Ternyata Hidup Kita Tidak pernah ada yang Sia Sia Kemarin Sengaja aku mendatangi salah satu pusat Perbelanjaan buku di Depok, seperti kebiasaan yang selalu aku canangkan bahwa setiap bulan Minimal aku harus punya perbendaharaan buku baru untuk dibaca dan sebagai tambahan ilmu, yah..minimal 1 buku baru dalam satu bulan, bukan apa apa, jika memang tidak diniatkan terkadang malah uangnya suka habis percuma tanpa ada hal yang bisa ditambah (kecuali untuk Infaq dan shadaqah tentunya). setelah cukup lama berkeliling aku mendapatkan sebuah buku yang cukup menarik perhatianku, buku itu berjudul "Rembulan Tenggelam di WajahMu" karangan Tere Liye, bagi yang sudah pernah membaca buku ini mungkin sudah tau dan bisa menebak alur cerita yang dibicarakan, hanya mungkin bagi yang belum tau/belum pernah membaca buku ini, ada sedikit kisah menarik yang mungkin bisa aku bagi dengan kalian, sebetulnya buku ini menceritakan tentang kisah perjalanan panjang seorang bocah yatim piatu yang memendam pertanyaan pertanyaan tentang kehidupan.Yang menurut dia kehidupan ini sangat tidak adil. kehidupan yang dijalani dengan begitu sulit, perjalanan yang penuh dengan lika liku, penuh luka dan air mata. salah satu kutipan cerita yang menarik adalah “kehidupan ini tidak sia-sia. “Besar kecil, semuanya berarti”, bagi binatang, tumbuh tumbuhan, dan benda-benda mati lainnya kehidupan adalah sebab akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. Setandan buah pisan gmasak masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian lama, seekor buaya ditentukan jenis kelaminya berdasarkan hangat dinginnya suhu induk yang mengerami…. Tidak ada yang melanggar aturan main itu.., tidak ada buah pisang yang masak lebih cepat, Bunga melati yang layu lebih lama. atau ada anak buaya yang menjadi pejantan padahal suhu udara induk yang mengeraminya menjadikan betina. Hukum alam Sebab Akibat… bagi manusia, hidup ini juga sebab akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupan kita menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian dari siklus itu entah akan kembali lagi ke garis kehidupan kita … saling mempengaruhi saling berinteraksi sungguh jikalau dilukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit… dalam buku tersebut juga ada ilustrasi : dulu ada seorang arab tua, renta, sakit sakitan. Selama delapan puluh tahun arab tua itu tinggal di oase gurun, kehdupan oase yang biasa saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna. Tidak berarti.. “berkali-kali dia bertanya kepada dirinya sendiri, buat apa hidupnya begitu panjang kalau hanya untuk terjebak di oase itu. Saat oase itu mulai mengering, saat orang-orang mulai pindah, menyedihkan.. dia justru memaksakan diri bertahan. Mengutuk tubuh tuanya yang tidak bisa lagi diajak pergi. Benar-benar kesiaan dalam hidup.. “delapan puluh tahun percuma … dia menjalani masa kanak-kanak sama seperti teman-temannya. Menjadi remaja yang tak bosan bicara cinta sama seperti remaja lainnya sterusnya. Sama seperti penduduk oase lainnya. Istrinya meninggal saat tubuhnya beranjak tua, beberapa tahun kemudian anak-anaknya pergi ke kota-kota lain. Dan dia tertinggal. Sendirian, hanya sibuk berteman dengan pertanyaan apa arti seluruh kehidupan yang dimilikinya.. “suatu hari serombongan karavan melintas di puing-puing oase yang mengering. Mereka tiba persis saat arab tua itu mati di rumah yang kecil dan buruknya. Lihatlah hingga maut menjemput arab tua itu tidak tahu apa sebab akibat hidupnya…, karavan itu tidak peduli, meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh-penuh tempat air. Hanya satu yang peduli. Orang itu berbaik hati menguburkan arab tua tersebut. “ternyata orang yang berbaik hati itu terselamatkan dari pembatain suku badui, kwanan bandit yang menguasai gurun .. karavan yang pergi lebih dahulu itu ternyata binasa, tidak bersisa. Orang yang berbaik hati itu menguburkan arab tua itu baru berjalan esok harinya menemukan bangkai dan sisa-sisa pertempuran mereka saat meneruskan perjalanan. Tahukah, lima generasi berikutnya, dari orang yang berbaik hati itu ternyata lahir seorang manusia pilihan. Manusia pilihan yang orang-orang kelak menebutnya al amin… Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau arab tua itu tidak meninggal hari itu, bukan? Orang baik itu juga ikut terbantai, Bukan?, apakah yang akan terjadi dengan generasi kelima keturunannya kalau arab tua itu tidak tinggal menyesali di oase. Bagaimana dengan nasib pembawa risalah itu… itulah sebab akibat kehidupannya. Yang sayangnnya tidak dia ketahui hingga maut menjemputnya… Apakah cerita ini benar terjadi? Tentu saja tidak, tetapi mungkin saja , Bukan……, tidak ada yang tahu. Dari andai-andai itu setidaknya kita bisa membayangkan betapa hebatnya penjelasan sebab akibat seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab akibat kehidupannya… dengan tidak tahu, maka kita yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sisa dalam kehidupan akan selalu berbuat baik…. Setiap keputusan yang akan kita ambil. Setiap kenyataan yang harus kita hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan ktia sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan menyadari akan selalu berharap perbuatan berakibat baik keorang lain Isilah kehidupan kita dengan perbuatan baik, mungkin apa yang dilakukan terlihat sia-sia, mungkin yang dilakukan tidak ada harganya bagi orang lain…., tetapi percayalah suatu perbuatan baik kita akan menadi sebab dan akibat yang baik pula bagi kita dan orang lain…. luar biasa bukan, ternyata hidup ini sangat indah jika kita bisa menempatkan posisi kita dengan baik, ada beberapa kalimat yang aku kutip dari buku tersebut : Tentang penderitaan dan sakit hati “..kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi….Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara….Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian yang menyakitkan itu lah yang abadi…” Tentang persaudaraan “ Kita akan tetap menjadi saudara di mana pun kita berada, kita sungguh akan tetap menjadi saudara….tidak ada yang pergi dari hati….tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan…kita SUNGGUH akan TETAP menjadi SAUDARA” Tentang perbaikan diri “Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya…Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian..” Tentang keikhlasan seorang istri pada suaminya “Yang aku butuhkan adalah keikhlasanmu dan ridhomu atas semua yang kulakukan untukmu *)”
Jadi kawan, mari kita mulai hidup kita dengan menebarkan benih kebaikan, karena siapa tau kebaikan yang kita tebarkan dapat merubah hidup orang lain menjadi lebih baik karena semuanya sudah ditetapkan dan semuanya akan ada balasannya. Wallahu'alam Bishawab Cikarang 18 May 2009 Created by : Alhamd Alyasin( [email protected] ) ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

