nanti malam jam 21.00 di O-Channel jangan lupa ... saksikan Mario Teguh.
  ----- Original Message ----- 
  From: Ramlan Kamarullah 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, March 12, 2009 2:23 PM
  Subject: Bls: [Ar-Royyan-8788] Fw: Siapa Sebenarnya Mario Teguh...?


        pa Agus, sy sngat terkesan dgn tilisan ini, mestinya umat islam 
memiliki maindset seperti pa Mario, biar Islam betul2 dirasakan sbg 
rahmatanlilalamin....

        --- Pada Kam, 12/3/09, Agus Rasyidi <[email protected]> menulis:


          Dari: Agus Rasyidi <[email protected]>
          Topik: [Ar-Royyan-8788] Fw: Siapa Sebenarnya Mario Teguh...?
          Kepada: [email protected], [email protected]
          Tanggal: Kamis, 12 Maret, 2009, 5:06 AM



          ----- Original Message ----- From: ucceph Sent: Wednesday, March 11, 
2009 4:50 PM

          ----- Forwarded Message ----
          From: AH Musyafa Sent: Thursday, March 5, 2009 10:50:13 PM
          Subject: Fw: Sufisme dalam diri Mario teguh

          Buat yang nge-fans Mario Teguh,,,,semoga bermanfaat.

          Petikan Wawancara Mario Teguh dengan SUFINEWS, untuk menjawab siapa
          sebetulnya beliau..

          Pak Mario, Saat memberikan terapi atau memotivasi, di antara Ilmu
          Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

          Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya "peta" yang 
ada
          dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar
          dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah
          kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan
          kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam 
realitas
          kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai 
tiga
          hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari
          ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata
          tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah 
bertentangan
          dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat 
menikmati
          keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau
          kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia 
dapat
          menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati
          (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

          Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

          Ha.ha.ha.terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam
          menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) 
saya
          menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan
          agama Islam secara formal atau verbal.

          Kenapa ?

          Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan
          "ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; 
red)
          kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal 
ketuhanan.
          Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan
          yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa
          ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
          Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam
          itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok
          yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu
          sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya.
          Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus
          tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu
          mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan
          saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam
          bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan
          pemeluk) agama lain.

          Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

          Ha.ha.ha.ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan
          manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya 
tidak
          akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan
          Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas
          orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang
          menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang
          menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, 
Mas.
          Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran 
di
          zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam
          menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada
          orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!?
          Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima
          semua pemeluk agama lain.

          Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk
          agama ?

          "Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri..
          Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, 
sepenuhnya
          bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan 
terjadi
          pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara 
lain,
          produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan
          kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa
          besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan
          penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda 
dan
          menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam
          cermin," begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat
          dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

          Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah
          segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran
          apa-apa disana ?

          Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari 
kepada
          isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang
          tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena
          didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin
          mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya
          merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam
          menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang "cermin",
          akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu
          harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu.
          Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan 
pasukannya
          ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga 
kalian
          sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan harapan campur tangan
          kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang
          tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

          Apa arti sukses menurut anda ?

          Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa
          sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak
          ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua 
bukan
          kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian
          sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya.
          Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone
          kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi 
ini
          Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada
          diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini
          Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi,
          maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan 
yang
          pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin
          percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.
          Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, "Biarlah kita sekarang 
susah,
          asal nanti kita sukses". Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya
          bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan 
besar
          harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang
          mengatakan, "Sukses akan melahirkan sukses yang lain." Nah dari 
pepatah
          ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat
          kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk
          mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang 
lebih
          besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat
          sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

          Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu
          'Atha'illah, yang mengatakan, "Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang 
sunyi
          sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak
          sempurna hasilnya." Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati
          dalam diri kita ?

          O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan
          hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang 
kita
          punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya
          katakan pada diri sendiri, "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin
          mendapatkan input dari sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan
          pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik".

          "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari
          sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan
          dari mana saja agar dapat lebih baik". Jika ditilik dari kehidupan 
kita,
          umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda 
sampaikan
          masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

          Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita
          sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul
          hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, 
dengan
          sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, "Orang itu
          madzhabnya apa ?." Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu
          madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah
          menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara
          Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.
          Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir
          dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat
          yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara "orang 
luar"),
          mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau
          persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri
          perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan
          pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

          Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?

          Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja
          selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka.
          Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya 
ada
          juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku
          bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah.
          Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari
          Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu
          kepada-Nya.

          Pengalaman lain ?

          Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu 
pengalaman
          yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar 
di
          acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta 
penganut
          agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi
          komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan
          lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya 
seorang
          muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya 
seorang
          muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin
          adalah ucapannya, "Loch, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak
          Mario !?" Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus
          menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.
          .




          ------------------------------------------------------------------
          - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
          - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

          Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
          (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. 
Bukhari)

       


------------------------------------------------------------------------------
  Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
  Buat Pingbox terbaru Anda sekarang!

Kirim email ke