Bener nggak sih berita ini.........??
...bu Prita terpisahkan dg anak2nya..smoga kesabaran & ketabahan buat
beliau & keluarga..
***
Selasa, 02/06/2009 14:31 WIB
Menulis di Internet Dipenjara
Takut Trauma, 2 Anak Prita Tak Pernah Diajak ke LP
Irwan Nugroho - detikNews
Facebook
Jakarta - Sejak ditahan di LP Wanita Tangerang, Banten, pada 13 Mei lalu,
Prita Mulyasari terpisah dari dua buah hatinya, Ranarya (1) dan Ananta (3).
Ananta sering menangis menanyakan keberadaan ibunya.
"Jadi ya memang anak-anak sedikit rewel. Kita bicaranya dengan anak-anak
itu ibunya sedang di rumah sakit," kata kakak Prita, Arief Danardono,
kepada detikcom, Selasa (2/6/2009). Saat ditelepon, Arief sedang berada di
luar LP tersebut.
Dikatakan Arief, anak-anak yang masih balita tersebut belum pernah dibawa
menjenguk Prita. Pertimbangannya, karena keluarga khawatir mereka trauma
mengetahui keadaan ibundanya.
Komunikasi lewat telepon pun, lanjutnya, belum pernah dilakukan antara
Prita dan anaknya. "Yang jelas di dalam (tahanan) nggak ada komunikasi dan
nggak boleh," cetusnya.
Prita ditahan karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS
Omni International Tangerang lewat internet. Rencananya perempuan yang
bekerja di bank swasta itu akan menjalani sidang pidana pada 4 Juni 2009.
Kasus yang menimpa Prita ini berawal dari email yang dia kirim kepada
teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS Omni. Email tersebut kemudian
menyebar ke publik lewat milis-milis.
Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter RS Omni ketika
dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semua memvonis Prita
menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus
udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan
dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.
Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena
kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu
tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa
yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya
dia saja yang mengalami hal serupa.
Prita dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik. Hukuman 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar
mengancam Prita.
(irw/nrl)
"A. Yahya
Sjarifuddin"
<[email protected] To
r.id> [email protected],
[email protected]
06/02/2009 10:01 cc
Subject
Please respond to [Ar-Royyan-8971] Re: [porsenipar]
[email protected] Pengalaman Sdri, Prita Mulyasari
om RS. Omni Tangerang.
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya,
terutama anak-anak, lansia dan bayi.
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title
International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka
semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya
mengalami kejadian ini di RS Omni International.
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas
tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa
RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai
ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya
wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan
sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu
thrombosit 27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang
akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama
sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky.
Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan
dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau
ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan
pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil
lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan
revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster
perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu
dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi
saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam
bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya
memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir
positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya
percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya
meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih
terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus
menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan
disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan
suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang
sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin
naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga
tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan
akan menunggu dr. Henky saja.
Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster
untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter
tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara.
Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap
menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan
kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit
sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang
namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih
dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan
seperti tangan kiri saya.
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak
dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami
namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya,
suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan
sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri
saya.
Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut
malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan
kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat
mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai
ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan
saja. Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan
keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak
mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya
membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan
dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal
itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow
upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit
saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah
saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan
hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk
bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam
tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya
benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak
ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh
tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.
Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas
nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service
manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian
yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000
makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi
thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah
complaint saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi
complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab
27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng
antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan
alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan
memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut
analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah
parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki
bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas
mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi
saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan
macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang
saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000
tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan
meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.
Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum
ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon
dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan
bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya
tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali
saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada
tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang
keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta
disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan
membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada
alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen
Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang
mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS
ini cantum.
Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat
tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke
resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati
kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan
kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan
27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang
mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS
Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya
ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif
saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa
kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya
27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan
tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin
parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan
ini.
Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr.
Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan
kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan
waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
masing-masing, benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh
sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh
mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan
dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya
keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan
membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami
di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr.
Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia
kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.
Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak
mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari
dokter ini.
Dokter utama yang handle saya adalah : dr. Hengky Gosal, SpPD.
Dokter umum UGD adalah : dr. Indah Prameshwarie.
Untuk kepala labnya, manager customer service dan coordinator customer
service hanya nama saja karena mereka tidak memberikan kartu nama :
dr. Mimi (kepala lab), Ogi (coordinator customer service) dan dr. Grace
(customer service manager).
salam,
Prita Mulyasari
Sumber: http://maleakhi.com/?p=98
rudi hardianto wrote:
> Betul sekali pak Krisna................ kita semua hanya memberi
> pertimbangan..keputusan terakhir ada di Pasien dan keluarga
> pasien..dengan sedikit lebih berhati-hati dan perbanyaklah bertanya
> (second opinion) kepada teman/tetangga yang punya pengetahuan di
> bidang medis...Insya Allah akan diberi jalan terbaik yah Pak.
> Semoga sedikit banyak mebantu dan meberi pertimbangan.
>
> Wassalam,
>
> Rudi hardianto
> ========================
>
> 2009/6/1 Krisna Hillend <[email protected]>:
>> Pengalaman saya dengan kelahiran anak ke 2 dan 3 belum pernah merasakan
>> kejanggalan di rumah sakit tersebut, malah yang ketiga cesar di rs
tersebut,
>> so far ok, tapi ,memang kalau kita kembalikan ke cost, jangan disamakan
>> dengan Azra atau rmah sakit lainnya yang memang lebih mahal,, dengan
>> kapasitas rs tersebut ya....bisanya cuman begitu... he2 cuman masukan
>> kepada yang membutuhkan..bukannya membela...balik lagi kita yang harus
>> selectif dalam memeriksa, ada kemungkinan juga rs yang lebih bonafit
akan
>> melakukan hal serupa,,,human error.....piss ah..
>>
>> kri
>>
>> 2009/6/1 jaerony <[email protected]>
>>> Waaah ... malpraktek di dunia kedokteran bukan hal sepele lho
>>> Coba ke RS Bina Husada. Pengalaman operasi kecil di sana cukup bagus
>>> termasuk dokternya juga cukup komunikatif manakala harus ditangani oleh
>>> dokter pengganti karena ybs ada tugas lain.
>>>
>>> Salam / Jaerony.-
>>>
>>>
>>> ----- Original Message -----
>>> From: Joko Prasojo
>>> To: [email protected]
>>> Sent: Monday, June 01, 2009 8:36 AM
>>> Subject: Re: [porsenipar] Pengalaman persalinan di RSIA Trimitra
Cibinong
>>>
>>> Pengalaman saya di Trimitra nyarissss...saja jadi fatal.
>>> waktu istri saya hamil tua 8 bulan saya beli Vitamin dari resep dokter
dan
>>> waktu beli di Apotik Trimitra diberi obat sakit perut.
>>> untung waktu itu istri saya mengetahui kalau Vitaminnya kok beda maka
>>> langsung saya ke Trimitra dan Komplain.
>>> tapi apa yang saya dengar dari petugas Apotekernya " maaf pak , maklum
>>> orang baru...."!
>>>
>>> Bener pak " mendingan ke RS lain saja " RS Azra , Hermina atau BMC.
>>>
>>> begitu masukan saya
>>>
>>> jokop
>>>
>>>
>>>
>>> hermawan hari wibowo <[email protected]>
>>>
>>> 30/05/2009 21:30
>>>
>>> Please respond to
>>> [email protected]
>>> To
>>> [email protected]
>>> cc
>>> Subject
>>> Re: [porsenipar] Pengalaman persalinan di RSIA Trimitra Cibinong
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> pengalaman saya di trimitra cibinong ngak begitu meng enak kan, kacau..
>>> mendingan kalau ada dana lebih ke hermina di bogor aja,
>>>
>>> dulu sy pernah sakit flu berat sampe ngak bisa apa apa.. gitu.. naik 32
ke
>>> trimitra.. yang di kasih obat nya cuman obat yang di jual di ucok..
>>> dan dokter nya kayak nya baru aja lulus atau gimana gitu..
>>>
>>> sekedar buat nambah pengalaman aja.
>>>
>>>
>>>
>>> ----- Original Message ----
>>> From: Syauqi Naji <[email protected]>
>>> To: [email protected]; [email protected];
>>> [email protected]
>>> Sent: Saturday, May 30, 2009 5:50:05 PM
>>> Subject: [porsenipar] Pengalaman persalinan di RSIA Trimitra Cibinong
>>>
>>> Assalamu'alaikum wr.wb.
>>>
>>> Mohon infonya bagi yang memiliki pengalaman persalinan di RSIA Trimitra
>>> Cibinong terutama yang menjadi pasien ibu dr.Roslina,SPOG. Kebetulan
>>> kami sedang hunting Rumah sakit dan dokter yang cocok, yang bisa
>>> mengusahakan partus normal setelah adanya pengalaman cecar dipersalinan
>>> pertama.
>>>
>>> Terima Kasih Sebelumnya.
>>>
>>> Wassalammu'alaikum.
>>>
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)