----- Original Message -----
From: Taufik Dwidjowinarto
Sent: Wednesday, February 04, 2009 10:01 PM
Sampai dengan saat ini masih sekitar 85% pemilih yang belum mengenal secara
detail tentang caleg yang akan mereka pilih. Begitulah fakta yang didapatkan
dari hasil sebuah survai yang dilakukan di Jawa Tengah.
Disisi lain, konon kata pakar ilmu politik mengatakan bahwa perilaku pemilih
dalam menentukan siapa kandidat yang akan dipilihnya atau siapa kandidat
yang akan didukungnya itu bukanlah ditentukan oleh kualitas maupun kuantitas
informasi yang mereka terima tentang kandidat pilihannya tersebut, tetapi
dipengaruhi oleh kemampuan pemilih itu dalam mengolah dan mencerna informasi
itu.
Dengan kata lain, para kandidat para Caleg -maupun juga kandidat para Capres
dan Cawapres- tak perlu mengutarakan program dan visi serta misi yang
muluk-muluk, cukup sekedar jargon sederhana saja yang diutarakan dalam
bahasa yang gampang dicerna dan mudah difahami.
Mungkin begitulah karakteristik para pemilih yang sesungguhnya mereka tak
perduli bahkan tak mau perduli dengan detail informasi berkaitan dengan
pilihannya terhadap kandidat Caleg/Capres/Cawapres. Bekalnya dalam memasuki
bilik suara cukuplah ‘feeling’ bahwa si kandidat yang akan dipilihnya itu
terlihat ‘baik’. Bahkan mungkin pilihannya itu ditentukan sedetik dua detik
sebelum mencontreng. Jika demikian maka pantes sajalah jika berulang-ulang
pemilu tetap saja selalu salah pilih.
Celakanya, walau sesederhana itu dasar pertimbangan dalam menentukan
pilihannya, namun memilih untuk tak memilih itu haram, jadi ya sangat bisa
jadi jika ngawur saja pilihannya. Dalam arti kata, memilih
Caleg/Capres/Cawapres ya digampangkan dan dianggep enteng-enteng saja,
disamakannya seperti memencet tombol handphone mengirimkan sms dukungan
terhadap para kandidat di acara-acara kontes idol-idolan.
Padahal pemilu itu bukanlah sekedar sebuah acara kontes idol-idolan, namun
pemilu adalah hal yang sangat serius, dimana pilihan kita itu akan
menentukan arah kehidupan bangsa ini, yang didalamnya itu termasuk anda,
keluarga anda, dan yang terpenting juga 250 jutaan orang lain diluar diri
kita.
Masihkah kita tetap tak ingin mengetahui informasi secara detail tentang
para Caleg/Capres/Cawapres yang akan kita pilih itu ?.
Wallahua’lambishshawab.
***
Masyarakat ternyata masih bingung dalam menentukan calon anggota legislatif
pada Pemilihan Umum 2009 meskipun sosialisasi dan kampanye terselubung
gencar terjadi di Jawa Tengah.
Hasil survei menunjukkan, sekitar 85 persen masyarakat masih belum tahu
caleg secara detail dan 15 persen saja masyarakat yang tahu tentang caleg
yang akan dipilih. Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pembangunan Daerah
(LPPD) Semarang Teguh Yuwono, Selasa (3/2), memaparkan hasil survei yang
dilakukan di 10 daerah pemilihan Jateng dengan responden 1.000 pemilih
potensial.. Survei juga menunjukkan tingginya angka pemilih yang belum
mengetahui caleg yang akan dipilih akibat buntunya komunikasi. ”Caleg yang
gencar memasang poster atau spanduk itu ternyata fungsinya hanya sebatas
perkenalan diri. Pemilih masih belum mengenal atau mengetahui langsung
calonnya,” kata Teguh Yuwono, yang melakukan survei selama Desember 2008.
Teguh Yuwono menyatakan, ada tiga faktor yang mendorong pemilih menetapkan
calegnya, yaitu sudah kenal, suka dengan program, lalu mendukung dan
memilihnya pada Pemilu 2009. ”Tetapi, kenyataannya, pemilih sebagian besar
masih belum mengenal atau mengetahui caleg yang akan dipilihnya,” katanya.
Besarnya jumlah pemilih yang belum mengenal caleg ini merupakan tantangan
bagi Komisi Pemilihan Umum untuk terus melakukan sosialisasi lebih gencar.
Sejak Mahkamah Konstitusi menetapkan caleg terpilih adalah caleg yang
memperoleh suara terbanyak, hal itu menggeser paradigma peran parpol ke
peran individu caleg di masyarakat. Selain itu, banyaknya pemilih yang tidak
mengenal caleg ternyata juga akibat caleg yang tidak melakukan kontak
langsung dengan konstituen. Pemilih juga tidak memiliki akses langsung ke
caleg. Caleg banyak menggunakan pihak ketiga untuk berkomunikasi dengan
pemilih.
Teguh Yuwono mengemukakan, survei juga menunjukkan bahwa pemilih sebagian
besar menentukan caleg pilihannya berdasarkan kemampuan ekonomi caleg. Caleg
yang mampu dari segi ekonomi dan akademi dipilih sekitar 36,6 persen,
sedangkan caleg yang punya program kerja baik dipilih oleh 31,1 persen dan
sisanya caleg paduan keduanya. ”Pemilih juga menyukai caleg yang tampil
percaya diri berdasarkan kemampuannya. Pemilih tidak suka terhadap caleg
yang terlalu mengandalkan tokoh-tokoh lain, seperti Bung Karno, atau
figur-figur lokal. Caleg yang memajang foto dirinya dengan latar belakang
tokoh nasional atau figur lokal atau foto ayahnya menunjukkan, caleg itu tak
percaya diri dengan kemampuannya,” kata Teguh Yuwono, yang juga dosen FISIP
Universitas Diponegoro, Semarang.
Mengenai peran orang ketiga dalam memengaruhi pilihan caleg, Teguh Yuwono
memaparkan bahwa peran tokoh masyarakat dipercaya 28 persen pemilih. Disusul
22 persen pemilih menentukan caleg pilihannya sendiri dan 21 persen atas
dasar panutan tokoh agama di lingkungannya. Pemilih yang mencontreng caleg
karena masih ada hubungan famili hanya 7,5 persen dan caleg memilih pasangan
suami-istri hanya 9 persen.
Survey Politik : Sebanyak 85 Persen Pemilih Belum Kenal Caleg.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/0024528/sebanyak.85.persen.pemilih.belum.kenal.caleg
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)