saya sangat setuju bahwa kita harus mempersiapkan segala segala sesuatu untuk menggetarkan musuh2 Allah SWT. Kalau boleh mengutip surat Al anfal (8) ayat 60 bahwa kita diperintah untuk (wa'aidulakum mastato'tum min kuwwah) mempersiapkan segala sesuatu untuk menggetarkan musuh2Nya. Kalau kita melihat sunah Rasul banyak hal yang kerjakan oleh Rasul khususnya dalam menjadikan Izah Islam begitu kuat : antara lain masalah keimanan (ruhiyah) yang begitu kuat yang sering disebut musuh sebagai seperti "rahib" di malam hari yang dekat dg Rabbnya, namun demikian juga mereka mempersiapkan diri secara fisik dengan begitu rapi sampai disebut "singa" di siang hari. Sehingga menurut saya bahwa sunah rasul tidak hanya masalah ibadah saja (dalam artian yang sempit) namun ibadah dalam arti yang luas (Kaafah) dengan mempersiapkan seluruh potensi (ekonomi, sosial, politik, militer, pendidikan dan seluruh aspek kehidupan) juga harus dipikirkan/persiapkan oleh umat ini sehingga bisa diarahkan menuju kejayaan islam dan muslimin.
--- Pada Rab, 14/1/09, amin widada <[email protected]> menulis: Dari: amin widada <[email protected]> Topik: [Ar-Royyan-8523] Kesan Nonton "Today's Dialogue" Metro TV Kepada: [email protected] Tanggal: Rabu, 14 Januari, 2009, 5:35 AM Metro TV, Selasa 13 Januari 2009, Jam 22.00 Dialog tersebut membahas persoalan Palestina terkini dalam konteks reaksi umat Islam Indonesia, khususnya munculnya fenomena pengiriman relawan ke Gaza Strip. Dialog dipandu oleh moderator (yang sayangnya kurang moderat ...) Kania Sutisnawinata. Menghadirkan narasumber Teuku Fauzasyah (Jubir Deplu RI), Ismail Yusanto (Jubir HTI), Luthfi Assyaukanie (Koordinator JIL), dan Luthfi Hassan Ishaq (Biro Hubungan LN PKS). Suka tidak suka, dialog menggambarkan stereotype berbagai cara pandang umat Islam Indonesia terhadap agresi militer Israel ke Gaza saat ini. Kecuali Teuku yang notabene mewakili suara resmi pemerintah (sehingga pendapatnya bersifat normatif dan diplomatis), ketiga narasumber lain bisa dianggap representasi aneka-warna corak pemahaman keummatan umat Islam Indonesia. Namun kalau boleh menyimpulkan, mengutip pendapat Luthfi Hassan Ishaq, penyelesaian harus mencakup 3 logika yang komprehensif dan tidak boleh meninggalkan salah satu di antaranya, yaitu: - logika kemanusiaan - logika diplomasi - logika militer Tiga logika tersebut harus diimplementasikan secara harmonis. Termasuk oleh umat Islam di Indonesia. Tentunya di luar itu ada faktor kehendak Allah yang tak terjangkau oleh manusia. Memang nampak Luthfie Assyaukani terlalu mendewakan logika diplomasi dan menafikan logika militer/jihad qital (apakah dia lupa bahwa hakekat persoalan Palestina adalah sebuah penjajahan?). Sedangkan Ismail Yusanto lebih menitik-beratkan logika militer oleh sebuah 'konsorsium' negara Islam, dan Luthfi Hassan Ishaq menyampaikan tentang kerja konkrit kemanusiaan yang mendesak saat ini. Namun keduanya cukup cerdas untuk menangkis argumen JIL yang sangat pragmatis dan sekuler (argumen yang cukup 'memikat' sehingga kadang-kadang membuat Kania terhanyut, dan lupa sedang menjadi moderator ,,,). Wallahu a'lam, --amin ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari) Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! Messenger yang serba baru sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

