Apabila Bumi Bergoncang Dahsyat
oleh M. Arif As-Salman 
Gempa dahsyat menggoncang Sumatera-Barat. Dalam sekejap korban banyak yang 
berjatuhan, ribuan rumah hancur dan mengalami rusak berat, sanak keluarga 
terpisah, semua yang telah dikumpulkan sekian tahun dalam hitungan detik tidak 
lagi tersisa, dan orang-orang yang dicintai tewas dalam seketika. Betapa 
malapetaka ini telah meluluhlantakkan semua yang ada dalam hitungan detik.

Sungguh dunia ini hanya sesaat, tak ada yang kekal padanya, dan kematian datang 
begitu cepat, lebih cepat dari dugaan manusia. 

Namun, seberapa banyakkah kita menyadari akan hal ini? Seberapa banyakkah kita 
mau me-muhasabahi diri atas musibah yang terjadi? Masihkah kita  hanyut dalam 
kesenangan yang tak bertepi, dalam kubangan hawa nafsu dan  bisikan setan, 
dalam lingkaran dosa dan maksiat?

Tidakkah kita menyadari akan datangnya hari kiamat, hari yang begitu dahsyat, 
yang Allah Swt sendri telah menggambarkan dalam banyak ayat di al-Aqur`an 
sebagai  hari yang sangat menakutkan.

Dan kini, semua telah musnah, jika kecintaan pada dunia begitu terhujam kuat 
dalam hati, orang-orang tersebut akan stress dan mengalami trauma berat tatkala 
menghadapi berbagai  musibah yang menimpa mereka.

Apa yang lagi bisa dibanggakan, rumah mewah yang telah dibangun sekian tahun, 
kini telah roboh, anak-anak yang menawan hati, telah mati dihimpit reruntuhan, 
suami dan istri yang selama ini menjadi tempat bergantung dan mengadu, kini 
telah pergi untuk selamanya, sanak saudara, karib kerabat, dan semuanya tak 
lagi ada, semua sudah musnah. Begitulah hakekat dunia, tidak ada yang kekal 
padanya. 

Karenanya, orang-orang yang lebih cinta pada dunia ini daripada akhirat, 
alangkah sedih dan dalamnya duka itu melanda jiwa mereka, adapun orang-orang 
yang lebih besar kecintaan  mereka pada akhirat dan  kecintaan pada Allah Swt, 
mereka akan tetap tegar, iman mereka akan semakin kokoh dan semua itu tidak 
mengurangi keyakinan mereka pada Allah Swt.

Bila kita bandingkan, tentu gempa yang mengguncang Sumatera Barat dan 
sekitarnya belumlah seberapa jika dibandingkan dengan kedahsyatan hari kiamat. 

Allah Swt berfirman, "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. 
Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya). Dan manusia 
bertanya, "Apa yang terjadi pada bumi ini?". Pada hari itu bumi menyampaikan 
beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) 
padanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan 
berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua 
perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia 
akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, 
niscaya dia akan melihat balasannya. (QS Az-Zilzal [99]: 1-8)

Allah Swt juga menyebutkan gambaran kondisi hebat yang dihadapi manusia tatkala 
hari kiamat datang, diantaranya dalam surat al-Qari`ah yang berbunyi : 

"Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apa hari kiamat itu?  
Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti 
bulu yang dihambur-hamburkan. Maka adapun orang yang berat timbangan 
kebaikannya. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan 
adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya. Maka tempat kembalinya adalah 
neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? Yaitu api yang 
sangat panas." (QS Al-Qari`ah[101] : 1- 11)

Dan hari kiamat, tidak ada satupun yang tahu kapan datangnya, sampai Rasulullah 
Saw sendiri pun tidak mengetahuinya, Allah Swt menjelaskan tentang hal ini, 
"Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya ada 
pada Allah. Dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." (QS 
Al-Mulk[67] : 26)

Hari kiamat dan kematian, siapa yang bisa mengetahui kapan datangnya? Tak 
satupun di jagat raya ini yang mengetahui bila saat kiamat dan kematian itu 
tiba. Yang pasti, jagat raya ini akan musnah dan setiap yang berjiwa akan 
merasakan mati, hanya Allah yang maha hidup dan maha kekal.

