Asslmkm.Wr.Wb.

Naudzubillah, saya baru tahu kalau Isteri Nabi Luth adalah contoh dari seorang 
isteri yang membangkang kepada suaminya. Mudah-mudahan artikel ini membawa 
pencerahan bagi kita semua. Amiiiin .....

Wassallam / Jaerony.-

WARNING: Jika Anda tidak berkenan dengan artikel ini silakan langsung dihapus; 
jika tertarik silakan didiskusikan; jika isinya sesat dan tidak benar silakan 
diberitahukan.    

************************************************************

NABI LUTH DAN HANCURNYA KAUM HOMO

Published by Syafii on December 24, 2008 04:22 pm under Artikel Islam 

dakwatuna.com - Nabi Luth bin Haran bin Tarih (Azar) adalah keponakan Nabi 
Ibrahim a.s. Ia diutus oleh Allah swt. kepada kaumnya. Maka, mulailah ia 
menyeru kaumnya untuk hanya menyembah Allah swt. dan meninggalkan penyembahan 
kepada patung-patung berhala. Nabi Luth memulai dakwahnya dengan menanamkan 
tauhid sebagaimana lazimnya para nabi berdakwah kepada kaumnya.Namun, kaum Nabi 
Luth a.s. adalah orang-orang yang paling durhaka, paling kafir, dan paling 
jahat sifat dan perilakunya. Mereka gemar membegal dan menyamun. Mereka gemar 
melakukan hal-hal mungkar dalam pertemuan-pertemuan mereka. Di antara mereka 
tidak ada budaya saling menasihati untuk kebaikan. Bahkan, mereka melakukan 
perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh manusia sebelumnya: mereka 
bersenggama dengan sesama jenis. Lelaki dengan lelaki. Homoseksual. Mereka 
tidak mau menikahi wanita. Inilah puncak kedurhakaan kaum Luth kepada Allah swt.

Nabi Luth a.s. berusaha mengembalikan kaumnya kepada penyembahan hanya kepada 
Allah saja. Nabi Luth juga berusaha mengembalikan kaumnya kepada fitrah manusia 
yang luhur. Tapi, kaumnya tidak mau berhenti dari kesesatan. Mereka tidak malu 
mempertontonkan perbuatan keji mereka itu. Mereka bukan saja tidak mau 
mendengar nasihat, bahkan menganiaya Nabi Luth. "Usirlah Luth berserta 
keluarganya dari negerimu. Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang 
(mengaku dirinya) bersih." (An-Nahl: 56)

Tidak hanya itu. Kaumnya menantang Nabi Luth agar ia mendatangkan adzab Allah 
swt. kepada mereka. "Datangkanlah kepada kami adzab Allah, jika kamu termasuk 
orang-orang yang benar." (Al-Ankabut: 29). Karena itu, Nabi Luth meminta 
pertolongan Allah swt., "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) 
atas kaum yang berbuat kerusakan itu." (Al-Ankabut: 30)

Allah swt. murka dan mengabulkan doa Nabi Luth. Dia mengutus para malaikatnya. 
Para malaikat itu terlebih dahulu menuju ke rumah Nabi Ibrahim a.s. untuk 
memberi kabar gembira kepada tentang kelahiran anak yang begitu diharapkan Nabi 
Ibrahim. Setelah itu, para malaikat menceritakan misi besar yang mereka emban 
atas kaum nabi Luth.

Nabi Ibrahim bertanya, "Apakah urusan kamu sekalian, wahai para utusan?" Mereka 
menjawab, "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang pendosa (kaum Luth), agar 
kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras) yang ditandai di 
sisi Tuhanmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas." 
(Adz-Dzariyat: 31-34)

Dialog ini diabadilan Allah swt. dalam Al-Qur'an tidak sekali. "Dan tatkala 
utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka 
mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini. 
Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim.' Ibrahim berkata, 
'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malaikat berkata, 'Kami lebih 
mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sunguh-sungguh akan menyelamatkan 
dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali isterinya. Dia adalah termasuk 
orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).'" (Al-Ankabut: 31-33)

Para malaikat yang terdiri dari Jibril, Mikail, dan Israfil itu berangkat 
menuju negeri Sodom. Mereka datang dalam wujud pemuda yang berwajah rupawan. 
Ini sebagai ujian bagi kaum Luth dan agar nanti menjadi alasan untum 
membinasakan mereka.

Para pemuda rupawan itu bertamu ke rumah Nabi Luth tepat ketika matahari 
terbenam. Nabi Luth yang tidak tahu bahwa mereka adalah malaikat, segera 
menerima mereka. Nabi Luth khawatir atas keselamatan mereka, apalagi jika 
diterima oleh orang lain. "Dia (Luth) merasa susah dan merasa sempit dadanya 
karena kedatangan para pemuda itu, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat 
sulit.'" (Hud: 77)

Bagaiman tidak sulit, sebab malam itu pasti Nabi Luth akan mempertahankan 
tamu-tamunya dari serbuan kaumnya sebagaimana yang sering terjadi jika ada tamu 
datang ke rumahnya.

Nabi Luth membawa para pemuda yang menjadi tamunya itu masuk ke dalam rumahnya 
secara diam-diam. Tidak ada yang tahu, kecuali anggota keluarganya. Tapi 
tiba-tiba isterinya keluar dan menceritakan kepada kaumnya, "Sesungguhnya di 
rumah Luth ada beberapa anak muda tampan, yang tidak pernah aku lihat orang 
yang wajahnya setampan mereka."

Maka berdatanganlah orang-orang ke ruman Nabi Luth. Mereka ingin berbuat mesum 
dengan menyodomi para pemuda yang menjadi tamu Nabi Luth. Melihat gelagat buruk 
itu, Nabi Luth menasihati mereka agar menikahi anak-anak wanitanya saja. Namun 
seruan itu sia-sia. Orang-orang yang tidak tahu malu itu berusaha menerobos 
masuk dan menyerbu para tamu Nabi Luth.

Dalam situasi genting itu, malaikat Jibril keluar dan memukulkan ujung sayapnya 
kepada mereka. Tiba-tiba mata mereka menjadi buta. Akibat pukulan itu kaum Luth 
mundur sambil mengancam Nabi Luth. Para malaikat menyuruh Nabi Luth pergi dari 
rumah dengan membawa keluarganya di akhir malam nanti, dan tidak boleh seorang 
pun menoleh ke belakang.

Di hari itu, di akhir malam, Jibril mengangkat rumah-rumah kaum Luth. Semuanya 
ada tujuh rumah. Rumah-rumah itu diangkat, lalu dibalikkan. Bagian atas ditaruh 
di bawah kemudian dihempaskan ke bumi. Sementara dari langit batu-batu dari 
sijjil -yang setiap batu tertulis nama orang yang hendak ditimpakan-menghujani 
mereka.

Hukuman ini tentu bukan sebuah kezhaliman. Sebab, Allah swt. telah menetapkan 
bahwa Dia tidak akan menghukum orang-orang zhalim, kecuali setelah Dia 
memberikan argumentasi yang kokoh kepada mereka, dan setelah didahului dengan 
janji dan acaman yang diberikan kepada mereka lewat diutusnya salah seorang 
Rasul-Nya yang mulia, untuk mencegah mereka dari perbuatan buruk dan 
memperingatkan mereka akan adzab Allah yang amat pedih. Rasul Allah itu 
menyerukan peringatannya di tengah mereka di setiap kota, desa, dan di mana 
saja.

Begitu juga yang dilakukan oleh Nabi Luth. Ia benar-benar memberi nasihat 
kepada kaumnya. "Mengapa kamu sekalian melakukan perbuatan keji yang belum 
pernah dilakukan oleh siapa pun di dunia ini sebelum kamu?" (Al-A'raf: 80)

Kemudian Nabi Luth mengulang perkataannya sebagai nasihat di kala kaumnya 
semakin tidak menggunakan otaknya lagi. "Sesungguhnya kamu sekalian mendatangi 
lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita. Bahkan 
kamu ini adalah orang-orang yang melampaui batas." (Al-A'raf: 81)

Orang-orang yang zhalim yang tidak memiliki akal sehat lagi itu menjawab dengan 
ngawur. "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu ini. Karena 
sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mengaku dirinya) bersih." (An-Naml: 
56). Begitulah orang jika sudah diluputi nafsu dan kesesatan, membolak-balikan 
norma-norma agar sesuai dengan keingan nafsu mereka.

