Tangisan ABU UBAIDAH BIN AL-JARRAH, Orang Terpercaya Umat Ini
Kamis, 25 Desember 08

Sahabat inilah yang pertama-tama dijuluki sebagai pemimpin para
pemimpin (Amirul Umara). Dialah orang yang dipegang oleh Rasulullah
SAW dengan tangan kanannya seraya bersabda mengenai dirinya,

"Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang
kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah."

Orang kepercayaan inilah yang disebut-sebut al-Faruq RA pada saat akan
menghembuskan nafas terakhirnya, "Seandainya Abu Ubaidah bin al-Jarrah
RA masih hidup, niscaya aku menunjuknya sebagai penggantiku. Jika
Rabbku bertanya kepadaku tentang dia, maka aku jawab, 'Aku telah
menunjuk kepercayaan Allah dan kepercayaan RasulNya sebagai
penggantiku'."

Ia masuk Islam lewat perantaraan ash-Shiddiq di masa-masa awal Islam
sebelum Rasulullah SAW masuk Darul Arqam. Ia berhijrah ke Habasyah
yang kedua. Kemudian kembali untuk berdiri di samping Rasulullah SAW
dalam perang Badar. Ia mengikuti peperangan seluruhnya, kemudian
melanjutkan berbagai peperangan bersama ash-Shiddiq dan al-Faruq RA.

Sikap yang ditunjukkannya dalam perang Uhud menjelaskan kepada kita
bahwa ia benar-benar kepercayaan umat ini, di mana ia tetap menebaskan
pedangnya yang terpercaya kepada pasukan kaum paganis. Setiap kali
situasi dan kondisi perang mengharuskannya jauh dari Rasulullah SAW,
maka ia berperang sembari kedua matanya memperhatikan di mana
Rasulullah SAW bertempur.

Di salah satu putarannya dan peperangan telah mencapai puncaknya, Abu
Ubaidah RA dikepung oleh segolongan kaum musyrikin. Abu Ubaidah RA
kehilangan kesadarannya, ketika melihat anak panah meluncur dari
tangan orang musyrik lalu mengenai Nabi SAW. Ia menyerang orang-orang
yang mengepungnya dengan pedangnya dan seolah-olah ia memegang seratus
pedang, sehingga membuat mereka tercerai berai. Lantas ia berlari bak
terbang menuju Nabi SAW. Ia melihat darah beliau yang suci mengalir
dari wajahnya, dan melihat Rasulullah SAW mengusap darah itu dengan
tangan kanannya seraya bersabda,

"Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melumuri wajah Nabi mereka,
padahal dia menyeru kepada Rabb mereka."*

Abu Bakar ash-Shiddiq RA menerangkan kepada kita tentang fenomena ini
lewat pernyataannya, "Pada saat perang Uhud, ketika Rasulullah SAW
terkena lemparan sehingga dua bulatan besi menancap di dahinya, aku
cepat-cepat menuju Rasulullah SAW. Sementara ada seseorang yang datang
dari arah timur berlari kencang seperti terbang, maka aku katakan, 'Ya
Allah, jadikanlah itu sebagai ketaatan.' Ketika kami sampai pada
Rasulullah SAW, ternyata ia adalah Abu Ubaidah bin Jarrah yang telah
datang lebih dulu daripadaku. Ia berkata, 'Aku meminta kepadamu,
dengan nama Allah, wahai Abu Bakar, biarkan aku mencabutnya dari wajah
Rasulullah SAW.' Aku pun membiarkannya. Ubaidah mengambil dengan gigi
serinya salah satu bulatan besi itu, lalu mencabutnya dan jatuh ke
tanah, gigi serinya pun jatuh bersamanya. Kemudian ia mengambil
sepotong besi lainnya dengan gigi serinya yang lain sampai jatuh.
Sejak saat itu, Abu Ubaidah di tengah khalayak dijuluki dengan Atsram
(yang terpecah giginya, atau jatuh dari akarnya).

