Seri : Kisah Sahabat

Menyambung Silaturrahmi dan Shalat Malam
Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua 
malaikat turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah ganti untuk orang yang 
berinfak”. Malaikat yang lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk 
orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).


oleh Mashadi Senin, 04/05/2009 15:10 WIB 

Ajakannya tak pernah mereka lupakan. Karena, ajakan itu senantiasa membawa 
kebahagiaan, kemuliaan, dan kuatnya ikatan persaudaraan. Tak ingin 
kehidupannya, dipenuhi dengan benih-benih yang menimbulkan retaknya 
persaudaraan. Persaudaraan diantara mereka. Sampai terbersit cahaya Islam, yang 
begitu indah, menghiasa kehidupan umat manusia.

Suatu ketika, Abu Yusuf Abdullah bin Salam mengatakan, bhwa ia mendengar 
Rasalulullah shallahu alaihi was salam, bersabda, “ Wahai manusia, sebarkanlah 
salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah pada malam hari, 
ketika orang-orang sedang tidur, agar kalian masuk surge dengan selamat”. 
(HR.at-Tirmidzi)

Dan, ketika itu, orang-orang di Madinah, begitu menengadahkan wajahnya, dan 
memandang Rasulullah shallahu alaihi wassalam, saat beliau menyampaikan 
khotbahnya, “Tebarkanlah salam”. Lalu, para shahabat memahami bahwa jadikanlah 
salam tersebar diantara mereka. Maksudnya, agar salam itu, saling menyebar 
diantara para shahabat dalam semua perjumpaan, sekaligus sebagai tanda atau 
bukti kesatuan hati diantara mereka. Sehingga, keamanan dan kedamaian merata 
diantara penduduk di kota Madinah.

Abu Yusuf Abdullah mengingatkan kepada para shahabat lainnya, betapa pentingnya 
salam itu, dan begitu juga menyebarkan kepada seluruh kaum mu’minin. Shahabat 
itu, juga mengingatkan, bahwa Allah itu juga disebut sebagai ‘as-Salam’, dan 
surga adalah Daarus-Salam, begitu ujar Yusuf Abdullah, yang senantiasa 
mengingat apa yang disampaikan Rasulullah shallahu alaihi wassalam.
Allah Ta’ala berfirman : “ Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu 
penghormatan, balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, 
atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa) ..(an-Nisa’ : 86)

Maka, Abdullah bin Amru ibnul Ash, menuturkan bahwa seorang pria menanyai 
Rasululullah shallahu alaihi wassalam, “Apa yang terbaik dalam Islam?”. 
Kemudian beliau menjawab,”Kamu member makan dan mengucapkan salam kepada orang 
yang kamu kenal atau tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud berilah makan adalah jadilah orang yang dermawan, jangan menjadi orang 
yang bakhil, karena sebagaimana sabda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, 
“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan 
surga, dan jauh dari neraka, sedangkan orang bakhil jah dari Allah, jauh dari 
manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka”.

Karena itu, shahabat Addi bin Hatim, pernah menyampaikan, bahwa Rasululullah 
pernah bersabda, “HIndarilah neraka dengan sebutir kurma”. (HR.Bukhari Muslim). 
Begitulah Islam. Dan, semua ajaran Islam itu, diamalkan oleh para shahabat 
dengan ikhlas. Adi bin Hatim tak pernah melewatkan dirinya, setiap hari dari 
sedekah. Ia usai shalat Shubuh berkeliling mencari orang-orang yang fuqara’, 
lalu ia memberikan sedekahnya. Ketika, ia dapat memberikan sedekah kepada fakir 
miskin, ia seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan, yang tak terhingga, wajahnya 
berseri ketika ia bertemu dengan para fakir miskin dan ia dapat menyedekahi 
mereka. Subhanallah.

Abu Hurairah meriwayatkan dari sabda Rasululullah, bahwa, “Setiap pagi ada dua 
malaikat turun. Salah satunya berdo’a, “Ya Allah,berilah ganti untuk orang yang 
berinfak”. Malaikat yang lain berdo’a, “Ya Allah, berilah kehancuran untuk 
orang yang menahah hartanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika baginda Rasululullah shallahu alaihi wassalam, wafat, tak 
ada sisa harta yang dimilikinya, semua beliau berikan kepada jalan da’wah, dan 
para fuqara dan masakin. Hal ini, diikuti para shahabat, seperti Abu Bakar, 
Umar, Ustman, dan Ali. Mereka saling berlomba menginfaqkan harta mereka dijalan 
Allah.

Suatu ketika Rasululullah shallahu alaihi wassalam, menegur Abu Bakar, yang 
menginfaqkan seluruh hartanya, ketika menjelang perang Badr. Lalu,Rasululullah 
shallahu alaihi wassalam, bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, mengapa 
seluruh harta milikmu engkau infaqkan? Sedangkan apa yang akan engkau berikan 
untuk keluargamu?”. Dan, Abu Bakar menjawabnya, “Aku masih mempunyai Allah dan 
Rasul”, jawab Abu Bakar.

Begitulah generasi Shalaf terdahulu, bagaimana mereka mensikapi terhadap harta, 
yang mereka miliki, dan mereka tidak terpengaruh oleh harta mereka. Dan, 
seluruh harta mereka gunakan untuk fi sabilillah. Wallahu ‘alam.

Sumber : eramuslim.com



Kirim email ke