Dari note di FB temen...

JIKA UMUR TELAH MENCAPAI 40 TAHUN
Share
 Today at 8:45am
JIKA UMUR TELAH MENCAPAI EMPAT PULUH TAHUN


Oleh
Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim



Saudaraku tercinta, di manakah kita di antara mereka?
‘Abdullah bin Dawud berkata, “Adalah salah satu dari mereka (kaum
Salaf), jika umurnya telah mencapai empat puluh tahun, maka mereka
menggulung tempat tidurnya, mereka sama sekali tidak tidur. Akan tetapi
memenuhi malamnya dengan shalat, tasbih, dan istighfar… mereka
menggantikan waktu (umur) yang telah lalu dengan kebaikan dan
menyiapkan diri untuk menghadapi kehidupan yang akan datang.”

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas,
mereka menolak dunia dan takut akan fitnahnya.
Mereka melihat apa yang ada di dalamnya, ketika mereka tahu,
bahwa tidak ada tempat bagi orang yang hidup di dalamnya.
Mereka menjadikannya sebagai gelombang,
dan menjadikan amal sebagai kapal.

‘Abdullah bin Tsa'labah berkata dalam nasihatnya, “Tertawalah engkau,
barangkali kain kafan untukmu telah ada di tangan tukang potong
kain!!”[1]

Wahai orang yang sedang tidur, perjalanan telah dimulai. Wahai yang
membuat bangunan di atas tangga-tangga yang penuh dengan air bah,
cepatlah melakukan amal sebelum umurmu punah… janganlah engkau
melupakan Dzat Yang menghitung hembusan nafasmu saat perjumpaan
denganmu.

Saudaraku tercinta…
Ambillah rizki secukupnya,
ambillah yang jernih dari kehidupan ini.
ini semua akan berakhir,
bagaikan lentera ketika padam.

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Dunia adalah tempat kesibukan,
sedangkan akhirat adalah tempat terjadinya hal-hal yang menakutkan. Dan
senantiasa seorang hamba ada di antara kesibukan dan juga kegoncangan
(hal-hal yang menakutkan) sehingga datang kepadanya keputusan, ke
Surgakah ia atau ke Neraka.” [2]

Saudaraku semuslim…
Siapa yang mencurahkan kemampuannya untuk berfikir dengan sempurna, dia
akan memahami bahwa dunia ini adalah sebuah perjalanan, maka dia akan
selalu mengumpulkan perbekalan untuknya. Dia juga tahu bahwa perjalanan
tersebut dimulai dari punggung seorang ayah, menuju perut seorang ibu,
lalu ke dunia, ke kuburan, setelah itu menuju alam Mahsyar, dan yang
terakhir menuju tempat yang abadi. Inilah tempat keselamatan dari
segala “penyakit,” yaitu tempat yang kekal abadi. Sedangkan syaitan
menawan kita untuk tetap menuju dunia, sehingga kita terus bersemangat
dalam keluarga yang hancur berantakan, kemudian dia selalu mendorong
kita menuju tempat kita semula. Ketahuilah bahwa batas kehidupan di
dunia hanyalah hitungan nafas, perjalanan yang cepat dan tak terasa
bagaikan perjalanan sebuah kapal yang tidak dirasakan oleh penumpang
yang duduk di atasnya.

Sudah semestinya, dia harus memiliki bekal, dan tidak ada bekal menuju
perjalanan akhirat kecuali ketakwaan. Oleh karena itu, seseorang
haruslah sabar dan merasakan lelahnya kehidupan dalam melaksanakan
ketakwaan, sehingga dalam perjalanannya dia tidak berkata, “Ya Rabb-ku!
Kembalikanlah aku.” Dan dikatakan kepadanya, “Tidak!” Maka hendaklah
orang yang lalai mewaspadai sifat malas dalam perjalanannya, karena
sesungguhnya Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi
orang yang memutuskan perjalanannya sebagai ancaman baginya dengan
harapan agar mereka tidak menyimpang dari jalan yang lurus. Siapa yang
menyimpang dari jalan-Nya yang lurus lalu melihat sesuatu yang
ditakutinya, maka kembalilah kepada Allah dari jalan yang dilaluinya
dengan bertaubat dari kemaksiatan.[3]

