Seri : Kisah Sahabat
Mengapa Engkau Masih Dapat Tersenyum?
oleh Mashadi 

Di dunia, wahai para pemimpin engkau tersenyum-simpul. Seakan tak merasakan 
kepedihan-kepedihan yang dialami oleh orang-orang di sekelilingmu. 
Tangisan-tangisan yang menyayat, tak juga menyebabkan dirimu tergugah. Ratusan 
orang yang mati, karena musibah, masih juga tak menyebabkan takut. Tak juga 
mengetuk hatimu. Hatimu menjadi keras. Tak tersentuh kenyataan-kenyataan begitu 
pedih yang ada di sekitarmu.

Dan, mereka masih terus tertawa, tanpa henti, karena memang mereka tak lagi 
memiliki hati. Mereka masih terus mengumbar janji-janji. Betapa, mereka nanti 
dihadapan Allah Azza Wa Jalla, pasti akan mendapatkan ‘jaza’ (balasan), dan 
bagaimana semua dapat mereka pertanggungjawabkan, ketika mereka sudah 
berkhianat dan tidak lagi dapat menjalankan amanah.
Ketahuilah, apa yang dilakukan generasi salaf, dan salah satu diantaranya 
adalah Umar Ibn Khattab, penguasa (Khalifah), yang kekuasaannya meliputi 
jazirah yang amat luas dan begitu disegani oleh lawan-lawannya.

Namun, kekuasaannya tiada mempunyai arti apa-apa dibandingkan dengan rasa 
takutnya kepada Allah Azza Wa Jalla. Umar yang lebih mengutakamakan keselamatan 
rakyatnya, hingga hatinya menjadi terguncang hebat, ketika ada seorang 
rakyatnya menderita akibat tertimpa gempa. Umar mendengar rintihan orang yang 
sakit, keluhan orang yang kehilangan haknya dan mengatakan kepadanya :

“Takutlah anda kepada Allah, hai Umar!”   Nah, pernahkah anda mendengar 
peristiwa seperti itu …? Di mana .. , dan bilamana .. ?

Lalu, beberapa orang mengejar laki-laki itu dengan murka, tetapi Umar memanggil 
mereka agar kembali ke tempat semula. Di mana Umar duduk di dalam sebuah 
majelis, ketika seseorang masuk, dan menghampirinya seraya mengutarakan 
perasaannya, yang sangat tidak suka atas musibah yang dialaminya bersama 
keluarganya, akibat gempa.

Orang itu, yang menyeruak masuk ke dalam majelis sambil menyemburkan 
kata-katanya : “Oh, Andakah Umar? Bencana dari Allah akan menimpamu, hai 
Umar!”. Tapi, setelah mengucapkan itu, laki-laki itu, pergi meninggalkan Umar. 
Orang yang pergi meninggalkan Umar itu, tersusul, dan oleh Umar disuruh duduk 
kembali. Lalu, orang yag mengatakan : “Bencana dari Allah akan menimpamu Umar!” 
itu ditanyai oleh Umar.

“Katamu hai kawan, saya akan beroleh bencana dari Allah … , kenapa?” tanya 
Umar. “Ya”, ujar laki-laki itu, “Karena para pejabat dan pembesar Anda tidak 
menegakkan keadilan, malahan berbuat keaniayaan”. “Pejabat-pejabat saya yang 
mana yang Anda maksudkan?” tanya Umar. “Pejabat Anda yang berada di Mesir, yang 
bernama ‘Iyadh bin Ghanam”, ujar laki-laki itu. Tak lama setelah mendengarka 
pengaduan laki-laki itu, dipilihlah oleh Umar dua orang diantara para 
sahabatnya itu, kemudian Umar berpesan,” Berangkatlah tuan-tuan ke Mesir, dan 
segera bawa kemari ‘Iyadh bin Ghanam.” Dan, 'Iyad bin Ghanam oleh Umar dipecat 
sebagai gubernur, hanya kalalaiannya, tidak memperhatikan rakyatnya yang 
terkena musibah.

Laki-laki yang tubuhnya tinggi besar, dan memiliki keberanian yang luar biasa, 
tiba-tiba menjadi gemetar, lunglai dan tak dapat tegak berdiri ketika 
mendengar,  “Tidakkah Anda takut kepada Allah, wahai Umar?”

Saat Umar menghadapi sakaratul maut, dia berkata kepada puteranya Abdullah,  
“Hai Abdullah, pindahkanlah kepalaku dari bantal ini, letakkanlah diatas tanah, 
semoga Allah menaruh belas kasihan padaku,” ucap Umar. Tak ada bencana yang 
lebih ditakuti oleh Umar, kecuali yang dikhawatirkan akan menimpa 
peruntungannya, selain bencana terkucil atau tejauhkan dari ridha Ilahi, dan 
menyimpang dari Rasul-Nya.

Umar mencatat hari kelahirannya yang baru, ketika ia mengucapkan dua kalimah 
syahadat di depan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, “Saya bersaksi bahwa 
tiada Tuhan melainkan Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan 
Allah”.

Ia khawatir saat ucapan-ucapannya yang telah lalu itu, yang keluar dari 
mulutnya itu menyimpang dari garis kebenaran. Ia begitu mengkhawatirkan 
perbuatan-perbuatannya tergelincir dari jalan yang seharusnya dilalui,yaitu 
al-haq. Umar, begitu cemas, jika kehidupannya ternoda oleh dosa-dosa kehidupan, 
yang tak terampuni oleh Rabbnya. Maka, Umar hidupnya selalu penuh dengan 
kegelisahan, yang menghasilkan kemantapan jiwanya.

Begitupun matanya, yang tak hendak terpejam, dan selalu diisinya dengan 
berpikir dan berkarya. Makannya sedikit, tak pernah kenyang perut dengan 
makanan, dan tak hendak makan makanan yang lezat. Makan hanya sekadar menunjang 
hidup. Ia jarang tidur,hingga boleh dikatakan ia selalu terjaga. Ungkapannya,

“JIka saya tidur malam, berarti saya menyia-nyiakan diri saya. Dan, jika saya 
tidur siang, berarti saya mengabaikan rakyat jelata,” ujar Umar.

Semua rasa malu, semua kecemasan dan ketakutan, semua kemauan baik dan 
cita-cita mulia, sebabnya tiada lain, hanyalah karena Umar bingung dan tiadk 
tahu apa yang akan dikatakannya kepada Rabbnya nanti di akhirat… Subhanallah.

Bagaimana seorang pemimpin yang rakyatnya ratusan, mungkin ribuan,meninggal 
terkena musibah, tapi masih tersenyum-simpul, dan tidur nyenyak sambil bermimpi 
tentang kekuasaan? Bagaimana mereka di hadapan Allah Rabbul Aziz nanti? Wallahu 
‘alam.



Sumber : eramuslim.com

Kirim email ke