Ketika pembangkangan mereka sudah sampai puncaknya, Allah swt. memberikan ujian 
terakhir kepada Nabi Nuh dengan mengutus beberapa malaikat dengan wujud 
manusia: pemuda-pemuda yang sangat tampan. Sebagai nabi yang dikenal lapang 
dada, para pemuda ini singgah. "Luth merasa susah dan merasa sempit dadanya 
karena kedatangan mereka, dan dia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.'" 
(Hud: 77)

Dan terdengarlah teriakan kepada kaum homoseks itu bahwa di rumah Nabi Luth ada 
beberapa tamu yang tampan dan tidak pernah ada pemuda yang setampan mereka. 
Dengan cepat kabar itu menyebar. Kaum homo itu berdatangan ke rumah Nabi Luth 
dan mengira akan bisa melampiaskan syahwat menyimpang mereka di sana. "Dan 
datanglah kaum Luth kepadanya dengan bergegas. Dan sejak dahulu mereka selalu 
melakukan perbuatan-perbuatan keji." (Hud: 78)

Mereka menyerbu masuk ke rumah Nabi Luth. Nabi Luth menahan mereka dengan susah 
payah. "Hai kaumku, ini putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka 
bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah mencemarkan namaku di hadapan 
tamuku. Tidak adakah di antara kamu orang berakal?"

Mereka menjawab, "Sesungguhnya kamu tahu bahwa kami tidak berhasrat kepada 
putri-putrimu. Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami 
inginkan." Sungguh sebuah jawaban yang tidak pantas dan secara terang-terangan 
membangkang.

Sungguh berat kondisi Nabi Luth. Ia diserbu tanpa pembelaan. "Seandainya aku 
ada mempunyai kekuatan (untuk menolak) kamu sekalian, atau aku dapat berlindung 
kepada keluarga yang kuat (tentu aku melakukannya)." (Hud: 80)

Melihat kondisi Nabi Luth yang terdesak seperti itu, barulah para malaikat 
membuka identitas mereka. "(Tenanglah kamu, hai Luth, sesungguhnya kami adalah 
utusan-utusan Tuhanmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu!" 
(Hud: 81)

Mendengar itu, Nabi Luth sangat gembira. Lalu dikatakan kepadanya, "Sebab itu, 
pergilah kamu dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam, 
dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. 
Sesungguhnya dia akan ditimpa adzab seperti yang menimpa mereka. Karena 
sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah waktu subuh. Bukankah 
subuh itu sudah dekat?" (Hud: 81)

Karena kaum Luth tetap membangkang, tetap berhasrat mengganggu tamu-tamu Nabi 
Luth, dan tidak menjaga kehormatan keluarga Nabi Luth, Jibril memukul wajah 
mereka dengan ujung sayapnya. Pukulan itu mengakibatkan mata mereka hapus dan 
mereka menjadi buta. Dalam keadaan buta, mereka mundur dengan melontarkan 
ancaman, "Besok kamu akan tahu apa yang akan menimpamu, hai orang gila!"

Tapi, saat fajar menyingsing datanglah perintah Allah swt. Jibril membedol kota 
Sodom. Mengangkat tinggi-tinggi rumah-rumah mereka di udara. Lalu membaliknya 
dan menghempaskannya ke bumi diiringi hujanan batu-batu sijjin. "Maka tatkala 
datang adzab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah. 
(Kami balikan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar 
dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tidak jauh 
dari orang-orang yang zhalim." (Hud: 82-83)

Isteri Nabi Luth ikut keluar rumah bersama suami dan kedua anak perempuannya. 
Namun, wanita itu ketika mendengar jeritan dan gemuruh kehancuran kaumnya, 
menoleh ke belakang. Seketika itu juga sebutir batu jatuh menimpanya. Menembus 
batok kepalanya. Ia roboh. Musnah seperti kaumnya yang membangkang. Begitulah 
nasib wanita yang berkhianat kepada suaminya, yang membantu orang-orang 
membangkang pada ajaran Nabinya.

"Allah membuat isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Luth perumpamaan bagi 
orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang 
saleh di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua 
suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari 
(siksa) Allah, dan katakanlah (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka bersama 
orang-orang yang masuk (neraka)." (At-Tahrim: 10)

Begitulah Walihah, isteri Nabi Luth. Wanita ini isteri seorang nabi dan rasul, 
bahkan keluarga dekat Nabi Ibrahim. Tapi, ia binasa diadzab bersama dengan 
kaumnya yang membangkang kepada Allah swt.



Sumber http://www.dakwatuna.com/2008/nabi-luth-dan-hancurnya-kaum-homo/

http://blog.its.ac.id/syafii/2008/12/24/nabi-luth-dan-hancurnya-kaum-homo/

Kirim email ke