Keadaan di dunia sebagaimana disifati oleh ar-Rabi' bin Khaitsam,
ketika beliau ditanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Abu Yazid?”
Beliau menjawab, “Di pagi ini aku berada dalam keadaan lemah dan penuh
dengan dosa, kita memakan rizki kita sambil menunggu ajal kita.” [4]

Syumaith bin ‘Ajlan jika menyifati ahli dunia, beliau berkata, “Mereka
semua bingung dan mabuk, penunggang kudanya berlari, sedangkan pejalan
kaki berjalan dengan kakinya, yang fakir dan yang kaya tidak pernah
merasa puas di dalamnya.” [5]

Saudaraku…
Bersikap qana’ahlah dengan duniamu dan relalah dengan yang ada padamu,
karena di dalamnya tidak ada kesenangan selain kesenangan badan. Siapa
saja yang mempersiapkan dirinya untuk berjumpa dengan Allah, dan
menggunakan waktunya untuk melakukan amal-amal yang bemanfaat baginya,
maka Allah akan memberikan kemanfaatan baginya di hari Kiamat. Oleh
karena itu, dia akan berbahagia pada suatu hari di mana harta dan anak
tidak berguna… hari di mana lembaran-lembaran bertebaran dan hati
bergetar. Pada hari itu engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk,
padahal mereka sama sekali tidak mabuk, akan tetapi penyebabnya adalah
adzab Allah sangatlah pedih. Anas bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Aku
melihat Shaf-wan bin Salim, jika dikatakan kepadanya besok hari Kiamat,
maka seakan-akan dia sama sekali tidak me-miliki bekal dari ibadah.” [6]

Mereka adalah kaum yang selalu melakukan ibadah dengan giat dan
memikirkan kehidupan akhirat mereka dengan mempersiapkan bekal untuknya.

Jika jiwa itu menjauh dari kebenaran,
maka kita membentaknya.
Dan jika dia menghadap dunia dengan
meninggalkan akhirat,
maka kita menahannya.
Dia menipu kita dan kita menipunya,
hanya dengan kesabaran kita dapat mengalahkannya. [7]

Muhammad bin al-Hanafiyyah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang dicari 
bukan karena Allah, niscaya akan hancur.” [8]

Siapa yang mencari dunia untuk dunia, maka dia akan meninggalkannya di
hembusan nafas terakhirnya, dia akan pergi di detik-detik yang sangat
menakutkan. Dan siapa yang mencari dunia untuk Surga yang luasnya
seluas langit dan bumi, maka cukuplah baginya apa yang diinginkannya.
Dunia baginya sebagai jalan menuju Darus Salam (Surga) dengan kasih
sayang (rahmat) Allah dan ridha/karunia-Nya.

Orang yang selalu melakukan kebaikan dan ketaatan adalah manusia biasa,
seperti kita yang mencintai dunia dan segala macam perhiasannya.. Akan
tetapi mereka lebih mengutamakan yang kekal daripada yang fana,
sehingga Allah memudahkan baginya jalan untuk mendapatkannya dan
mengeluarkan mereka dari berbagai kesulitan.

Aku sabar dalam menghadapi kenikmatan ketika dia pergi,
dan aku menetapkan kesabaran di dalam diriku sehingga dia terus menetap.
Berhari-hari jiwaku berada dalam kemuliaan,
lalu ketika dia melihat tekadku ada di dalam kehinaan, dia pun ikut merasakan 
kehinaan.
Lalu aku berkata kepadanya, “Wahai jiwa, matilah dalam keadaan mulia,
dahulu dunia memihak kepada kita, tetapi sekarang dia telah pergi.”
Tidak wahai kekasihku. Demi Allah, tidak ada satu musibah pun,
berlalu kepada hari-hari melainkan dia akan pergi.
Jiwa itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang kepadanya, jika 
dia diberi makan,
maka dia memiliki kekuatan dan jika tidak, maka dia akan lumpuh.[9]

