Berjuang untuk Menang
Oleh DH Devita
24 Apr 06 09:00 WIB

Ketika diri kita sudah terbiasa menghadapi berbagai macam rintangan dalam
kehidupan, kita akan mengerti bahwa rintangan itu ada untuk dilewati, dan
melewatinya perlu kerja keras dan kesungguhan. Dan bukan hanya itu, setelah
kita berhasil melewatinya, kita akan mendapatkan kepuasan dan memperoleh
nikmat sesudah kepayahan.

Saya teringat seorang teman yang pernah mengatakan bahwa betapa beruntungnya
si anu yang diberi kemudahan oleh Allah dalam hidupnya. Pada waktu itu yang
ia sebutkan sebagai kemudahan adalah: cepat lulus kuliah dan mudah mendapat
pekerjaan. Si anu yang sedang dibicarakan memang baru saja diterima bekerja
di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan. Teman saya itu
menceritakannya dengan maksud membandingkan dengan dirinya yang hingga waktu
itu belum bekerja, dan sudah 3 bulan lulus dari kampus. Mendengar ia
mengucapkan keluhan itu, saya berkata dalam hati, betapa ia tidak tahu
berbagai kesulitan yang telah si anu lewati sebelum akhirnya Allah
menurunkan rezeki sebuah pekerjaan untuknya. Saya mengenal si anu sama
baiknya dengan teman saya itu. Si anu sudah dua tahun lebih lulus dari
kampus, lebih dulu dari teman saya itu, dan belum juga mendapatkan pekerjaan
tetap. Saya tahu upaya yang telah dikerahkan olehnya selama ini, dan
berbagai sandungan yang ia alami. Ia pernah ditipu oleh seorang teman, dan
akhirnya beberapa juta uangnya hilang. Ia pernah berusaha mendirikan usaha
sendiri, namun akhirnya ditutup setelah setahun tak memberi hasil bahkan
merugi. Ia sudah melamar ke mana-mana dan menjalani banyak sekali proses
interview, tapi tak juga diterima. Dan banyak lagi yang sudah ia lakukan,
dan menurut saya hal-hal itu tidak mudah.

Teman saya itu, tiga bulan setelah lulus, ia diterima bekerja sebagai
seorang sekretaris pada sebuah perusahaan. Sejak itu saya tidak pernah
menanyakan padanya, apakah sekarang ia masih mengatakan bahwa si anu sangat
beruntung dan iri hati padanya. Dan saya pun tidak pernah lagi mendengar ia
berkeluh-kesah tentang keberhasilan si anu.

Begitulah manusia. Sepertinya hal-hal yang berada di luar dirinya kelihatan
jauh lebih baik dan bagus daripada yang telah ada padanya. Tidak pernah
puas, sering lupa bersyukur, dan setiap kali mendapatkan sesuatu, ia pasti
menginginkan hal yang lain lagi. Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa sifat
seperti itu memang selalu ada pada diri manusia. Sebab manusia memiliki
kelemahan dalam syahwat yang bersemayam. Padahal di luar dirinya masih
banyak sekali orang-orang yang mengalami penderitaan yang jauh lebih berat,
sedangkan mereka masih bisa memaknai hidup dengan lebih positif. Bukankah
pikiran yang membawa kita pada perbuatan? Dan akar dari pikiran adalah
aqidah yang benar. Maka bila akar tersebut telah terpancang kuat, ia akan
membentuk pikiran-pikiran positif yang mendorong diri kita untuk berbuat
yang lebih baik dalam kehidupan. Tanpa harus memandang kiri-kanan dengan
perasaan iri, dengki, bahkan akhirnya bernafsu untuk saling menjatuhkan.

Ujian yang datang kepada tiap diri kita tidak pernah sama. Ia akan turun
sesuai porsi kemampuan kita menghadapinya. Semakin baik kualitas keimanan
seseorang, maka semakin kencang pula badai menerpa. Hal ini pasti sudah
diketahui banyak orang, tapi banyak orang sering lupa bila ia sendiri yang
sedang menghadapinya. Menanggapi ujian yang datang dengan lapang hati memang
tidak mudah. Tapi itu adalah salah satu cara untuk menjaga keikhlasan dalam
diri untuk setiap perbuatan, dan meneguhkan diri untuk menang dari segala
macam ujian itu.

Saya tidak tahu mau menyebutkannya sebagai apa, tapi menurut saya, bersyukur
kala ujian datang akan memudahkan kita untuk berjuang melewatinya. Sebab
ketika Allah menurunkan lagi sebuah ujian pada diri kita, saat itu harusnya
kita tahu, bahwa Allah menyimpan sebuah kenikmatan lagi di baliknya. Bila
kita lulus, maka kenikmatan itu akan terasa jauh berkali lipat. Sesuatu yang
diperoleh dengan perjuangan biasanya akan terasa lebih indah. Dan kepuasan
seperti itu tidak hanya akan berakibat kenikmatan dunia, melainkan juga
merupakan saham pribadi untuk membuka pintu surga. Jadi, kita semua memang
harus berjuang untuk menang.


DH Devita

dh_devita at yahoo dot com

http://ayyasykecil.blogspot.com




------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke