Berguru dari Wahyu
oleh Nursalam AR Kamis, 06/08/2009 07:51 WIB  
Ia lelaki tinggi besar usia 40-an berkulit hitam. Tongkrongannya garang. 
Maklum, sebagaimana pengakuannya kepadaku, ia bekas preman semasa mudanya. 
Setelah berkeluarga dan terlebih lagi punya anak tiga, ia insyaf dan memilih 
pekerjaan yang halal. Meskipun sebagai makelar jasa penerjemahan. Boleh 
dibilang ia salah satu kolega bisnisku.

Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Aku memanggilnya Pak Wahyu. Singkat saja. 
Sesingkat kunjungannya setiapkali ia datang ke kantorku. Ya, kantorku adalah 
rumahku. Saat itu, sejak sebelum menikah dan masih tinggal bersama orangtuaku, 
dan hingga kini aku adalah penerjemah freelance, yang khusus menerjemahkan 
dokumen-dokumen hukum seperti akte notaris dan kontrak bisnis. Sebagai 
penerjemah yang belum memiliki sertifikat sworn translator atau penerjemah 
bersumpah, kehadiran Pak Wahyu yang menjadi penghubung antara biro penerjemahan 
atau perusahaan dengan penerjemah sangat membantuku yang memutuskan terjun 
bebas sebagai penerjemah freelance selepas bekerja di sebuah griya produksi 
terkemuka.

Biasanya ia datang siang hari dengan jaket hitam khasnya. Mengetuk pintu dengan 
ketukan - yang lebih mirip gedoran - berulangkali dan uluk salam, yang kontras 
dengan posturnya, yang sangat pelan. Alhasil lebih kentara ketukan khasnya yang 
terdengar. Awalnya kami kaget, bahkan ayahku sempat mengeluh. Tapi lama-lama 
kami terbiasa dan menjadikan gaya ketukan Pak Wahyu itu sebagai penanda 
kehadirannya.

Yang tidak aku sukai, jika ia punya waktu luang dan mau ngobrol berlama-lama, 
adalah kebiasaannya merokok. Di keluargaku saat itu memang hanya ayahku yang 
perokok. Itu pun dibarengi protes dari anak-anaknya termasuk aku. Beliau pun 
mengurangi konsumsi rokoknya. Tapi, dengan Pak Wahyu, entah mengapa aku sungkan 
menegurnya. Faktor hubungan bisnislah yang membatasi. Inilah susahnya.

Namun lebih banyak hal yang aku suka dari sosok Pak Wahyu. Ia jujur. Saking 
jujurnya bahkan ia tak segan-segan memperlihatkan isi dompetnya jika klien 
lambat memberikan fee. Atau saat pembayaran kepadaku lewat dari yang ia 
janjikan.

"Bener, Lam," ujarnya dengan logat Betawi yang medok,"Belom bayar tuh orang!" 
Tak jarang ia curhat soal hubungan dengan para kliennya. Ujung-ujungnya, ia 
berpesan,"Diem-diem aje ye,Lam. Ini elo aja yang tau. Ga enak gue nanti!"

Juga soal keluarganya. Soal anak-anaknya yang mulai masuk kuliah dengan 
permasalahan biayanya. Hingga istrinya yang turut membantu ekonomi rumah tangga 
dengan menjadi makelar pengurusan KTP di kelurahan. Aku pun jadi pendengar yang 
baik. Termasuk untuk cerita-ceritanya betapa ia bekerja gila-gilaan dari pagi 
hingga sering tengah malam. Tanpa bermaksud rasis, ia sering berujar,"Gue ini 
orang Betawi, Lam, tapi kerja kayak orang Jawa!" Kepercayaan diri dan 
optimismenya memang hal lain yang aku sukai.

Tapi yang paling aku sukai adalah saat Pak Wahyu datang tak hanya dengan 
dokumen yang akan diterjemahkan. Jika di setang motornya tergantung kantong 
plastik hitam, itu pemandangan yang menyenangkan. Biasanya berupa bingkisan 
kue-kue jajanan pasar seperti kue cincin, bika ambon dan dadar gulung bikinan 
istrinya. Patut kuakui istri Pak Wahyu adalah pembuat kue jempolan. Sama 
seperti almarhumah ibuku.

Hingga, pada Agustus 2006, selepas Subuh aku mendapat kabar bahwa Pak Wahyu 
meninggal dunia. Langsung dari istrinya sendiri. Padahal sehari sebelumnya ia 
masih datang ke rumahku untuk membayar terjemahan. Ia juga bilang bahwa hari 
itu ia bakal pulang malam karena akan menagih piutang honor terjemahan pada 
klien yang bermasalah.

