T H R
oleh Yanza Kawa 
Kamis, 24/09/2009 08:25 WIB
 
Dengan perlahan Barnebu menghitung lembaran demi lembaran uang lima puluh 
ribuan dari dalam amplop yg baru diterimanya dari bendahara gaji kantornya.
Ada 10 lembar uang lima puluh ribuan, dicobanya utk menghitung kembali. Mana 
tahu ada lembaran lain yg mungkin terselip, harapnya dalam hati. Namun tetap 
saja jumlahnya 10 lembar, berarti ia hanya memperoleh 500 ribu rupiah sebagai 
THR (Tunjangan Hari Raya) tahun ini. Dengan lesu dimasukkannya kembali uang 
tersebut ke dalam amplop. Jumlah yg cukup besar sebenarnya, tapi bagi Barnebu 
jumlah sedemikian untuk membeli segala keperluan menghadapi lebaran, masih jauh 
dari cukup. Ia dapat membayangkan omelan istrinya saat menerima uang THR ini di 
rumah nanti.
"Mana cukup uang segini Pak! Barang-barang sudah pada naik, untuk makan 
sehari-hari aja udah dipas-pasin, gimana lagi mau beliin anak-anak baju dan 
sepatu baru, ganti gorden, mencat dan menghias rumah, beli sofa, memesan kue 
lebaran, beli ini...beli itu...dst..dst...", sederet daftar yang "harus" 
dipenuhi buat lebaran ini.
Demikian omelan sang istri terbayang jelas dibenaknya. Dan omelan ini akan 
diakhiri dengan kalimat pemungkas seperti biasanya, "kan malu kita dilihat 
orang Pak, kalau tampil jelek saat lebaran nanti".
Barnebu mengela nafas, mencoba menenangkan diri sambil menyandarkan badannya di 
kursi. Dia mencoba merenung dan bertanya pada dirinya, "Apakah memang spt ini 
makna lebaran? Apakah seperti ini yang dicontohkah Rasulullah SAW dan para 
sahabatnya?", gumamnya dalam hati. Entah sejak kapan "tradisi konsumerisme", 
jor-joran, dan bermegah-megahan ini dimulai. Tak jarang ada yg menghutang 
sana-sini, bahkan melakukan perampokan (terang-terangan atau tersembunyi) utk 
memenuhi tradisi kemewahan ini.
Idul Adha, yang juga hari besar Islam selain Idul Fitri, praktis dirayakan jauh 
lebih sederhana dibanding Idul Fitri, tapi tetap terasa bermakna.
Tanpa baju baru dan pamer kemewahan, toh kita tak merasa malu dengan orang 
lain. 
Karena orang lain juga berbuat sama seperti kita. Jadi perbuatan kita lebih 
dikarenakan sikap dan perbuatan orang lain? Atau apakah karena Idul Fitri 
didahului dengan puasa sebulan penuh, suatu ibadah yangg mengekang nafsu dunia 
dan sifat-sifat tercela lainnya. Sehingga begitu selesai bulan puasa, kita pun 
berpesta-pora merayakan "kemerdekaan" karena dapat kembali ke tabiat semula?
Barnebu teringat dengan nasihat guru agamanya di masa sekolah dulu. "Hari Raya 
Idul Fitri adalah hari kembalinya anak manusia kepada kesuciannya, setelah 
sebulan penuh berlatih mengendalikan hawa nafsunya melalui ibadah puasa 
ramadhan. Bukan hari kembalinya MELAMPIASKAN hawa nafsu yg terkekang selama 
puasa ramadhan. Ibarat atlet yg giat berlatih menghadapi pertandingan, jerih 
payahnya terlunasi bila memperoleh prestasi terbaik dalam pertandingan 
sesungguhnya".
Begitu juga puasa ramadhan, sebagai ajang latihan menghadapi kehidupan yg penuh 
godaan syetan utk menturutkan hawa nafsu yg selamanya tak akan bisa terpuaskan. 
Hari-hari setelah ramadhan inilah, ajang pembuktian gemblengan selama ramadhan, 
