggal menusuk¬kan pedangnya, tetapi tiba-tiba 
musuhnya meludahi wajah Ali dengan dahak yang sangat banyak. Ali marah, dan 
justeru karena ia merasa sedang marah maka Ali kemudian menarik pedangnya 
menyuruh musuhnya pergi dari hadapannya, sambil berkata engkau bukan 
tandinganku. Mengapa Ali tidak me¬nusukkan pedangnya? Karena jika Ali membunuh 
dalam keadaan marah, maka itu bukan jihad, tetapi mengikuti hawa nafsu syaitan, 
karena marah adalah kendaraan syaitan. A'udzu billahi min as syaithan ar rajim, 
Wallohu a'lam. 
posted by : Mubarok institute

http://mubarok-institute.blogspot.com/2008/12/nabi-garis-keras.html

<<1_6.jpg>>

Kirim email ke