Tak berapa lama ponselku berdering. Ada telepon dari Pak Mul. Ia mengajak 
barengan melayat ke rumah Pak Wahyu. Pak Mul adalah pemilik biro penerjemahan, 
yang juga kolega Pak Wahyu. Aku yang memperkenalkan Pak Wahyu kepada Pak Mul.

"Mas Salam, sudah lama kenal Pak Wahyu?" tanya Pak Mul di belakang kemudi 
mobilnya. Saat itu kami dalam perjalanan menuju rumah duka.

"Setahun lebih kayaknya," jawabku sambil merapatkan jaket. Pagi itu dingin dan 
muram.

"Sudah tahu dong rumahnya," tukas Pak Mul. Rupanya Pak Mul juga belum 
mengetahui alamat rumah Pak Wahyu.

Aku tercekat. "Belum pernah ke sana, Pak." Aku memang tak pernah bertanya 
tentang alamat rumah kepada Pak Wahyu.

Ketika Pak Mul mengontak istri Pak Wahyu via ponselnya untuk menanyakan alamat, 
aku terbenam dalam perenungan yang menggelisahkan.

Ternyata, selama setahun lebih berhubungan bisnis dengan Pak Wahyu, aku tidak 
mengenal betul siapa dirinya. Berkunjung ke rumahnya pun baru sekali itu. Dan 
justru pada hari kematiannya. Entah mengapa, selama setahun sebelumnya, aku 
merasa tak perlu mengenal banyak siapa dan apa urusan kolega bisnisku tersebut. 
Pak Wahyu memang banyak curhat soal keluarganya. Namun aku tak banyak bercerita 
soal diriku dan keluargaku. Bagiku, hubungan kami adalah business as usual, 
hanya sebatas bisnis. Tidak lebih.

Padahal tiga bulan sebelumnya saat aku memperkenalkan Pak Wahyu ke Pak Mul, aku 
dengan yakin mengatakan bahwa aku mengenal Pak Wahyu dan menjamin bahwa ia 
orang yang dapat diandalkan untuk urusan jasa penerjemahan termasuk mengurus 
perizinan dokumen-dokumen terjemahan bersumpah ke departemen terkait seperti 
kantor imigrasi dan departemen kehakiman.

Apakah aku sahabat yang baik bagi Pak Wahyu?

Apakah aku sudah mengenal Pak Wahyu?

Khalifah Umar bin Khattab biasa melakukan investigasi terhadap setiap kandidat 
pejabat yang akan diangkatnya.

"Dia orang hebat wahai Amirul Mukminin," ujar salah seorang kenalan kandidat 
pejabat yang dinominasikan oleh sang khalifah.

Khalifah Umar tidak percaya begitu saja. Ia lantas bertanya,"Apakah kamu pernah 
bermalam bersamanya?"

"Tidak."

"Apakah kamu pernah menempuh perjalanan jauh (safar) bersamanya?"

"Belum."

"Apakah kamu pernah memberinya amanah untuk ditunaikan?"

"Tidak pernah."

Khalifah Umar bin Khattab kemudian menyimpulkan,"Kalau begitu kamu belum 
mengenalnya."

Ya, di pagi muram empat tahun lalu, aku banyak belajar dari Pak Wahyu. Belajar 
mengenal makna sahabat; belajar tentang silaturahim; belajar tentang kejujuran 
dan kerja keras, dan belajar tentang semangat dan optimisme.

Peristiwa kematiannya pun mengajarkan satu hal tersendiri. Menurut sang istri, 
di malam jelang wafatnya, Pak Wahyu pulang larut malam dalam kondisi basah 
kuyup kehujanan sehabis menagih piutang pada salah satu klien. Jelang Subuh, ia 
mengeluh pusing dan matanya gelap. Tak lama kemudian Pak Wahyu meninggal dunia. 
Saat kubuka kain penutup jenazah, senyumnya damai dan wajah hitamnya terlihat 
lebih cerah berseri. Inna lillahi wa inna ilahi roji'un.

Satu hal itu adalah betapa kematian dapat menjemput kita kapan pun, di mana pun 
dan dalam kondisi apapun baik didahului sakit atau datang tiba-tiba. Nah, 
sudahkah kita siap dijemputnya?

Jakarta, 18 Juni 2009
www.nursalam.multiply.com

sumber : eramuslim

Kirim email ke