----- Original Message ----- 
From: haryadi 
Sent: Saturday, September 26, 2009 7:55 PM


TUMBUHKAN MINAT MENULIS SEJAK DINI

ORANGTUA mana yang tak bangga jika buah hatinya mampu merangkai kata menjadi 
tulisan menarik. Membiasakan anak menulis sejak dini merupakan langkah tepat 
mengasah keterampilan menulisnya.

Setiap anak adalah seniman. Untuk menjadikan mereka "seniman bahasa" atau 
dengan kata lain penulis, tentunya orangtua harus sejak dini membiasakan si 
kecil menulis. Upaya ini bahkan bisa dimulai sebelum anak bisa menulis,yakni 
dengan cara membacakan cerita atau memberikan buku-buku cerita bergambar.


"Intinya adalah membiasakan anak suka membaca dulu,misalnya sejak usia 6 bulan 
orangtua rajin mengajak anak membaca atau mengajarkan nyanyian alpabetikal 
untuk mengenalkan abjad. Berawal dari reader, anak akan lebih mudah menjadi 
writer," ujar psikolog dari Langkahku Educare, Alifa Abdullah, saat mengisi 
acara Unilever Daycare 2009 di Graha Unilever Jakarta, belum lama ini.

Pernyataan Alifa diamini penulis novel dan buku anak, Clara Ng. Untuk melatih 
keterampilan menulis dari dua buah hatinya, wanita kelahiran 1973 ini sudah 
membiasakan anak dengan buku sejak usia bayi. Tak heran, rumahnya pun laksana 
"gudang ilmu" karena dipenuhi buku.

"Daripada menonton televisi, sejak anak masih bayi, saya lebih suka mendudukkan 
mereka di kursi tinggi sambil memberikan buku sehingga si anak bisa bermain dan 
membuka-buka buku. Sampai sekarang pun, satu buku sebelum tidur itu wajib," 
ucap Clara yang memiliki anak usia 7 dan 4 tahun.

Berkat ketekunannya membiasakan anak akrab dengan buku sejak dini, Clara 
mendapati kemampuan anak-anaknya dalam menyerap bahasa atau logika cerita dari 
buku-buku bergambar dapat berkembang dengan baik.

"Anak saya yang besar di sekolah punya perhatian besar terhadap seni yang 
menurut saya porsinya cukup layak untuk bersanding dengan pelajaran sains 
lainnya," tutur pengarang novel Dimsum Terakhir itu.

Setiap anak, tanpa memandang bakatnya yang beragam, sejatinya mampu menulis. 
Dalam konteks ini, janganlah terpaku pada pemikiran atau keinginan menjadikan 
anak penulis hebat karena esensi dan manfaat menulis jauh lebih luas lagi. 
"Anak-anak pasti punya pemikiran tentang sesuatu hal. Keterampilan menulis itu 
penting supaya anak terbiasa mengungkapkan gagasan yang dimilikinya secara 
runtut," ujar penulis buku, Bunda Aini.

"Menulis merupakan proses manajemen berpikir. Walaupun tidak berbakat menulis, 
kalau sudah terbiasa kecerdasan anak bias terpacu. Untuk itu, orangtua 
hendaknya memberikan fasilitas seluas-luasnya, namun tidak boleh dipaksakan. 
Biarkan anak bereksplorasi sesuai minat dan bakatnya," kata Alifa.

Untuk memulainya, lakukan hal sederhana seperti menuliskan emosi atau perasaan 
di buku harian (diary). Ingatlah bahwasanya setiap kejadian atau pengalaman 
hidup sehari-hari bisa dibingkai hingga membentuk cerita utuh yang menarik 
untuk disimak.

Orangtua bisa membantu memberikan contoh atau stimulus supaya anak tidak blank 
mau menulis apa. Misalnya menceritakan pengalaman saat liburan panjang. 
Cerita-cerita pendek tadi bila perlu didokumentasikan dengan membuat folder 
khusus. Suatu saat jika cerita lama ini dibacakan lagi, anak bisa termotivasi 
untuk lebih giat menulis.

"Perlu diingat bahwasanya ada saat di mana buku harian tidak boleh dilihat lagi 
oleh orangtuanya. Kalau sudah begini, orangtua jangan memaksa. Jika anak merasa 
cukup nyaman,mereka malah akan datang sendiri menunjukkan tulisannya. Coba juga 
mengirimkan tulisan anak ke media massa. Kalau diterbitkan tentunya akan 
tercipta rasa bangga," paparnya.

Sementara itu, Clara yang telah menelurkan sejumlah seri buku anak seperti 
Berbagi Cerita Berbagi Cinta dan Bagai Bumi Berhenti Berputar itu menegaskan 
bahwasanya proses kreatif menulis selalu dimulai dengan membaca.

Dalam hal ini, anak menyerap apa yang dilihat, dengar, dan rasakan sehingga 
bisa menghasilkan cerita. Namun, mereka juga harus diajari bagaimana 
menggunakan logika dalam tulisannya. Sebagai contoh, sang anak menuliskan 
cerita tentang seekor kelinci. Tanpa sebab jelas, ia mengisahkan si kelinci 
tiba-tiba mati. Di sini orangtua harus menanyakan, kenapa si kelinci bisa mati? 
Misalnya, apakah karena ada virus atau mungkin keracunan? Dengan begitu, anak 
tidak sembarangan membangun alur cerita hanya berdasarkan keinginan untuk 
menakut-nakuti atau membuat pembacanya kaget semata.

"Lakukan penilaian. Jika ingin mengkritik, berhati-hatilah agar jangan sampai 
anak jadi tersinggung dan tidak berani mencoba lagi atau malah menjadi dendam," 
saran Clara.

Satu hal lagi yang tidak bisa terlepas dari dunia anak-anak adalah unsur 
imajinasi. Anak-anak sekitar usia tiga tahun ke atas, imajinasi dan fantasinya 
mulai berkembang dengan bebas dan kadang tak terbatas. Clara pun menyarankan 
untuk mengembangkan imajinasi anak tersebut di "dunia lain" semisal dunia 
dongeng karangannya. Misalnya, jerapah berwarna pink atau gajah bermotif 
tutul-tutul.

"Menulis adalah memasuki dunia di mana hanya ada kau dan tokoh-tokoh ciptaanmu 
yang berlarian dalam otakmu," ujarnya.

Cara lainnya yang bisa dilakukan adalah mengajukan pertanyaan yang lucu atau 
unik di luar pemikiran, yang tujuannya memancing kreativitas dan kemampuan anak 
dalam memecahkan masalah. Clara mengaku cukup sering melakukan hal ini dan 
jawaban sang anak pun dinilai kreatif. Misalnya, ia pernah bertanya: apa yang 
terjadi kalau suara kita melarikan diri dari atau melompat dari mulut kita 
begitu saja.

Sang anak pun menjawab: kita tangkap suara itu dengan perangkap tikus, lalu 
dimasukkan lagi ke dalam mulut dengan cara minum air yang banyak. Wah, sebuah 
imajinasi khas anak-anak yang kreatif bukan?(Koran SI/Koran SI/jri)


--

Kirim email ke