----- Original Message ----- From: Syafaatus Syarifah
To: [email protected]
Sent: Monday, January 12, 2009 2:44 PM
Subject: [sekolah-kehidupan] [ruang keluarga] Kutembak Kau Israel!!


Kami sedang berada di depan layar televisi. Satu-per satu gambar ditampilkan. Seorang wanita dengan dua anak BALITAnya tampak begitu ketakutan. Lalu dua orang BALITA yang sepertinya kakak beradik lari dan bersembunyi di sebuah lorong sempit, keduanya saling berpegangan tangan, masih dengan ekspresi yang sama yaitu ketakutan. Layar berganti, kini nampak seorang bocah perempuan menangis sambil menggigit permen karet yang sudah tipis. Ditangannya terbentang tulisan "Israel the real terorist!".

Gambar dalam layar berganti lagi, nampak kakek tua dengan darah mengucur di wajahnya, berteriak histeris dan mengeluarkan sumpah serapah. Di sebelahnya tampak seorang bapak sedang memompakan alat pernapasan buatan kepada seorang bayi yang sedang sekarat.

Layar berganti lagi. kali ini deretan bocah-bocah tak berdosa yang telah berkain kafan ditampilkan berulang-ulang. Diiringi oleh ilustrasi musik yang menyayat hati. Pemandangan ini menjadi menu sehari-hari kami 10 hari terakhir ini. Pedih memang, tapi kami selalu inign tau bagaimana perkembangan mereka yang ada di Gaza. Makanya ketika di TV ditampilkan perkembangan informasi seputar Gaza kami selalu menontonnya. Tak terkecuali si sulung 4 tahun kami, Mirza.

Kepadanya kami beri tahu bahwa bayi-bayi tak berdosa yang bersimbah darah itu adalah saudara-saudar muslim kita yang ada di Gaza. Kini mereka insya allah gugus sebagi syuhada dan surga menantinya. Mereka gugur karena serangan Israel Laknatullah yang menjajah dan merampas tanah kelahiran mereka.

"Penjahatnya yang mana bun? " tanya Mirza polos.
"Itu yang namanya bangsa Israel, yang nge-bom anak-anak kecil dan ibu-ibu tadi.." jawabku. "Innalillah... jahat sekali mereka" jawab Mirza serius. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam sebagaimana wajah kami orangtuanya saat itu.

Di televisi masih ditampilkan satu persatu gambar para korban.
Suamiku mendesah, lalu memalingkan mukanya dan menunduk. Tak terasa air mataku menetes deras mengiringi perih hati ini yang seperti tertusuk sembilu.
"Lihat, bunda menangis..." jerit Mirzaku.
Kuusap airmata yang menetes, sambil berkata "Iya, bunda sedih mas.. melihat saudara-saudara kita itu.." Tiba-tiba Mirza melakukan gerakan yang mengejutkanku. Dia berlari ke tempat mainannya disimpan. Diambilnya sebuah pistol mainan, dengan gayanya yang serius ditekan kokang pistol itu, posisinya menghadap ke televisi. Lalu diapun berseru lantang

"Kutembak kau Israel..kutembak kau Israel...dor..dor..dor"

Aku dan suamiku saling berpandangan. Ya Allah, anak kecil kami... ternyata dia bisa merasakan kesedihan seperti kami.

Dan airmatakupun semakin deras mengucur..




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke