Pulanglah...
oleh Halimah 

Pulkam ( pulang kampung ) adalah hal yang lazim terdengar, diakhir-akhir 
ramadhan. Saat di pasar, saat di masjid maupun saat kita di taksi ( di Sengata, 
angkot dinamakan taksi ), perbincangan pulkam adalah hal yang biasa Saat 
lebaran 
memang adalah saat dimana para musafir dan perantau punya tujuan pulang ke 
kampung halamannya. Menumpahkan kerinduan kepada keluarga besar, terutama kedua 
orangtua, khususnya ibunya.
Kepulangan ke kampung halaman memang sebuah kenikmatan. Nikmat karena bila 
berada di dalam lingkaran keluarga yang telah membesarkan kita, maka perasaan 
tenang dan nyaman akan melingkupi kita. Oleh karena itulah di saat kita berada 
di kota yang berbeda, ataupun pulau yang berbeda dari kampung halaman kita, 
maka 
kerinduan itu akan selalu bernyanyi di relung hati kita, karena ingat betapa 
indahnya bila kita dapat bercengkrama dan berbagi cerita pada mereka yang di 
kampung. Yang di kampung pun akan sangat senang mendengar cerita-cerita kita, 
tentang sebuah tempat atau kota yang kita jalani saat ini. Tentu akan 
menimbulkan kebahagiaan membagi dan mendengar cerita yang di iringi suasana 
keakraban.
Pulkam memang sangat layak untuk dijalani, karena  sepertinya pada waktu itulah 
semua orang punya waktu libur yang sama. Pada waktu libur yang bersamaan itulah 
dapat membuat kita bertemu dengan orang-orang yang ingin kita jumpai. Pulkam 
tentu saja dapat terlaksana bila di tunjang dana yang cukup. Karena sebagai 
seorang perantau biasanya akan sedikit risih bila tidak ada buah tangan, untuk 
orang-orang yang menyambut kedatangan kita. Perlu dana lebih pula untuk dapat 
berbagi rejeki kepada orang-orang yang kita tuakan di kampung kita, istilahnya 
sih bagi amplop. Tapi itu memang bukan sebuah keharusan, tapi sepertinya sebuah 
kebutuhan pada diri kita untuk dapat pula menyenangkan hati orang-orang 
terdekat 
kita, yang telah lama kita tinggalkan.
Urusan uang meng-uang, memang sebuah dilema untuk pulkam ini. Karena di satu 
sisi ingin berbagi saat di kampung, tapi disisi yang lain sebenarnya kita 
merasa 
kerepotan juga, karena dana yang digunakan untuk pulkam ini, adalah hasil 
tabungan kita selama satu tahun. Hingga kadang kita menunda ke pulangan kita, 
karena memang kondisi keuangan tidak memungkinkan.
Berbicara tentang uang, memang susah-susah gampang. Karena selama ini, kita 
terkotomi dengan pemikiran bahwa banyak uang maka urusan jadi lancar. Hingga 
terkadang bila kita punya uang yang "mepet" membuat kita berpikir ulang tentang 
pulkam. Padahal pulkam ini sebenarnya sebuah kenikmatan, baik dari rasa sang 
anak maupun sebaliknya, orang-tuanya.
Saya merasakan sendiri, saat ini. Kedua orang-tua telah tiada. Maka acara 
pulkam 
sepertinya kadang hanya sebuah rekreasi saja. Karena di hati ini, sudah tak 
merasakan sambutan dan cinta dari orang-tua khususnya sang ibu yang sangat 
mencintai kita. Ibu yang selalu dekat, dan merepotkan diri bila kita datang, 
dan 
sangat terlihat rasa gembiranya ketika kita menampakkan wajah di hadapan 
beliau. 
Rasa gembira yang terpancar dari wajah ibu itulah yang membuatku sering pulkam 
saat beliau masih ada. Tapi saat ini sepertinya, saya kehilangan setengah 
semangat untuk melakukan pulkam, yang banyak diminati orang.
Begitu pula cerita seorang ibu yang berasal dari  pulau Jawa. Sebutlah dia 
bernama A. A menceritakan bagaimana ingin bersemangatnya dia pulkam, seperti 
yang dilakukan di lingkungannya, tapi dia merasakan kehampaan. A merasakan 
sambutan sang ibu berbeda dengan saudaranya. Walaupun saudaranya sudah 
maksimal, 
tapi rasa cinta seorang ibu yang dapat dirasakannya saat pulkam, ternyata sudah 
tidak bisa di dapatkannya lagi. Jadi bila A bercerita pulkam, terlihat jelas 
sebuah kesedihan dari wajahnya, walaupun ayahnya masih hidup. Memang tidak bisa 
di pungkiri kedekatan antara ibu dan anaknya adalah sebuah kedekatan yang 
memang 
tidak bisa tertandingi oleh orang lain, semisal sang ayah.
Ada juga seorang ibu yang saya namakan saja B, ternyata dia punya pula perasaan 
yang sama dengan si A. Ayahnya pun masih hidup dan beristri lagi. B adalah 
seorang perantau dari Sulawesi. B merasakan sebuah perasaan hampa pula, bila 
orang menceritakan niatnya untuk pulkam. Tapi memang si B ini, sedari kecil 
tidak mengenal ibunya. Karena ibunya telah berpulang ke Rahmatullah sejak dia 
masih berupa bayi "merah". Dia diasuh oleh banyak orang dan banyak keluarga. 
Penderitaanya saat tinggal pada orang yang ditumpanginya hidup, tidak 
menjadikannya rindu pada keluarga yang menghidupinya tersebut. Tak ada rasa  
sayang, yang ada hanya rasa ingin membalas budi. Karena itulah B tak seantusias 
orang lain untuk urusan pulkam.
Pulkam yang bertujuan untuk silaturahmi pada keluarga dekat, tentu saja sebuah 
kebajikan yang perlu di dilakukan. Karena silaturahmi pada keluarga yang lama 
tak bersua, akan mendekatkan hati, dan rasa kekeluargaan yang dalam. Karena 
bila 
silaturahmi itu tidak dilakukan, kemungkinan besar beberapa tahun kemudian, 
kita 
akan merasakan sebuah keterasingan, karena memang kita memerlukan sebuah tempat 
untuk merasa satu hati dan memerlukan dukungan dari keluarga besar untuk  semua 
problema hidup kita. Maka sebuah kewajaran bila biasanya sang perantau akan 
banyak mengeluarkan dana untuk urusan menelpon ke kampungnya.
Bila saat ini kita punya waktu dan dana yang cukup, maka bersegeralah untuk 
bisa 
 pulkam. Karena pulkam ini adalah sebuah silaturahmi yang akan mengikatkan rasa 
kekeluargaan di antara keluarga besar kita dan kedekatan kita pada orang-orang 
yang kita cintai khusunya ibu kita. Karena pulkam akan bernilai lebih bila 
masih 
ada orang-tua yang menyambut kita. Pulkam akan terasa lebih bermakna, karena 
kita masih bisa sujud di kaki orang-tua kita, dan merasakan betapa mereka 
mencintai kita.
Pulanglah.. Sebelum ibu meninggalkan dunia fana ini. Ibu yang telah banyak 
berkorban untuk kita, ibu yang banyak meneteskan air mata untuk kita, ibu yang 
banyak berdo'a untuk kita. Beliau sangat menantikan kepulangan kita di saat 
lebaran Idul Fithri ( Walaupun kadang di mulutnya mengatakan sangat mengerti 
kondisi kita, untuk tidak menjenguknya. ) .
Kedatangan kita untuk mencium pipinya, menyentuh tangannya yang mulai keriput 
karena termakan usia, akan menambah kebahagiaannya karena anak yang telah 
dilahirkannya masih mau berkorban untuk dirinya, untuk menyentuhnya, untuk 
mendengar cerita-ceritanya ( walaupun kadang kita sudah sangat hapal dengan 
ceirta yang dilulang-ulang tersebut. ), mendengar keluhannya secara langsung. 
Beliau akan merasa dinomor satukan karena beliau tahu, kita dalam kondisi yang  
sedikit "sesak nafas" karena tabungan yang akan menipis untuk acara pertemuan 
tersebut.
Pulanglah. Untuk meyakinkan ibu, bahwa kita sangat memerhatikan dan mencintai 
beliau walau dengan segala kondisi yang serba kekurangan. 
Pulanglah. Sebelum ibu kita berpulang ke hadirat Allah Swt.
( Ibu.. Maafkan semua kesalahan anakmu ini, disaat dikau masih hidup, karena 
seringkali berhitung tentang uang dan waktu untuk menemuimu. Saat ini aku hanya 
bisa berdoa, Semoga semua amal kebajikanmu diterima oleh Allah Swt. Amiin )
 
Sengata, 17 September 2009
Halimah Taslima
Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata
[email protected]

www.eramuslim.com

Kirim email ke