Pada saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman
mereka, dan meminta kepada Nabi SAW agar mengutus bersama mereka orang
yang mengajarkan kepada mereka al-Qur'an, Sunnah dan Islam, maka Nabi
SAW mengatakan kepada mereka,


"Aku benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat
dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar
orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya."**

Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah
SAW. Ternyata persaksian ini menjadi keberuntungannya.

Umar al-Faruq RA berkata, "Aku tidak menyukai suatu jabatan pun
sebagaimana aku menyukainya pada saat itu, karena berharap akulah yang
bakal memperolehnya. Aku pergi untuk shalat Zhuhur dengan berjalan
kaki. Setelah Rasulullah SAW mengerjakan shalat Zhuhur bersama kami,
beliau mengucapkan salam, kemudian memandang ke kanan dan ke kiri. Aku
menegakkan punggungku agar beliau melihatku. Tapi beliau terus
mengarahkan pandangannya hingga melihat Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda,


'Keluarlah bersama mereka. Putuskan perkara di antara mereka dengan
haq dalam segala hal yang mereka perselisihkan'."

Akhirnya, Abu Ubaidah RA pergi bersama mereka.
Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Ubaidah RA berjalan di bawah panji
Islam. Sekali waktu ia bersama para pasukan biasa, dan pada kesempatan
yang lain bersama para panglima. Sampai datanglah masa Umar RA, ia
menjabat sebagai panglima pasukan Islam di salah satu peperangan besar
di Syam. Ia mendapatkan kemenangan dari Allah SWT dalam peperangan
ini, hingga ia men-jadi hakim dan gubernur negeri Syam, dan
perintahnya ditaati.

Amirul Mu'minin Umar bin al-Khaththab RA mengunjungi Syam, dan
bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, "Di manakah saudaraku?"
Mereka bertanya, "Siapa?" Ia menjawab, "Abu Ubaidah bin al-Jarrah."
Ketika Abu Ubaidah RA datang, Umar memeluknya. Kemudian Abu Ubaidah RA
membawa Umar RA ke rumahnya. Di dalam rumah tersebut, Umar tidak
melihat sedikit pun perkakas rumah tangga, kecuali pedang, perisai dan
untanya. Umar RA bertanya kepadanya sembari tersenyum, "Mengapa engkau
tidak memiliki sesuatu untuk dirimu sebagaimana dilakukan orang lain?"
Abu Ubaidah RA menjawab, "Wahai Amirul Mu'minin, inilah yang bisa
mengantarkanku ke akhirat."

Pada suatu hari, pada saat al-Faruq Umar bin al-Khaththab RA berada di
Madinah, seorang informan datang kepadanya untuk mengabarkan bahwa Abu
Ubaidah telah meninggal dunia. Mendengar hal itu al-Faruq RA
memejamkan kedua matanya dalam keadaan penuh dengan air mata. Air mata
pun mengalir, lalu dia membuka kedua matanya dalam kepasrahan. Ia
memo-honkan rahmat Allah untuk sahabatnya dalam keadaan air mata
mengalir dari kedua matanya, air mata orang-orang shalih. Air mata
mengalir karena kematian orang-orang yang shalih. Al-Faruq Umar bin
al-Khaththab RA berkata, "Seandainya aku boleh berangan-angan, maka
aku hanya mengangankan sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal
Abu Ubaidah."

Kepercayaan umat meninggal dunia di atas bumi yang telah
dibersihkannya dari paganisme Persia yang beragama Majusi dan dari
keangkara murkaan Romawi. Di sana pada hari ini, di bawah tanah
Yordan, jasad yang suci dikebumikan. Ia menjadi tempat bagi ruh yang
baik dan jiwa yang tentram.

(SUMBER: Dinukil dari Rijal Haula ar-Rasul SAW, hal. 160-180)

-- 
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke