Assalamu'alaikum ... Saya fikir kalau film ini dibuang atau di hilangkan sangat disayangkan pak, menurut saya lebih baik film ini di tarik terlebih dahulu kemudian direvisi. Film ini sudah terlanjur beredar dan kalau film ini di hilangkan sama sekali, terus gimana paham-paham dalam film ini yang sudah kadung diterima oleh yang sudah menonton film ini, mereka jadi menanam suatu kesalahan pemahaman di pikiran mereka tanpa adanya perbaikan .
Wassalam ...
----- Original Message -----
From: wawan wahyu
To: milis_iqra ; MILIS AR-ROYYAN
Sent: Wednesday, February 18, 2009 1:29 PM
Subject: [Ar-Royyan-8689] Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film
PBS
Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film PBS
Thursday, 12 February 2009 18:46
Awas, ada propaganda paham liberal yang menyusup dalam dunia
perfilman. Demikian ujar sutradara Chaerul Umam mengomentari film Perempuan
Berkalung Sorban (PBS)
Hidayatullah.com--Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) tak
hanya menuai kritik di kalangan ulama dan umat Islam. Tak urung, kalangan
sineas sendiri ikut-ikut gerah. Kritik datang langsung dari Chaerul Umam,
mengatakan. Fim PBS tidak hanya melecehkan Islam, namun juga mengandung unsur
propaganda politik.
"Film tersebut mengandung propaganda politik. Bagaimana tidak,
dunia pesantren dicitrakan sangat buruk. Dan secara tidak langsung, seluruh
pesantren memiliki kultur demikian," ungkap Chaerul kepada www.hidayatullah.com.
Chaerul menyayangkan, banyak siaran talkshow sebagaimana acara
debat yang difasilitasi stasitun TV one baru-baru ini yang menghadirkan Hanung
Bramantyo sang sutradara.
Menurutnya, hal itu hanya akan memberikan kesempatan kepadanya
untuk ber-hujjah (berpendapat) dan bersilat lidah. Dengan demikian, dia dapat
menyakinkan masyarakat. Padahal, dalam dunia seni hal tersebut tidak boleh
dilakukan.
"Seharusnya yang membedah kontroversi itu adalah pihak lain,
baik yang kontra maupun yang pro. Namun bukan dari pihak Hanung sebab, itu
setali tiga uang. Celoteh nya pasti tidak cover both side," tuturnya.
Sebagai seorang sutradara senior, Chaerul mengetahui
ketidakseimbangan (unbalance) dalam film tersebut. Bagimana kisah buruk kiyai
dan pesantren yang di-blow up secara sepihak. Sedangkan pesantren dan kiyai
yang bagus tidak disentuh.
Chaerul tidak hanya setuju dengan keputusan MUI yang menyuruh
agar film tersebut ditarik dan direvisi, lebih keras lagi, Chaerul juga
beranggapan bahwa film tersebut sudah tidak layak lagi direvisi.
"Untuk apa film PBS ditarik dan direvisi, film tersebut dibuang
saja, tidak ada yang perlu direvisi,"tuturnya. Kecuali, jika Hanung mau
menampilkan realitas pesantren secara jujur dan equal (setara), maka film
tersebut bisa direvisi. "Itupun sangat banyak sebab, terlalu banyak kesalahan,"
imbuhnya.
Menurutnya, banyak adegan yang cukup menyulut kemarahan
masyarakat dalam film tersebut. Dalam film itu banyak adegan yang jahili.
Bahkan mengadopsi gaya-gaya Kristiani. Seperti, Annisa tokoh utama (PBS) yang
mengajak Khudori bekas pacarnya untuk berzina di kandang kuda. Belum sempat
kejadian itu terlaksana karena Khudori menolak sudah keburu ketangkap basah.
Kemudian ditangkap dan disuruh dirajam. Hanya dengan bukti jilbab yang dicopot
rajam pun dilakukan.
"Di adegan ini, secara fiqhiyah saja sudah salah. Namun, rajam
tetap dilakukan," tutur Chaerul. Tidak hanya itu, ibu Annisa
menghalang-halangi. Dia membolehkan, asal si pelempar bersih tidak memiliki
dosa. Bukankah ini cerita Kristen seperti Makdalena yang yang mau dirajam.
Tiba-tiba datang Yesus yang kemudian membolehkan rajam asal si perajam tidak
berdosa?.
Dari bukti-bukti inilah, menurut Chaerul, sebenarnya film PBS
termasuk dalam pelecehan agama. Dan bisa dibawa ke pengadilan dengan dalih
penistaan agama.
Menurutnya, dalam hal ini, MUI harus menjadi mediator ke
pengadilan. Sebab, jika pencegahan tersebut tidak cepat dilakukan, maka
ditakutkan respon masyarakat akan bergerak.
Selain pembuat film, menurut Chaerul, yang paling bertanggung
jawab adalah LSF. Sebab, lembaga ini telah meloloskan PBS.
Propaganda paham Liberal
Ketika ditanya bagaimana caranya agar insan perfileman tetap
kreatif tanpa harus tergelincir masalah sensitif, seperti masalah SARA.
Menurutnya, sebenarnya, hal itu tidak akan terjadi jika para sineas jujur dalam
membuat film tanpa ada propaganda terselubung. Dan hal itu tidak akan mematikan
insan film dalam berkreasi. Menurut Chaerul, tolok ukurnya cukup sederhana,
yakni bisa mengangkat masalah apa saja asal solusinya baik.
"Yang jelas, adegan dan solusinya Islami. Jangan adegannya
islami namun solusi jahili, kemudian dikatakan film religi, " jelasnya.
Seperti adegan perzinahan dan kemesraan diadegankan secara
vulgar. Padahal hal tersebut sangat berbahaya.
"Masalah sentuhan saja sudah dipermasalahkan dalam masyarakat,
apalagi pemerkosaan," katanya. Secara sepintas ia menilai, Hanung sengaja
ingin meniru-niru Barat dalam membuat film.
Padahal masyarakar sekuler beda dengan Indonesia yang agamis.
"Di Barat, agama adalah agama, sedangkan film adalah film," tegas Chaerul.
Chaerul beranggapan bahwa virus liberalisme, terutama dalam hal
bisnis yang menghalalkan segala cara telah memasuki dunia perfilman nasional
sekarang ini. Untuk mendapat banyak simpati dan untung tinggi, mereka melakukan
beragam cara. Salah satunya liberalisasi film.
Chaerul Umam menyarankan, agar pembuat film harus membawa
penasihat. Setidaknya, sebelum proses dan ketika proses ataupun hasilnya harus
dikonsultasikan dengan penasihat ahli.
Sebagaimana diketahui, Chaerul Umam mulai dicatat sebagai
sutradara yang baik lewat film "Al Kautsar", tahun 1977, produksi PT Sippang
Jaya Film, dan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". [ans/hidayatullah.com]
<<image001.gif>>

