Menang-kalah memang harus melalui perang. Menyodorkan sebuah alternatif (sebaik apapun, bahkan yang berasal dari Allah) apakah selalu langsung diterima umat, tanpa melalui perang?
Inti pesan artikel tsb: kalau perang melalui pemilu, media massa/opini, selalu kalah, so what? Apa lalu sebaiknya perang fisik saja? Dor ... dor ... Silakan direnungkan .... --amin Pada 15 April 2009 11:57, A. Yahya Sjarifuddin <[email protected]> menulis: > Happy Reading :) > > ----- Forwarded message from Sawalludin Mulyadi > <[email protected]> ----- > > > Hasil Pemilu dan Khilafah Jalan Baru Dunia, termasuk Indonesia > > Sebagian orang masih menganggap, bahwa pemilu adalah jalan perubahan. > Karena, melalui pemilulah, mandat bagi penyelenggara negara itu diperbarui, > baik bagi mereka yang duduk di kursi legislatif maupun eksekutif. Namun, > bagi yang percaya bahwa pemilu merupakan jalan perubahan, kini harus gigit > jari. > > Pemilu kali ini, setidaknya berdasarkan perhitungan Quick Count LSI, > menunjukkan, bahwa Partai Demokrat mendapatkan 20.27% suara, diikuti Golkar: > 14.87% suara, PDIP: 14.14% suara, PKS: 7.81% suara, PAN: 6.05% suara, PPP: > 5.32% suara, PKB: 5.25% suara, Gerindra: 4.21% suara, Hanura: 3.61% suara > dan PBB: 1.65% suara (TVOne, 9/4/2009). Dengan hasil seperti ini, terbukti > bahwa pemilu tidak membawa perubahan, bahkan semakin mengokohkan partai > pemerintah, yaitu Partai Demokrat, Golkar, dan koalisi partai pemerintah, > seperti PKS, PPP, PKB dan PBB. > > Meski, dibayangi sejumlah masalah, mulai dari golput yang mencapai 40% dari > 171.068.667 pemilih, kisruh DPT (daftar pemilih tetap) hingga kerusuhan di > Abepura, Papua, namun hajatan demokrasi itu akhirnya toh tetap berjalan. > Terlepas dari semuanya itu, ada yang menarik dari Anas Urbaningrum, Ketua > DPP Partai Demokrat (9/4/2009), ketika mengomentasi kemenangan partainya, > bahwa ini adalah bukti rakyat lebih percaya pada sesuatu yang sudah pasti, > ketimbang coba-coba dengan sesuatu yang belum pasti. Di tempat terpisah, > Tifatul Sembiring, Presiden PKS (9/4/2009), menampik anggapan bahwa ini > bukti kalau partai Islam tidak laku. Sementara itu, Golkar, yang mengalami > penurunan suara yang signifikan dalam pemilu kali ini, melalui Ketua > Umumnya, Jusuf Kalla (9/4/2009), menengarai telah terjadi kecurangan dalam > pemilu. > > Iya, untuk menang, apapun memang bisa dilakukan. Mulai dari penurunan BBM > menjelang pemilu, BLT hingga iklan. Dana ratusan milyar rupiah pun telah > digelontorkan untuk iklan, baik di televisi, radio maupun koran. Semuanya > itu dilakukan demi memoles citra partai, politisi dan figur sentralnya. > Dengan begitu masifnya iklan yang ditayangkan, rakyat pun lupa akan > kejahatan partai, politisinya, bahkan pejabat penyelenggara negara. Pendek > kata, semua cara menjadi halal, demi meraih kemenangan. Celakanya, partai > yang mengaku sebagai partai Islam pun ikut-ikutan. Sayangnya, meski semua > identitas keislamannya telah dikorbankan, toh nyatanya tidak menang. > > Di sisi lain, di luar gelanggang, ada juga segelintir orang yang menyerukan > pemenangan Islam melaui pemilu. Padahal, mereka tahu bahwa belum pernah ada > sejarahnya, Islam menang melalui pemilu. Sebut saja Masyumi dan NU, yang > masing-masing memenangi 112 dan 91 kursi pada pemilu 1955, akhirnya toh > tetap tidak bisa memerintah. Masyumi kemudian dibubarkan oleh Soekarno pada > tahun 1960. Cerita yang sama juga terjadi pada FIS di Aljazair. FIS yang > menang pada pemilu 1991 putaran I, dan menguasai 81% kursi parlemen, dan > menang telak pada pemilu putaran II pada tahun yang sama, akhirnya > dibubarkan oleh junta militer. Cerita yang sama juga terulang pada Hamas, > sebagai pemenang pemilu di Palestina. > > Karena itu, mengharapkan terjadinya perubahan, apalagi kemenangan Islam > melalui pemilu jelas tidak mungkin. Daripada berharap kepada sesuatu yang > tidak mungkin, lebih baik seluruh potensi umat dikerahkan untuk membangun > jalan baru, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh Nabi saw. dalam mewujudkan > perubahan. Jalan yang terbukti telah mampu mengubah bangsa Arab, dari bangsa > yang tidak mempunyai sejarah, sampai akhirnya menjadi pemimpin dunia. > > Jalan baru ini bukan saja dibutuhkan oleh Indonesia, tetapi juga seluruh > umat manusia di dunia. Betapa tidak, setelah Islam tidak lagi berkuasa, > tepatnya setelah institusi Khilafah diruntuhkan pada tanggal 3 Maret 1924 > M/28 Rajab 1342 H, dunia nyaris dalam genggaman Kapitalisme dan Sosialisme. > Hasilnya, sebelum krisis keuangan global, ada 4 milyar jiwa, atau separo > penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan; 90% kekayaan dunia pun hanya > dikuasai 20% penduduk dunia, sementara 10% sisanya harus dibagi 80% penduduk > dunia yang lainnya. Ketika krisis keuangan menerpa dunia sejak 2007 hingga > sekarang, para pemimpin G-7 tidak mampu memikul beban krisis tersebut. > Mereka pun melibatkan para pemimpin G-20. Dalam pertemuan mereka di London > baru-baru ini, disepakati paket stimulus ekonomi sebesar USD 5 triliyun. > Lebih dari USD 700 milyar di antaranya digunakan untuk membantu IMF. Apa > yang mereka sebut stimulus ekonomi, bailout maupun yang lain, nyatanya bukan > untuk menyelamatkan kelompok 80% penduduk dunia, yang nota bene lebih > membutuhkan, tetapi justru untuk membantu kelompok 20%, dan tidak lain untuk > mempertahankan penjajahan mereka terhadap dunia. > > Di Indonesia sendiri, pada tahun ini terdapat 10,24 juta rakyat mengganggur; > 33 juta lebih hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan jika menggunakan > standar Bank Dunia, angkanya bisa mencapai 100 juta orang; 90% kekayaan > migas kita juga telah dikuasai oleh asing. Belum lagi kekayaan alam yang > lainnya. Lihatlah, kekayaan alam kita yang melimpah ternyata hanya > menyumbang 20% pendapatan di APBN, sementara 75% nya diperoleh dengan > memalak rakyat, melalui pajak, sisanya 5% dari perdagangan, dan lain-lain. > > Inilah realitas sistem Kapitalisme Sekularisme dan Liberalisme yang > mencengkram kehidupan kita. Pertanyaannya, masihkah kita berharap kepada > sistem seperti ini, yang terbukti telah menghempaskan dunia, termasuk > Indonesia, dalam jurang kehancuran? Orang yang berakal sehat, tentu akan > menjawab tidak. Itulah mengapa, seorang Angela Merkel, Kanseler Jerman, > beberapa waktu lalu pernah menyatakan, bahwa dunia membutuhkan sistem > alternatif. > > Benar. Dunia, termasuk Indonesia, memang membutuhkan sistem alternatif. > Sistem itu adalah sistem Khilafah. Bukan yang lain. Bahkan, tesis ini pun > berkembang di kalangan intelijen dan ahli strategi, "Setelah tesis > Liberalisme-Kapitalisme gagal mensejahterakan dunia, kekhilafahan seharusnya > muncul sebagai penggantinya. Karenanya, Islam perlu menjawab tantangan > globalisasi dengan membangun Khilafah Universal. Hanya sistem inilah yang > bisa mengatur dan mensejahterakan dunia, karena tatanan Sekular-Kapitalisme > telah gagal." ungkap AM Hendropriyono (Sabili, no 19 TH XVI, 9 April 2009, > hal. 28). Tesis ini memang bukan hal baru. Bahkan ahli strategi AS dan > Rusia, termasuk NIC, sebelumnya pernah menyatakan akan kembalinya Khilafah. > > Inilah jalan baru yang dibutuhkan oleh dunia, termasuk Indonesia saat ini. > Jalan yang akan mengubah wajah dunia yang didominasi kezaliman, menjadi > wajah dunia yang adil dan makmur. Jalan itu pun telah dirintis oleh Hizbut > Tahrir sejak tahun 1953. Dari bagian barat, ruangan Masjidil Aqsa, 56 tahun > silam, jalan baru itu dirintis oleh seorang pemikir, politikus ulung dan > mujtahid mutlak, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Kini jalan baru itu telah > diemban oleh jutaan umat Islam, dan berkembang di lebih dari 40 negara. > Sehingga ada yang mengatakan, Hizbut Tahrir saat ini telah menjelma menjadi > kelompok politik terbesar di seluruh dunia, bukan hanya di dunia Islam, > tetapi juga di Barat dan Timur. Tentu saja, semuanya ini berkat komitmen dan > keteguhannya, dan pasti dengan izin dan pertolongan Allah SWT semata. > > Hizbut Tahrir bersama umat Islam di seluruh dunia kini siap menyongsong > kabar gembira, kembalinya Khilafah. "Pada saat itulah, hati seluruh kaum > Mukmin akan bergembira, karena pertolongan Allah." (Q.s. ar-Rum [30]: > 4-5)(Hafidz Abdurrahman) > ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

