Jangan suudzon begitu pak... :-) Uang 100 ribuan mungkin terlihat provokatif kalau ditaruh di kotak amal, apalagi yang model kaca transparan ... bisa-bisa ada oknum yang tergoda ambil dan masukin ke kantong pribadi. Husnudzon saja, transaksi 100 ribuan lebih sering lewat transfer/gesek ... :-)
--amin Pada tanggal 23/01/09, Agus Rasidi <[email protected]> menulis: > > menggelitik & menyindir he...he..he.... > ============== > dari milis tetangga > > Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi > mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI > dengan bahan dan alat-alat yang oke. > Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama > bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. > Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu > bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda. Uang seratus > ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn. .......... darimana saja > kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? > Kumal, kotor, lecet dan...... bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari > PERURI, kita sama-sama keren kan ..... Ada apa denganmu?" > Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan > nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : > "Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga > hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya > sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, > saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh > dengan darah dan taik ayam. > Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen > sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya > berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' > (pren : tau kan baluang...?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari > ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, > karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ......" > > Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali > perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak > kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan > harum. > Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya > harum sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang > aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil > mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku > selalu berada di tempat yang > bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku > jarang lho ketemu sama teman-temanmu. " > > Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya : > "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. > Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!" > "Apa itu?" uang seratus ribu penasaran. > "Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di > tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat > itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana....." ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

