----- Forwarded message from Sawalludin Mulyadi 
<[email protected]> -----

Bumi Isra' Dan Mikraj Nabi Dikhianati

HTI-Press. Jika hari-hari ini kita menyaksikan tayangan televisi
al-Jazeerah, al-'Alam atau televisi lokal, pasti hati kita akan tersayat
pedih. Kita menyaksikan setiap hari penduduk Gaza dibantai dengan biadab
oleh bangsa terlaknat (al-maghdhubi 'alaihim), Yahudi. Lihatlah, dalam waktu
18 hari saja, sudah 930 jiwa yang gugur sebagai syuhada', dan 4280 jiwa yang
terluka, sebagai korban kebrutalan dan kebiadaban Israel. Sampai PM Israel,
Ehud Olmert (12/1/2009 M) menyatakan, bahwa apa yang telah dilakukannya
dalam 16 hari itu belum pernah dilakukan sebelumnya sepanjang pendudukan.
Dia juga mengklaim, apa yang dicapainya dalam waktu 16 hari itu juga belum
pernah dicapai sebelumnya. 

Klaim Olmert mungkin benar, jika dilihat dari jumlah korban dan kerusakan
yang ditimbulkan oleh kebrutalan dan kebiadaban Isreal. Bukan hanya manusia,
rumah, sekolah dan masjid pun tidak luput dari kebrutalan dan kebiadaban
bangsa kera itu. Meski demikian, yakinlah apa yang dialami oleh Israel saat
ini sesungguhnya adalah kegagalan dan kekalahan. Pejabat Israel semula
menyatakan, bahwa target mereka menyerang Gaza, yang didahului dengan
blokade selama bertahun-tahun, adalah untuk melumpuhkan kekuatan Hamas dan
kelompok-kelompok perlawanan yang ada di Gaza, seperti Brigade al-Qasam,
al-Quds dan lain-lain dalam waktu lima hari. Namun, sudah 18 hari target ini
tidak berhasil mereka capai. Meski Israel telah mengerahkan seluruh
kekuatannya, bahkan dengan menggunakan senjata terlarang, seperti bom Fosfor
putih, ternyata mereka tak kunjung berhasil. DK PBB yang mengeluarkan
resolusi 1860 pada tanggal 9 Januari 2009 M, yaitu 14 hari setelah serangan
biadab Israel, yang bertujuan untuk menyelamatkan posisi Israel pun juga
tidak berhasil. Sehari sebelum serangan darat, 2 Januri 2009, pejabat Israel
menyatakan akan mengerahkan 6500 personil lengkap dengan tank dan kendaraan
lapis baja, hingga hari ini ternyata tidak berhasil. Sehingga Israel
terpaksa harus mengerahkan tentara cadangannya (12/1/2009 M). Olmert yang
sebelumnya menyatakan, bahwa tidak lama lagi serangan akan diakhiri, karena
target hampir tercapai, namun hari ini pernyataan itu harus direvisi
Menlunya sendiri, Livni. 

Namun yang menarik, pada hari yang sama (13/1/2009 M), Menlu Mesir, Abu
Ghaith juga menyatakan tidak akan mentolelir negaranya digunakan untuk
membangun kekuatan Hamas. Iya, pemerintah Mesir bukan hanya mengkhianati
Hamas, tetapi juga rakyat Gaza dan Palestina. Lihatlah, ketika penduduk Gaza
hendak memasuki Rafah, perbatasan Gaza-Mesir, polisi Mesir melepaskan
tembakan peringatan ke udara, dan mengusir mereka. Bahkan, kini ketika Gaza
sudah dijadikan sebagai zona militer tertutup oleh Israel, dan satu-satunya
pintu keluar adalah Rafah, lagi-lagi penguasa Mesir hanya diam menyaksikan
saudara-saudara mereka dibantai di depan mata mereka. 

Wajar, jika sebelumnya Hasan Nashrullah, pimpinan Hizbullah, menyatakan jika
penguasa Mesir tidak membuka pintu Rafah, berarti mereka terlibat dalam
tindakan kriminal Yahudi. Dan, jika rakyat Mesir juga diam, tidak mendesak
penguasa mereka, maka mereka pun sama. Sama-saam terlibat dalam tindakan
kriminal Yahudi terhadap Gaza. Rupanya, pernyataan Hasan Nashrullah itu
begitu menakutkan penguasa Mesir. Bukan hanya Menlu, Abu Ghaith, yang
menanggapi pernyataan tersebut, tetapi penguasa Mesir langsung melakukan
mutasi besar-besar di tubuh angkatan bersenjata Mesir, karena khawatir akan
terjadi kudeta. Apalagi, sebelumnya seorang perwira Mesir menyatakan akan
menggulingkan Husni Mubarak, jika dia berpihak kepada Israel. Bukan hanya
itu, dengan sigap penguasa Mesir pun telah menangkap dan menjebloskan
sejumlah perwira tinggi mereka ke penjara. Pengkhianatan penguasa Mesir
tidak hanya sampai di situ, suara rakyatnya pun dibungkam. Tidak kurang
puluhan anggota Ihwan al-Muslimin ditangkap dalam demonstrasi menentang
kebrutalan Israel, dengan dalih menjadi anggota organisasi terlarang. 

Pemerintah Mesir tidak sendiri. Pemerintah Yordania juga melakukan hal yang
sama. Meski demonstrasi diizinkan, namun sejumlah demonstran ditangkapi di
depan Kedubes Israel di Amman, ketika memprotes kebiadaban Israel. Bahkan
yang lebih ironis lagi adalah penguasa Saudi. Jika di televisi Suriah,
Libanon, Qatar, Libya dan lain-lain hampir setiap saat memutar tayangan
tragedi Gaza berulang-ulang, maka hal yang sama tidak akan Anda jumpai di
televisi Saudi, baik channel 1 maupun 2. Bukan hanya itu, Mufti Saudi pun
diminta mengeluarkan fatwa yang mengharamkan demostrasi jalanan untuk
menentang kebrutalan Israel. Tentu saja, fatwa aneh ini pun ditentang oleh
para ulama' yang lain. Dari Suriah, seorang ulama' secara terbuka di
televisi al-'Alam meminta sang mufti bertaubat kepada Allah, karena fatwanya
yang ngawur itu. Bukan hanya itu, pemerintah Saudi juga menolak seruan Iran
untuk mengembargo pasokan minyak ke Israel. Qatalahumu-Llah fa aina yu'fakun
(Semoga Allah segera membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai bisa
berpaling seperti itu)?

Inilah bukti-bukti pengkhianatan mereka, bukan hanya terhadap Gaza, tetapi
juga terhadap bumi Israk dan Mikraj Nabi saw. Jatuhnya Palesina ke tangan
Yahudi adalah buah pengkhianatan para penguasa itu. Mulai dari Perang 1948,
Perang 1956 hingga Perang 1967, yang secara keseluruhan peperangan tersebut
berhasil membangun mitos, bahwa Israel tak terkalahkan, dan tidak bisa
dihadapi dengan peperangan. Padahal, pengkhianatan para penguasa itulah yang
menyebabkan Israel seolah tidak terkalahkan. Bukti nyata semuanya itu kini
bisa kita saksikan dalam serangan brutal Isarel saat ini. Selain itu, kita
juga telah menyaksikan bagaimana Israel, yang konon hebat itu, ternyata
kalah berperang melawan Hizbullah, Juli 2006. 

Iya. Para penguasa itulah yang sesungguhnya menjadi penyakit Islam dan
umatnya. Mereka menjadi benalu, dan racun di tubuh umat Muhammad saw. ini.
Ketika tentara-tentara Islam siap berjihad, merekalah yang justru mengikat
tangan dan kaki tentara-tentara itu untuk berangkat berjihad. Ketika rakyat
meluapkan perasaan mereka, untuk memprotes diamnya para pengkhianat itu,
justru mereka terus-menerus menjaga kepentingan Yahudi di negeri mereka.
Mereka bahkan telah diajari oleh seorang Hugo Chaves, yang nota bene bukan
pemeluk Islam. Anehnya, mereka pun tidak malu. Iya, mereka memang sudah
tidak mempunyai rasa malu. Karena akidah mereka sudah mati. Mereka memang
bukan lagi umat Muhammad. Lalu, masihkah umat Muhammad ini berharap kepada
mereka? 

Tidak. Umat Muhammad yang mulia ini membutuhkan seorang pemimpin yang
ikhlas, berjuang dan mengabdi hanya untuk kepentingan Islam dan umatnya.
Dialah Khalifah kaum Muslimin. Iya. Sudah saatnya, umat ini mengangkat
seorang Khalifah untuk mengurusi dan menyelesaikan seluruh urusan mereka.
Khilafahlah yang akan memenuhi jeritan anak-anak, wanita dan orang tak
berdaya di Gaza. Khilafahlah yang akan mengerahkan pasukannya untuk berjihad
melawan tentara Israel, dan menghancurkan negara Yahudi itu hingga ke
akar-akarnya. Khilafahlah yang akan menghadapi Amerika, Inggeris, Rusia dan
negara-negara Eropa yang mendukung eksistensi negara Zionis itu. Khilafahlah
yang akan membersihkan negeri-negeri kaum Muslimin dari antek-antek
negara-negara penjajah itu. 

Allahumma ikhla' Kiyan al-Yahud, wa a'wanaha, wa duwal al-lati da'amatha wa
da'amat wujudaha min Falasthin wa sairi bilad al-Muslimin min judzuriha. Wa
'aqim 'alaiha daulata al-Khilafah ya Rabb. Allahumma 'ajjil lana nushrataka
bi qiyamiha (Ya Allah, cabutlah entitas Yahudi, para pendukungnya, juga
negara-negara yang mendukungnya dan mendukung eksistensinya dari Palestina
dan seluruh negeri kaum Muslim hingga ke akar-akarnya. Ya Rabb, dirikanlah
di atas puing-puingnya Negara Khilafah. Ya Allah, segerakanlah
pertolongan-Mu dengan tegaknya Khilafah). Allahhumasyhad, fainna qad
ballaghna.. (Hafidz Abdurrahman)

----- End forwarded message -----

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke