Suatu ketika, Abdul Muthalib 'pasrah' dan lebih memilih menyingkir ketika mendapatkan informasi pasukan Raja Abrahah dari Habsyi (Ethiopia) yang perkasa hendak meng-agresi Makkah dan menghancurkan Ka'bah. Dia yakin, Allah sendiri yang akan menjaga rumahNya, Baitullah... Dan benarlah, Allah mengirimkan pasukan burung Ababil, yang merontokkan pasukan Abrahah yang 'nggegirisi' menjadi laksana dedaunan yang diserbu ulat grayak! Demikian secuil fragmen yang mengiringi saat-saat kelahiran Rasulullah Muhammad.
Di secuil fragmen yang lain beberapa puluh tahun kemudian, .... Pasukan muslimin yang hanya berjumlah 300 orang -itu pun amatiran dan minim amunisi-, terpana menyaksikan pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahl yang berjumlah 3 kali lipat, dengan senjata dan perlengkapan sangat lengkap. Nyali pun menciut, rasa pesimis meletup-letup ... sanggupkah mereka memenangkan peperangan Badr? Lalu, Rasulullah memanjatkan doa spesial, dan akhirnya berhasil membangkitkan ghirah jihad pasukan muslimin. Pesimistis berubah menjadi optimisme menyala-nyala dalam wujud slogan: hidup mulia atau mati syahid! Keduanya pilihan yang sangat berharga untuk dilewatkan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ribuan malaikat turun menemani pasukan muslimin dalam pertempuran tak seimbang tersebut. Akhirul kisah, kemenangan gemilang pasukan muslimin menutup fragmen ini. Saya yakin, seluruh umat Islam di dunia (kecuali yang 'sedang' menjadi kaum munafik) saat ini khusuk mendoakan kemenangan saudaranya di Palestina, khususnya di Gaza. Istighotsah, qunut nazilah, atau apapun bentuknya. Namun, bagaimana bentuk riil pertolongan Allah yang diinginkan mereka? Yang ada dalam alam pikir mereka ketika sedang menengadahkan tangan memohon kepadaNya? Saya punya dugaan, setidaknya ada 2 perbedaan dalam hal ini: ada yang menginginkan 'turunnya burung Ababil' yang -entah bagaimana caranya- meluluh-lantakkan pasukan Zionist. Sementara umat Islam yang lemah ini sebaiknya menghindari tumpahnya darah secara 'sia-sia'. Mereka yakin, Allah tentu menolong hambaNya dengan caranya sendiri. Di pihak lain, ada juga yang berpendapat pertolongan Allah turun laksana saat Perang Badr. Pertolongan Allah bukan 'gratis', tapi melalui ikhtiar maksimal menjemput bola. Mereka -sembari berdoa- sepenuh hati membantu perjuangan muslimin di garis depan melawan Zionist. Maksimal dengan jiwanya, minimal dengan memberikan dukungan moral dan apresiasi, walaupun nun jauh terpisah lautan ... Toh, seandainya pun Allah berkehendak lain dengan tidak memberikan kemenangan saat ini, mereka tetap husnudzon terhadap para pejuang, sambil tak henti memohonkan ridloNya agar para mujahidin ini mati sebagai syuhada. Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu, manakah di antara 2 pendapat ini yang lebih benar. Atau, semoga keduanya tidak salah ... Tapi secara pribadi, saya memilih yang terakhir .... Wassalam, --amin ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

