Tips Mudik Lebaran Penuh Berkah (bag. 2) 

http://muslim.or.id/ramadhan/tips-mudik-lebaran-penuh-berkah-bag-2.html

Posted: 13 Sep 2009 12:02 AM PDT

Pada artikel sebelumnya, kami telah sajikan beberapa hal yang berkaitan dengan 
tips persiapan sebelum mudik. Pada saat ini, kita masuk pada pembahasan 
beberapa tips ketika berada dalam perjalanan dan kembali dari safar. Semoga 
bermanfaat.


TIPS KETIKA DALAM PERJALANAN

Membaca Do’a Ketika Naik Kendaraan

Ketika menaikkan kaki di atas kendaraan hendaklah seorang musafir membaca, 
“Bismillah, bismillah, bismillah”. Ketika sudah berada di atas kendaraan, 
hendaknya mengucapkan, “Alhamdulillah”. Lalu membaca,

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا 
إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

“Subhanalladzi sakh-khoro lana hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ilaa 
robbina lamun-qolibuun.” (Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi 
kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami 
akan kembali kepada Tuhan kami)[18].

Kemudian mengucapkan, “Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah”. Lalu 
mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Setelah itu membaca,

سُبْحَانَكَ إِنِّى قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ 
الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Subhaanaka inni qod zholamtu nafsii, faghfirlii fa-innahu laa yaghfirudz 
dzunuuba illa anta.” (Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzholimi 
diriku sendiri, maka ampunilah aku karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa 
selain Engkau).[19]

Membaca Do’a dan Dzikir Safar

Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan perjalanan, hendaklah 
mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Setelah itu membaca,

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا 
إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا 
الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا 
سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى 
السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ 
وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ 
وَالأَهْلِ

“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila 
robbina lamun-qolibuun[20]. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al 
birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa 
hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal 
kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa 
ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.” (Mahasuci Allah 
yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak 
mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb 
kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu 
kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah 
mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya 
Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. 
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, 
tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan 
keluarga)[21]

Dalam perjalanan, hendaknya seorang musafir membaca dzikir “subhanallah” ketika 
melewati jalan menurun dan “Allahu akbar” ketika melewati jalan mendaki. Dalam 
Al Kalim Ath Thoyib dikatakan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم و أصحابه إذا علوا الثنايا كبروا و إذا هبطوا 
سبحوا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya biasa jika 
melewati jalan mendaki, mereka bertakbir (mengucapkan “Allahu Akbar”). 
Sedangkan apabila melewati jalan menurun, mereka bertasbih (mengucapkan 
“Subhanallah”).” [22]

Hendaklah Memperbanyak Do’a Ketika Safar

Hendaklah seorang musafir memperbanyak do’a ketika dalam perjalanan karena do’a 
seorang musafir adalah salah satu do’a yang mustajab.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَالْمَظْلُومِ 
وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga do’a yang tidak diragukan lagi terkabulnya yaitu do’a seorang musafir, 
do’a orang yang terzholimi, dan do’a orang tua kepada anaknya.”[23]

Membaca Do’a Ketika Mampir di Suatu Tempat

Hendaklah seorang musafir ketika mampir di suatu tempat membaca, “A’udzu bi 
kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dengan kalimat 
Allah yang sempurna dari kejelekan setiap makhluk).” Tujuannya agar terhindar 
dari berbagai macam bahaya dan gangguan.

Dari Khowlah binti Hakim As Sulamiyah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ 
شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian dia mengucapkan, “A’udzu bi 
kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dengan kalimat 
Allah yang sempurna dari kejelekan setiap makhluk)”, maka tidak ada satu pun 
yang akan membahayakannya sampai dia pergi dari tempat tersebut.” [24]

Ketika Kendaraan Tiba-tiba Mogok atau Rusak

Jika kendaraan mogok, janganlah menjelek-jelekkan syaithan karena syaithan akan 
semakin besar kepala. Namun ucapkanlah basmalah (bacaan “bismillah”)

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. 
Kemudian aku pun mengatakan, “Celakalah syaithan”. Namun Nabi shallallahu 
‘alaihi wa sallam menyanggah ucapanku tadi,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى 
يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ 
فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Janganlah engkau ucapkan ‘celakalah syaithan’, karena jika engkau mengucapkan 
demikian, setan akan semakin besar seperti rumah. Lalu setan pun dengan 
sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, yang 
tepat ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan 
semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.”[25]

Musafir Ketika Bertemu Waktu Sahur (Menjelang Shubuh) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar dan bertemu dengan waktu 
sahur, beliau mengucapkan,

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا رَبَّنَا 
صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ

“Samma’a saami’un bi hamdillahi wa husni balaa-ihi ‘alainaa. Robbanaa shohibnaa 
wa afdhil ‘alainaa aa’idzan billahi minan naar (Semoga ada yang memperdengarkan 
pujian kami kepada Allah atas nikmat dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai 
Rabb kami, peliharalah kami dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung 
kepada Allah dari api neraka).”[26]

Tips Kembali dari Safar

Pertama, memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga ketika ingin kembali 
dari safar. Bahkan tidak disukai jika datang kembali dari bepergian pada malam 
hari tanpa memberitahukan pada keluarga terlebih dahulu.

Dari Jabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَهَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَطْرُقَ أَهْلَهُ لَيْلاً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk pulang dari 
bepergian lalu menemui keluarganya pada malam hari.”[27]

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلاً 
وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidak pulang dari bepergian 
lalu menemui keluarganya pada malam hari. Beliau biasanya datang dari bepergian 
pada pagi atau sore hari.”[28]

Kedua, berdo’a ketika kembali dari safar.

Do’a ketika kembali dari safar sama dengan do’a ketika hendak pergi safar yaitu 
mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, kemudian membaca,

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا 
إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا 
الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا 
سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى 
السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ 
وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ 
وَالأَهْلِ

“Subhanalladzi sakhkhoro lana hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila 
robbina lamunqolibuun[29]. Allahumma innaa nas’aluka fi safarinaa hadza al 
birro wat taqwa wa minal ‘amali ma tardho. Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa 
hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma antash shoohibu fis safar, wal 
kholiifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa-is safari wa 
ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli.” (Mahasuci Allah 
yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak 
mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb 
kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu 
kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah 
mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya 
Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. 
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, 
tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan 
keluarga)

Dan ditambahkan membaca,

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

“Aayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduun. Lirobbinaa haamiduun (Kami kembali dengan 
bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).” [30]

Ketiga, melakukan shalat dua raka’at di masjid ketika tiba dari safar.

Dari Ka’ab, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ضُحًى 
دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari safar pada waktu Dhuha, 
beliau memasuki masjid kemudian beliau melaksanakan shalat dua raka’at sebelum 
beliau duduk.” [31]

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau mengatakan, “Aku pernah bersama Nabi 
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Tatkala kami tiba di Madinah, beliau 
mengatakan padaku,

ادْخُلِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

“Masukilah masjid dan lakukanlah shalat dua raka’at.”[32]

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Footnote:

[18]  QS. Az Zukhruf: 13-14

[19]  HR. Ahmad, At Tirmidzi, dan Abu Daud, dari ‘Ali bin Abi Thalib. Syaikh Al 
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Tirmidzi no. 2742

[20]  QS. Az Zukhruf: 13-14

[21]  HR. Muslim no. 1342, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.

[22]  Lihat Al Kalim Ath Thoyyib no. 175. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa 
riwayat ini shahih.

[23]  HR. Ahmad no. 9604. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini 
hasan dilihat dari jalur lainnya. Lihat Musnad Al Imam Ahmad bin Hambal, 
Muassasah Qorthobah, Al Qohiroh.

[24]  HR. Muslim no. 2708

[25]  HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat 
Al Kalimu Ath Thoyib no. 238

[26]  HR. Muslim no. 2718

[27]  HR. Bukhari no. 1801

[28]  HR. Muslim no. 1928

[29]  QS. Az Zukhruf: 13-14

[30]  HR. Muslim no. 1342, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.

[31]  HR. Bukhari no. 3088.

[32]  HR. Bukhari no. 3087

Kirim email ke