apakah kita bisa tetap bisa mengendalikan nafsu kita sendiri.
Jadi hari raya selayaknya disikapi dengan tekad utk meningkatkan kualitas diri, 
bukan malah kembali seperti sebelum ramadhan". Demikian lebih kurang petuah 
sang guru kembali terngiang di telinganya.
Sesungguhnya Takwa sebaga tujuan puasa ramadhan menjadi tolok ukur keberhasilan 
puasa kita. Maka yg penting sekarangg apakah kita bisa memperoleh "THR", yakni 
"Takwa Hasil Ramadhan", ini lah yang harus diperjuangkan. Dengannya kita 
terselamatkan di dunia dan di akhirat.
"Allahu Akbar...Allahu Akbar"..., sayup-sayup terdengar suara adzan dari surau 
kantornya, sebagai tanda masuknya waktu shalat dzuhur.
Barnebu tersadar dari lamunannya, sekarang puasa ramadhan hampir usai. Masih 
tersisa sedikit kesempatan untuk mengisi hari-hari di akhir bulan ini dengan 
ibadah terbaik, bukan dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang justru 
mengurangi makna puasa itu sendiri. Umur belum tentu mempertemukan dengan 
Ramadhan tahun depan.
Ia pun bertekad akan mengajak keluarganya utk mengakhiri ramadhan ini dgn 
sebaik-baiknya, walau tanpa baju baru. Rasulullah SAW sendiri semasa hidupnya 
hanya punya 2 pasang baju, satu buat shalat dan satu buat sehari-hari. 
Sedangkan Ia dan keluarga masih memiliki baju yangg cukup banyak dan masih 
layak dipakai buat lebaran nanti.
Barnebu pun teringat dgn orang-orang lain yangg bernasib malang di sekitarnya. 
Mereka yang tertimpa musibah, di-PHK, korban bencana alam, para gelandangan, 
anak-anak jalanan, dan mereka yg hidupnya nun jauh di bawah garis kemiskinan. 
Jangankan memperoleh THR, bisa mempertahankan hidup saja sudah untung.
THR dari kantornya ini akan diberikan sebagian buat saudara-saudaranya yg 
bernasib malang tersebut, dan sebagian ditabung buat keperluan yangg lebih 
bermanfaat dan mendesak nantinya. Demikian tekad Barnebu di dalam hati.
Ia sekarang lebih tertarik untuk mendapatkan "THR" (Takwa Hasil Ramadhan) 
sebagai bekal menghadapi kerasnya godaan syetan dan pengikutnya di hari-hari 
mendatang.
Biarlah lebaran kali ini ia dan keluarga "biasa" secara lahir tapi berharap 
dapat meningkat secara rohani. Bukankah org yg paling mulia adalah org yg 
paling takwa?, kembali nasihat gurunya teringat kembali.
Toh kebahagian dan ketenangan hidup itu bukanlah diukur dari banyaknya harta, 
tapi di dlm hati kita masing-masing. Berapa besar kita sanggup mensyukuri dan 
merasa cukup dgn karunia Ilahi rabbi. Semakin syukur kita, semakin terasa 
cukup, dan saat itulah kita telah menjadi "orang kaya". Sebaliknya, semakin 
hampa hati ini, semakin tak akan pernah bersyukur dan merasa cukup, walau harta 
melimpah ruah hingga akhirnya ajal menjemput. Yang tersisa hanyalah penyesalan 
yang tak berguna.
"Hayya alasshalaah"....suara muadzin pun semakin syahdu terdengar.
"Hayya alalfalaaah".... (marilah menuju kemenangan).
Barnebu pun bergegas menuju surau, guna meraih KEMENANGAN.
Hari ini ia telah berhasil memenangkan gundah gulana di hatinya. MENANG dari 
hasutan dan perangkap godaan nafsu dunia.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf lahir Batin

Siegen, 19 Ramadhan 1428 H

Kirim email ke