Kompas hari ini giliran menyajikan pasangan SBY-Boediono. Baru kali ini saya 
baca biografi sekilas tentang SBY. Di sana juga ada komentar dari Mubarok, 
partnernya di Partai Demokrat serta tuturan teman masa kecilnya.

Kaitan dengan subjek di atas?

Jargon yang diusung JK-Win ini sekilas mungkin bagus. Tapi alangkah lebih bagus 
bila ditambahkan kata "lebih cermat". Karena tanpa kecermatan maka yang terjadi 
adalah "grubag-grubug". Barangkali, seandainya suatu keputusan dilakukan secara 
cepat lalu terjadi "kesalahan", kalau ditanya paling-paling dia akan ngeles. 
Yang adalah omongan hiperbolik yang dalam rentang waktu lama tidak bisa 
dipercaya alias lamis.

Just urun-rembug bukan kampanye .....

Wass / Jaerony.-

************************************


SBY -BOEDIONO
Paduan Kehatian-hatian dan Kecermatan yang Menonjol
Selasa, 30 Juni 2009 | 05:00 WIB

Nurlyta Hafiyah, Niniek L. Karim, Bagus Takwin, dan Dicky Pelupessy

Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono adalah orang yang sama-sama mengontrol 
tingkah lakunya dengan ketat. Sebagai orang yang introvert, Boediono tampil 
kalem, introspektif, tidak larut dalam situasi emosional, dan selalu memiliki 
alasan jelas dalam bertingkah laku. Sebagai anak tunggal yang charming, SBY 
selalu menunjukkan tindak tanduk yang terjaga, sopan, tenang, bahkan bila 
dihampiri masalah yang bertubi ia mampu menahan emosi. SBY yang terkesan serba 
formulatif dan tidak spontan dalam bereaksi itu menjadi lebih "hangat" ketika 
dipasangkan dengan Boediono yang kalem, yang dapat menunjukkan ekspresi yang 
lebih apa adanya. Dengan pembawaan yang santun, keduanya membentuk wibawa dan 
karisma yang membuat publik merasa tenang dan nyaman.

Baik SBY dan Boediono memiliki sifat hati-hati yang menonjol. Boediono adalah 
orang yang konservatif ketika mendekati masalah, berhitung dan bertindak 
cermat, serta mempertimbangkan semua aspek. Ia berpegang teguh pada prinsip 
yang terbukti dapat diandalkan.

SBY berusaha menguasai masalah secara menyeluruh, hati-hati dalam mengambil 
keputusan, dan mempertimbangkan banyak hal serta melibatkan banyak orang. Oleh 
karena itu, SBY sering terkesan pasif dan kurang tegas. Terlepas dari 
kemungkinan ia menampilkan hal sebaliknya di ruang yang tidak tertangkap 
publik, masyarakat mendapat kesan bahwa SBY lama dalam mengambil keputusan, 
terlalu hati-hati, dan ragu-ragu.

Dalam hal ini, ia membutuhkan pasangan yang dapat mendorongnya lebih cepat dan 
lebih tegas melakukan tindakan. Boediono dengan pembawaannya yang santun, 
tetapi menekankan prinsip yang pasti dapat mengambil peran dalam hal ini, 
terutama bila menyangkut keputusan yang berkaitan dengan nasib dan hak hidup 
masyarakat luas, dengan lebih fokus pada penyelesaian masalah.

SBY pada hakikatnya adalah orang yang sangat hati-hati, sedangkan Boediono 
adalah orang yang cermat. Dengan struktur kognitif yang kompleks, mereka mampu 
memahami masalah secara komprehensif, memahami beragam sudut pandang, dan 
mengintregrasikannya.

Pada SBY, ia mampu mengenali berbagai sudut pandang dan dimensi permasalahan, 
yang jika ia mau, sebenarnya ia bisa menggunakannya untuk mencari solusi yang 
tepat. Namun, kecenderungannya menghindari konflik dan terlalu hati-hati 
membuatnya kurang berani mengambil risiko.

Boediono juga tergolong konservatif dalam mendekati masalah dengan berpegang 
pada patokan yang pasti dan andal. Ia lebih memilih menghindari kemungkinan 
mengambil solusi yang salah daripada menerima kemungkinan solusi baru yang 
benar.

Boediono menghindari spekulasi dan tindakan yang mengandung risiko ekstrem. Ia 
dapat mengambil keputusan dengan cepat dalam situasi yang diperlukan, tapi 
lebih terbiasa mempertimbangkan solusi dengan matang. Ciri yang relatif sama 
ini dapat saling mengisi sehingga bisa menghasilkan kinerja yang solid dan 
utuh. Namun, dapat juga menjadi sandungan manakala mereka dihadapkan pada 
pilihan yang mengandung risiko besar. Dalam situasi demikian, Boediono perlu 
mendukung SBY agar dapat mengambil keputusan yang matang dengan cepat.

Manakala keterbukaan pikiran SBY bertemu dengan keteguhan prinsip Boediono 
apakah yang mungkin terjadi? Keterbukaan pikiran dalam menyerap dan memahami 
hal yang berbeda membuat SBY cenderung mempertimbangkan banyak hal.

SBY pada dasarnya tak ingin mengecewakan orang lain dan terbiasa menunggu 
banyak masukan dari pihak lain sebelum membuat keputusan. SBY mengutamakan 
nilai sehingga apabila bertentangan dengan logika, nilai akan didahulukan. SBY 
lebih idealistik, berharap kehidupan di luar dirinya kongruen dengan 
nilai-nilainya.

Adapun Boediono tampak lebih realistik. Ia berorientasi kepada penyelesaian 
masalah, dengan berusaha menerapkan teori dalam praktik agar efektif dan 
efisien. Dengan kerangka pikirnya yang kokoh berdasarkan prinsip yang pasti, ia 
menalar secara cermat perbandingan untung rugi dan mendasarkan keputusan pada 
hal-hal yang tinggi tingkat kepastiannya. Boediono menekankan prinsip logika, 
menilai tinggi efisiensi, dan pengamat yang baik dalam mengambil keputusan.

Masalah mungkin akan muncul dalam hubungan mereka manakala kecenderungan SBY 
yang lebih mengutamakan nilai daripada logika bertabrakan dengan prinsip logika 
yang dipegang teguh Boediono.

Untuk mengatasi hal ini, keduanya perlu lebih dinamis dalam berdiskusi. 
Keduanya memiliki kemauan dan kemampuan untuk mencapai pemahaman bersama dalam 
menentukan tindakan yang diambil. Namun, Boediono sebaiknya tidak hanya 
memberikan saran yang menekankan keajekan prinsip, tetapi juga mengaitkannya 
dengan nilai yang ingin dicapai lewat keputusan yang hendak diambil. SBY yang 
pada hakikatnya terbuka terhadap saran akan lebih dapat menerima masukan dengan 
memerhatikan kongruensi terhadap nilai dalam dirinya.

Keduanya juga sama-sama menonjol dalam hal motif berprestasi. Keduanya 
cenderung membidik tujuan realistik dan moderat. Sebagai orang yang sama-sama 
berpikiran moderat, SBY dan Boediono dapat bekerja sama untuk melakukan 
perbaikan dan menghasilkan kemajuan.

Namun, keduanya cenderung menghindari perubahan radikal dan lebih 
menitikberatkan pada upaya realistik untuk merespons masalah yang ada di depan 
mata. Mereka kurang tertarik berandai-andai tentang masa depan untuk melakukan 
terobosan yang tranformatif.

Fokus keduanya adalah menyelesaikan masalah yang ada, menjaga apa yang ada, dan 
memperbaiki dalam jangka pendek. Stabilitas ekonomi dan politik, tertib 
birokrasi, dan pemerintahan yang bersih adalah target pencapaian yang akan 
dipegang teguh keduanya. Pencapaian target tersebut adalah hal positif dan 
keharusan.

Namun, tidak bisa dipinggirkan ada banyak masalah bersifat genting dan 
prinsipiil yang harus segera diatasi. Sebut saja, masalah TKI yang menyangkut 
keselamatannya, hak asasi mereka, dan harga diri bangsa di mata negara lain; 
lumpur Lapindo yang menyangkut hak hidup dan masa depan masyarakat Sidoarjo; 
dan sederet masalah lain yang menuntut penyelesaian berjangka panjang dengan 
solusi yang visioner dan transformatif.

Oleh karena itu, jika terpilih menjadi presiden (kembali) dan wakil presiden, 
mereka perlu memberikan perhatian serius pada hal-hal tersebut dengan 
menelurkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat banyak, serta melakukan 
pengawasan efektif. Bagi Boediono, hal ini merupakan tantangan besar. 
Kemampuannya di bidang keuangan diakui banyak pihak dan dunia luar.

