----- Original Message -----
From: masjid annahl

Seri : Kisah Sahabat
Ketika Iman Berlabuh di Hati
oleh Mashadi

Walaupun di Mekkah merajalela keberhalaan, dan penyimpangan aqidah, serta
berbagai bentuk kesesatan lainnya, namun di kota ini masih ada kaum yang
memiliki warisan kemuliaan, berupa akhlaq dan moral.
Mereka membela nama dan kehormatan, memuliakan tamu, membantu orang-orang
yang teraniaya, dan membebaskan orang-orang yang terbelenggu dalam
perbudakan.Bahkan, seorang majikan telah biasa membebaskan budak mereka,
hanya karena si-budak itu, tidak lagi sanggup menunaikan tugasnya. Pernah
seorang majikan menyampaikan kepada hamba sahayanya : “ Jika kmu berhasil
membawa seorang tamu ke sini, maka kamu menjadi bebas”, ujar sang majikan.
Begitu kisah yang ada di masa lalu, sebelum Islam membasuh jazirah Arab
dengan cahaya iman dan Islam.
Masyarakat mereka telah melahirkan tokoh-tokoh yan banyak, diantaranya
seperti, Umru-ul Qeis, Zuheir bin Abi Sulma, Nabighah Dzub-yani, Tharafah
bin ‘Abd, Umaiyah bin Abish-Shalt, LUbeid bin Rabi’ah, Ka’ab bin Zuheir, Qus
bin Sa’idah dan Sahban bi Wail.
Abu Bakar, hatinya senantiasa dipenuhi dengan berbagai bisikan yang
berkaitan dengan masalah-masalah yang melingkupi kehidupannya. Lalu,
tergambarlah keutamaan-keutamaan kaumnya dalam bentuk yang paling megah.
Mereka adalah bangsa yang jujur, yang dalam kehidupan dan perilaku mereka
tidak kenal kebohongan dan kepalsuan. Mereka jujur baik dalam hal yang bakal
menguntungkan maupun dalam yang bakal merugikan. Kehidupan mereka terang
seperti terangnya pada pasir yang mereka diami, secercah langit yang
menaunginya.
Dari sifat mulia inilah mereka mendapatkan hikmah. Mereka mampu mencari
jejak dan menangkap isyarat dari barang-barang beku dan makhluk yang ada
disekitarnya. Tetapi, anehnya tak seorangpun diantara mereka yang mengakui
dirinya Nabi. Padahal, keimanan, kesucian, dan perilaku mereka akan
menyebabkan umat menerima dan mempercayainya.
Nah, kenapakah tak seorangpun diantara tokoh-tokoh itu yang berani
mengakuinya? Jawabannya, karena mereak adalah orang-orang jujur. Bahkna,
seorang Arab awam pun takkan berani berdusta, walaupun hanya kepada seekor
unta. Inilah ungkapan yang keluar dari mulut seorang awam kepada untanya
yang sedang kehausan :
“ Saya sebenarnya ingin member harapan, bahwa engkau akan minum hingga, kamu
tidak gelisah lagi. Tapi, saya tak akan sampai hati dan adalah suatu aib
bila bernai mendustaimu dan menyalahi janji”, ujar orang awam itu.
Betapa, seoran awam Arab saja sudah merasa malu untuk membohongi untanya,
apalagi tokoh-tokoh suci yang berkpercayaan tahuhid, takkan mungkin berani
berdusta kepada Allah Ta’ala. Dan, bukankah Nabi itu seorang yang jujur?
Tiada alasan untuk menolak apa yang tertera di dalam kita suci Al-Qur’an.
Bisikan halus yang selau bolak-balik dalam hati dan pikiran Abu Bakar. Dan,
sekarang, karena urusannya di Syria sudah selesai, mak aiapun bersiap-siap
untuk me mbali ke negerinya.
Beberapa hari menjelang kepulangannya, ia bermimpi : “Dilihatnya bulan telah
meninggalkan tempatnya di ufuk tinggi, turun ke Mekkah, kemudian ia
terpecah-pecah yang tersebar ke semua geung dan rumah. Kepingan-kepingan
tadi kembali bersatu dan utuh, sebagaimana semula, kemudian bertengger di
bilik Abu Bakar. Lalu, Abu Bakar terbangun karenanya, dan mimpi itu terus
mengusik fikirannya. Ia segera pergi dan mengunjungi seorang pendeta, yang
telah dikenalnya dengan baik, kemudian menceritakan mimpinya itu. Wajah
pendeta itu pun tampak berseri-seri, lalu berkata :
“Rupanya telah datang saat baginya … “.
“Siapakah yang anda maksudkan?”, Tanya Abu Bakar.
“Apakah nabi yang sedang kita tunggu-tunggu itu?”, tambahnya.
“Benar”, ujar pendeta itu.
“Dan, anda akan beriman kepadanya, dan akan menjadi orang paling bahagia
karenanya”, ucap pendeta itu.
Maka, apabila Abu Bakar masuk Islam dan beriman, itu bukan karena mimpinya,
tapi karena hasil proses yang selam ini ia pikirkan dan renungkan. Pantaslah
ia sebagai orang yang mendapatkan karunia dari Allah, dan sebagai orang
pertama yang menerima hidayah dan petunjuk-Nya.
Bersamaan dengan datangnya waktu subuh, Abu Bakar berangkat menuju Mekkah
bersama khafilahnya. Dengan riang gembira mereka jalani perjalanan,
unta-untanya berlari-lari, seakan-akan merek sedang berpesta-pora. Bau harum
berhembus kearah rombongan itu dengan membawa wewangian taman-taman Syria,
seolah-olah merupakan ucapan selamat jalan dari negeri yang molek yang
banyak meninggalkan kenangan.
“Ya Rabbi, janganlah Engkau jadikan daku mempersekutukan-Mu untuk
selama-lamanya ..
dan, jadikanlah keimanan mengisi relung hatiku untuk masa yang tak
habis-habisnya,
Aku berlindung hanya kepada-Mu, Yang menjadi tujuan dari orang-orang yang
berkunjung ke tanah suci,
Dan, kepada Dzat yang menjadi tumpuan harapan orang-orang yang membina
sendi-sendi agama Ilahi,
Yakni orang-orang yang berserah diri kepada-Mu di saat mereka menunaikan
haji,
Orang-orang yang tak hendak memperjual-belikan pahala Allah dengan harta
atau nilai materi …”
Kemudian, Abu Bakar bertemu dengan Baginda Rasulullah Shallahu alaihi
wasalam, dan masuk Islam, dan kenengan yang tak aka pernah pupus sampai
mati.
Kenangan Abu Bakar, ketika ia masuk Islam, dan beriman, serta menjadi
pengikut Rasulullah Shallahu alaihi wassalam. Perjumpaan yang tak bernilai
dalam hidup yang tak akan pernah ia lupakan. Wallahu ‘alam.
Sumber : eramuslim.com



------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke