----- Original Message -----
From: Abah Ahsa
Sent: Wednesday, March 11, 2009 9:47 AM
SABTU (7/03/2009) pekan kemarin saya beruntung dikutsertakan menjadi peserta
dalam training “Taktis Menulis Buku” yang diselenggarakan oleh Trim
Communication di salah satu hotel ternama di Bandung. Pesertanya dari
beragam profesi yang hadir, dimulai dari mahasiswa, editor, pengajar,
karyawan Disnaker, karyawan Takaful, presenter TV dan juga seorang ibu sepuh
mantan dosen. Jika tidak salah hitung, ada sekitar 15 peserta yang
masiung-masing berasal dari Bandung, Jakarta, dan Solo.
Training yang berlangsung dari jam 09.00 hingga sore ini dipandu langsung
oleh Bambang Trim. Siapa yang tak kenal Bambang Trim? Mereka yang
berkecimpung dalam dunia kepenulisan dan penerbitan (editing) pasti
mengenalnya.
Dari training itu saya mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dari beberaoa
pelatihan menulis yang sebelumnya telah saya ikuti. Tidak hanya memberikan
motivasi dan mengubah mindset, tapi juga membimbing bagaimana membuat buku
dari awal hingga akhir: prewriting, darfting, revising, editing, publishing,
dan powerfull writing.
Yang menarik, Pak Bambang Trim, mempersilahkan setiap peserta untuk
menuliskan judul atau tema buku yang akan ditulisnya. Kemudian dibimbing
menurunkannya menjadi outline dan diberi tips untuk pengembangannya agar
tulisannya itu mendalam, luas dan berbobot. Bahkan, diberi tips
mengimajinasikan kover buku dan cara membuat teks punggung buku.
Di tengah acara, novelis Tasaro GK—penulis novel “Galaksi Kinanthi” yang
diterbitkan Salamadani, 2009—hadir untuk berbagi pengalaman dan strategi
menulis karya fiksi, khususnya novel.
Menurut Tasaro, sebuah karya fiksi bisa dikatakan bagus dan akan diterima
dimasyarakat pembaca apabila di dalamnya menyajikan kisah yang baru,
memiliki karakter kuat (bagus), alur cerita yang luar biasa, dan diksi atau
pilihan kata yang menarik. Apalagi jika ditambah dengan tema dengan isu yang
sedang menonjol atau hangat di masyarat, akan membuat makin terasa menarik
atau menyedot orang-orang untuk membacanya.
Setelah jeda istirahat dan makan siang. Penulis, pakar editing dan praktisi
penerbitan, Bambang Trim kembali melanjutkan. Pak Bambang menjelaskan bahwa
penulisan buku berbeda dengan artikel atau feature yang khusus untuk media
masa seperti koran, majalah, jurnal, atau online. “Buku itu isinya tuntas,
mendalam, dan prosesnya panjang,” katanya.
“Menulis buku itu tidak gampang, juga tidak sulit. Tapi hanya soal taktis
saja!” kata Bambang Trim dengan gaya khas. Menurutnya, seseorang yang akan
menulis harus berani buka mata, buka telinga, buka pikiran, buka perasaan,
dan berani mengalami (buka pengalaman). Apabila seseorang sudah melakukan
itu, maka akan keluarlah gagasan yang berwujud tulisan. “Keluarkan buku dari
dirimu!” cetusnya. Bisakah? “Tulislah gagasan yang ada dalam pikiran, yang
dipikirkan, yang dirasakan atau yang dialami hingga menjadi tulisan!”
ujarnya..
“Kumpulkan semua diksi yang berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar,
dan pikirkan. Tulislah diksi-diksi itu dan rangkailah dalam sebuah jalinan
cerita hingga berwujud tulisan. Ingatlah, gagasan yang tidak segera ditulis
akan diambil orang!” pesannya.
Karena itu, seseorang yang akan menulis perlu memiliki keterampilan dalam
membuat drafting berupa catatan ide-ide dan outline isi buku yang akan
ditulis, sehingga ide yang muncul dalam pikiran tidak lepas begitu saja.
Hmm…seperti kata Imam Ali bin Abu Thalib, “Ikatlah ilmu dengan
menuliskannya.”
Bambang Trim juga mengatakan bahwa setiap hari tidak lupa membawa buku
catatan kecil untuk menulis ide-ide yang muncul. “Selain mencatat di
handphone, communicator atau blackberry, ya bawa buku kecil dan pulpen untuk
mencatat ide-ide atau hal-hal menarik yang bisa kita kembangkan menjadi
buku,” pesannya.
Hal lainnya, kata Bambang Trim, seorang penulis harus mampu menghadirkan
memori pengetahuan atau pengalaman yang menjadi bahan tulisannya itu dengan
senantiasa mengakrabkan diri dengan membaca referensi, belajar dan berlatih
tiada henti, dan sering melakukan silturahim atau berinteraksi dengan
orang-orang untuk meluaskan wawasannya.
“Jangan membuat buku yang tidak orang sukai, yang tidak dikuasai, dan jangan
membuat buku yang tidak ada referensinya,” pesan Pak Bambang Trim di akhir
acara.
Luar biasa dan mencerahkan. Meski seharian, dari pagi hingga sore, saya
tidak merasa bosan dalam menyerap ilmu kepenulisan yang disampaikan dalam
training itu. Ya, tentu saja selanjutnya yang harus dilakukan adalah
mempraktikannya dengan segera.
Ahsa (Ahmad Sahidin),
pekerja buku dan pengelola blog: http://ahmadsahidin.wordpress.com
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)