Seseorang berkata kepada al-Fudhail bin 'Iyadh, “Bagaimana keadaanmu
pagi ini wahai Abu ‘Ali?” Beliau adalah orang yang tidak senang dengan
ungkapan: “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” atau “Bagaimana keadaanmu
sore ini?” Lalu beliau menjawab, “Dalam keadaan sehat.” Lalu orang tadi
bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Beliau berkata, “Keadaan mana yang
engkau tanyakan? Keadaan dunia atau akhirat?” Jika engkau menanyakan
keadaan dunia, maka sesungguhnya dunia telah berpaling dan pergi. Dan
jika engkau bertanya tentang keadaan akhirat, maka aku sebagaimana
engkau melihat orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, amalnya
lemah, umurnya sudah punah, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi
kematian dan hari Akhir, tidak takut akan kematian, tidak menghias diri
untuk menghadapi kematian, akan tetapi hanya menghias diri untuk
dunia.”[10]

Kebanyakan dari kita sebagaimana digambarkan oleh ‘Auf bin ‘Abdillah
ketika beliau ditanya, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian
menyempatkan kehidupannya untuk dunia dengan sisa hidupnya untuk
akhirat, sedangkan kalian menyempatkan kehidupan kalian untuk akhirat
dengan sisa hidup kalian untuk dunia.” [11]

Dan yang kita lihat sekarang ini berupa pengorbanan waktu, kemampuan,
pemberian, dan penelitian hanya untuk dunia, maka kita dapatkan sungguh
menakjubkan… . Bahkan sebagian dari mereka jika akan membeli sebuah
kebutuhan yang sangat sederhana, akan menyibukkan dirinya untuk
memikirkannya selama beberapa hari, dia telah membuang waktunya yang
sangat berharga… . Akan tetapi jika engkau melihatnya di dalam masjid,
maka engkau akan melihat orang tersebut melakukan shalat, seperti ayam
yang sedang makan, dia sama sekali tidak memperhatikan sujud maupun
ruku’nya, bahkan dia mendahului imam, tidak melakukannya dengan
khusyu’, dan tidak pernah terlihat di mukanya bekas air mata.

Kebanyakan dari manusia mabuk dengan urusan dunia dan tidak sedikit pun
hatinya tergerak ketika kesempatan melakukan kebaikan hilang dari
dirinya, atau ketika kesempatan yang penuh dengan pengabulan do’a dari
Allah tiba, maka engkau akan melihatnya dalam keadaan lalai dan
bermain-main, mengumpulkan lalu membuangnya, menambahnya lalu dikurangi
dari dirinya, seolah-olah hari-hari yang telah berlalu akan kembali
atau bulan-bulan yang telah pergi akan ditemuinya lagi?!

Bandar berbicara tentang Yahya bin Sa’id dengan ungkapannya, “Aku ikut
bersamanya selama dua puluh tahun dan aku sama sekali tidak pernah
mendapatinya bermaksiat kepada Allah.”[12]

Saudaraku semuslim…
Bersabarlah dalam menghadapi pedihnya perjalanan,
ibadah di waktu malam, sore dan pagi.
Janganlah engkau merasa gelisah dan jangan pula merasakan lemah di dalam 
mencarinya,
karena kegalauan ada di antara gelisah dan putus asa.
Aku menyaksikan pengalaman di setiap hari,
bahwa kesabaran memiliki akibat yang terpuji.
Sedikit sekali orang yang giat mencari dengan disertai,
kesabaran kecuali dia akan berbahagia dengan kemenangan. [13]

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Wahai manusia engkau mencari
dunia dengan sungguh-sungguh, dan engkau mencari akhirat dengan usaha
orang yang tidak membutuhkannya. Padahal dunia sudah mencukupimu
walaupun engkau tidak mencarinya. Dan akhirat hanya didapatkan dengan
usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka fahamilah keadaanmu!”

[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin
Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri
Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsir]


      

Kirim email ke