Namun, dengan hanya mengkhususkan diri untuk membantu presiden dalam menjaga 
kestabilan ekonomi negara, bisa mengecilkan arti peran seorang wakil presiden 
yang dipilih langsung oleh rakyat. Menghadapi krisis dan mengelola ekonomi 
negara adalah hal-hal yang pernah, bahkan mungkin biasa, ia tangani, sedangkan 
membantu presiden menyelesaikan beragam masalah negara dalam berbagai bidang 
dari kesejahteraan, sosial politik, pendidikan, sampai bencana dan sederet 
masalah nasional lainnya adalah hal yang relatif baru baginya.

Kemampuannya belajar dengan cepat dan sifat realistik yang dimilikinya akan 
mengarahkannya secara terfokus, memahami dan mengolah hal-hal baru untuk 
melakukan perbaikan ataupun menemukan solusi yang feasible dan efektif.

Sementara bagi SBY, jika ia terpilih kembali menjadi presiden, tentunya ia 
telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Dengan kompleksitas pikiran yang 
tinggi dan sistematik, diharapkan ia tahu kekurangan dan kelemahannya yang 
dipersepsi oleh masyarakat di periode terdahulu yang harus diperbaikinya bila 
terpilih lagi.

Misalnya, kecenderungan "pemimpi" yang cepat tergugah oleh ide dan program 
inovatif, bahkan ketika itu tampak tak masuk akal, seperti blue energy dan padi 
supertoy. Mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi SBY di masa depan 
untuk menantang dirinya dengan kebijakan pengembangan teknologi yang dapat 
dikembangkan para ilmuwan terkemuka.

Ada banyak masalah nasional yang masih menjadi tuntutan masyarakat terhadap 
SBY. Hampir seluruh partisipan FGD dalam penelitian kami mengharapkan ia 
sebagai kepala negara melakukan pemihakan kepada rakyat banyak. SBY tidak lagi 
dituntut untuk sekadar tampil baik, tetapi melakukan kebijakan dan tindakan 
pengawasan yang riil dan konkret.

Walau kedua kandidat ini adalah orang yang tak perlu diragukan kecerdasannya, 
bila mereka terpilih, tetap disarankan untuk selalu melibatkan orang visioner 
yang dapat membantu, baik dalam pencarian alternatif solusi maupun dalam 
aplikasi eksekusinya, sekaligus membantu menemukan bayangan masa depan 
Indonesia yang lebih baik.

Dengan sifat yang terbuka terhadap masukan, mau berubah dengan alasan yang 
memadai, realistik dan memandang manusia setara, pasangan SBY-Boediono 
diramalkan bersedia menerima usul-usul kreatif dan produktif demi pemerintahan 
mereka.

Mereka memerlukan orang yang berani, progresif, cepat bergerak, dan dinamis 
dengan komitmen tinggi untuk menjadi konseptor penasihat ataupun agen pelaku 
perbaikan dan perubahan riil di segenap lapisan masyarakat. Dalam hal ini, ada 
baiknya mereka jeli mengamati kaum muda yang potensial yang dengan energi serta 
kelincahan berpikirnya bisa memberi masukan berarti juga menjadi pelaksana yang 
bertenaga segar.

Matang dalam berpikir dan cermat dalam bertindak akan menjadi kekuatan 
pemerintahan SBY-Boediono. Hati-hati, disiplin, kemauan keras, dan berambisi 
untuk mendapatkan hasil terbaik meski dengan pencapaian sedikit demi sedikit 
serta berpegang pada patokan yang pasti dan kukuh dalam prinsip menjadi modal 
mereka untuk siap menjalani tugas besar ini.

Ditambah kemampuan mengontrol diri, tampilan yang tenang, mereka dapat menjadi 
pasangan yang diandalkan untuk mengatasi masalah yang bertubi kelak. Wibawa dan 
karisma yang dimiliki pasangan ini menenangkan dan membuat nyaman masyarakat 
luas walau untuk menjadi pasangan presiden dan wakil presiden RI di masa kini 
tidak cukup.

Dengan banyaknya kualitas positif yang dimiliki pasangan dan kesesuaian di 
antara mereka, terciptanya masyarakat adil makmur, begitu pun kesejahteraan dan 
kemajuan rakyat Indonesia, semestinya menjadi niscaya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/30/05003616/paduan.kehatian-hatian.dan.kecermatan.yang.menonjol

Kirim email ke