Jilbab Buka-tutup
http://www.eramuslim.com/oase-iman/jilbab-buka-tutup.htm
oleh Dwi Indarti
Kasus I
Di sebuah resepsi pernikahan mewah seorang bos , seorang wanita
menyapa saya. Sejenak, saya tertegun menatap wajah wanita yang
mengenakan gaun malam ketat dengan belahan rendah di bagian dada itu.
Sepertinya, saya mengenali wanita tersebut. Perlu waktu sekitar satu
menit sebelum saya benar-benar mengenalinya. Anita-sebutlah demikian-
adalah teman satu kantor tetapi beda divisi. Saya shock sekali melihat
penampilan Anita malam itu. Pasalnya, saya terbiasa melihat dia di
kantor sehari-hari dengan jilbab. Saat itu saya hanya bisa terpana dan
tertegun, sedangkan Anita dengan santai dan senyum berlalu dari
hadapan saya untuk menyapa tamu-tamu undangan yang lain. Masih penuhi
oleh rasa terkejut dan penasaran, saya kemudian mencari teman kantor
yang lain dan menceritakan perihal Anita. Teman saya itu menjawab,"Oh,
Anita memang seperti itu. Buka-tutup. Kalau ke pesta, atau habis dari
salon, dia gak pakai jilbab." Hmm.
Kasus II
Sari-bukan nama sebenarnya-seorang gadis berjilbab berterus terang
kepada saya bahwa dia tidak memakai jilbab jika sedang 'jalan' dengan
seorang lelaki yang menjadi pacarnya. Mendengar pengakuannya, alis
saya terangkat dan kening saya berkerut. "Loh kok begitu ? Memangnya
kenapa harus buka jilbab. Pacaran saja sudah di larang, ini kok
ditambah buka-buka aurat?" Tanya saya. Ternyata, Sari merasa jilbab
membuatnya merasa terlihat lebih tua. "Gue kan malu, Wi. Umur gue kan
emang lebih tua dari cowok gue, yaah..Cuma beda beberapa bulan aja
sih. Kalau gue jalan sama dia pakai jilbab, gue keliatan makin tambah
tuir. Lebih bebas tanpa jilbab. Kata cowok gue, gue keliatan kaya anak
SMA, ABG gitu loooh.Lagian, cowok gue lebih suka gue lepas jilbab
kalau lagi sama dia..begitu, jeung.!" o.o..w
Kasus III
Mba Yani-juga nama samaran- teller sebuah bank swasta mengeluh kepada
saya bahwa dia belum diperbolehkan memakai jilbab. Padahal dia sudah
naik haji tahun lalu dan ingin sekali menutup auratnya dengan
sempurna. Saya heran. Ah, masa sih ? Padahal kan sudah banyak bank
yang pegawai wanitanya memakai jilbab bukan hanya di bank-bank
Syariah. "Yah, gak tau deh. Yang pasti di Bank Panin belum boleh pakai
jilbab. Jadi, sementara ini solusi buat saya adalah buka-tutup.
Berangkat pakai jilbab, selama jam kerja lepas jilbab, nanti pulang
dipakai lagi." Tuturnya. Kasus Mba Yani ini sama dengan seorang
Cleaning Service yang sempat mengobrol dengan saya. "Mba sih, enak.
Gak masalah kerja pakai jilbab. Kalau di tempat saya, belum boleh tuh
! Pilihannya, buka jilbab pas lagi kerja atau cari kerja di tempat
lain."
Tiga kasus di atas membuat saya merenung sejenak.
Pada kasus Anita dan Sari, apa sih yang menjadi alasan kuat mereka
untuk melepaskan kain penutup kepala itu ? Rasanya, tidak ada. Mereka
tidak di larang oleh pihak perusahaan tempat mereka bekerja untuk
memakai jilbab seperti Mba Yani dan gadis Cleaning Service. Mungkin
yang harus di tanyakan kepada mereka adalah apa yang menjadi dasar
ketika mereka memutuskan untuk memakai jilbab.
Dasar yang utama adalah perintah Allah dalam Alquran.
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha
pengampun lagi Maha penyayang". (QS 33:59)
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau
putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang
mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang
aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian
kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."(QS
24:31)
Jilbab bukan sekedar mode sesaat yang dipakai jika sedang 'trend' dan
di lepas jika sudah tidak 'nge-trend' lagi. Jilbab adalah kewajiban
bagi seorang wanita muslim yang telah baliqh. Andrea Hirata menulis di
salah satu bukunya, Sang Pemimpi "Bagiku jilbab adalah piagam
kemenangan gilang gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan
Islam atas dirinya, atas imannya dan atas dunia."
Jilbab adalah identitas wanita Islam, mahkota yang harus di junjung
tinggi. Jika seorang wanita telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia
harus siap dengan segala konsekuensinya. Siap menjaga sikap dan
perilakunya. Sebab, jika seorang wanita berjilbab melakukan hal-hal
yang tidak semestinya, maka yang dituding bukan hanya diri wanita itu,
tetapi jilbab dan Islam. Contohnya, jika seorang wanita berjilbab
merokok di tempat umum, maka masyarakat akan berkata "Kok pakai jilbab
merokok ?" Jilbab dan Islam mendapat kesan negatif. Terlepas dari
segala argument tentang hak asasi seseorang untuk bebas melakukan
apapun sepanjang tidak mengganggu kepentingan orang lain, wanita yang
telah memutuskan untuk berjilbab hendaknya menjaga adab perilaku.
Untuk kasus buka-tutup yang diuraikan di atas, saya berpendapat bahwa
sebaiknya mereka -kaum muslimah- meluruskan niat, membekali diri
dengan pemahaman dan ilmu yang cukup terlebih dahulu sebelum
memutuskan untuk memakai jilbab. Karena bagi saya, detik saat
memutuskan untuk memakai jilbab sama seperti membeli 'one way ticket'.
Maksudnya, tidak bisa berjalan mundur kembali. Dalam hal ini tidak ada
alasan untuk menanggalkan jilbab kecuali pada mereka yang memang
muhrimnya. Untuk yang 'terpaksa' buka-tutup jilbab karena alasan
ekonomi, maka perbanyaklah mencari ilmu untuk mempertebal keyakinan
bahwa rejeki itu sudah di atur-NYA. Tidak mungkin Allah mempersempit
rejeki karena kita menjalankan apa-apa yang diperintahkan-NYA.
Saya bukanlah seorang 'jilbaber'-jilbab super lebar dan gamis
gombrong- namun saya terus belajar untuk meluruskan niat, memperkuat
iman , mempertebal keyakinan dan memperbaiki diri.
Saya juga tidak berani 'nge-judge'' bahwa mereka yang memakai
jilbab'biasa' tidak sebaik mereka yang berjilbab lebar dan gamis.
Sebab hanya Allah yang Maha Tahu dan berhak menilai masing-masing
orang. "Don't judge a book by its cover"
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)