Setiap orang  punya kondisi yang beragam ketika menghadapi sakaratul maut. Ada 
yang begitu mudahnya melafazkan kalimat syahadat diiringi senyum mengembang di 
wajahnya. Ada yang begitu sulit untuk melafazkan kalimat tersebut. Sebagian ada 
yang meninggal tatkala shalat, berpuasa, sebagian lain ada yang meninggal 
ketika berjudi, berzina, meminum khamar, dstnya.

Dan, tempat kematian juga beragam, ada yang meninggal di jalanan ditabrak 
mobil, di atas kasur, di medan jihad, sedang berhura-hura, dalam kemaksiatan 
atau dalam ketaatan.

Sungguh beruntung orang yang meninggalkan dunia, sedang ia beribadah dan dalam 
ketaatan pada Allah Swt, dan alangkah merugi dan sengsaranya kelak, ia yang 
meninggal dalam kemaksiatan, kelak ia akan bertemu dengan Allah Swt dalam 
keadaan Allah murka padanya.

Dunia sudah semakin tua, ia tampak secara kasat mata makin indah, makin menarik 
pandangan mata dan hati, tapi pada hakekatnya, masa kehancurannya pun kian 
dekat. 

Hal ini telah diisyaratkan Rasulullah Saw  jauh-jauh hari sebelumnya,

Dari Abdullah bin Hiwalah r.a berkata : Rasulullah saw. meletakkan tangannya di 
atas kepalaku lalu beliau bersabda, "Wahai Ibnu Hiwalah, Apabila engkau melihat 
khilafah kenabian telah sampai ke tanah Syam maka telah dekatlah terjadinya 
gempa-gempa, masa-masa kesusahan dan kegundahan, serta perkara-perkara  besar, 
dan hari kiamat pada saat itu lebih dekat kepada manusia dari tanganku terhadap 
kepalamu. (Hadits Shahih, HR. Ahmad, Abu Daud, dan Hakim)

Dari Salamah bin Nufail As-Sukuni berkata, Rasulullah Saw bersabda, 
"Sesungguhnya aku tidak akan lama lagi tinggal bersama kalian, dan kalian juga 
tidak akan lama lagi tinggal setelah ku, kelak kalian akan datang menemuiku 
dalam keadaan saling berselisih, sebagian kalian membinasakan sebagian yang 
lain, menjelang tibanya hari kiamat akan terjadi kematian yang banyak dan 
setelah itu adalah tahun-tahun penuh gempa." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dll)

Seharusnya orang-orang tidak lagi menyibukkan pikiran, hati, perbuatan mereka 
untuk mencari dan membangun dunia semata yang setiap saat bisa hancur seketika, 
dan lupa pada akhirat. Tapi merubah cara pandang hidup, bahwa dunia ini 
hanyalah sesaat, sangat sebentar. Ia adalah sebuah persinggahan menuju 
kehidupan abadi di akhirat nanti, ia merupakan ladang amal untuk bekal di 
akhirat kelak.

Apa yang telah dikumpulkan sekian tahun dari harta, istri yang cantik yang 
dimiliki, anak-anak yang menawan, harta yang berlimpah ruah, rumah-rumah megah 
seperti istana, dllnya, tidak lagi berguna tatkala kematian datang, tatkala 
goncangan hebat mengguncang dan melenyapkan semua yang ada. Yang hanya  
bermanfaat saat kematian adalah iman dan amal soleh yang dikerjakan selama 
hidup di dunia.

Ketika hati lebih cinta pada bapak-ibu, anak-anak, saudara-saudara, istri, 
keluarga, harta kekayaan, perniagaaan, rumah-rumah dan berbagai kenikmatan 
dunia lainnya, daripada cinta pada Allah, Rasul dan berjuangan di jalan-Nya, 
maka tunggulah saatnya Allah memberikan keputusan-Nya. Semua itu hanya 
sebentar, hanya Allah Swt yang maha kekal, dan kehidupan di akhirat adalah 
lebih baik dan kehidupan yang sebenarnya.

Ketika kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya begitu terhujam dan teguh  dalam 
hati, hilanglah segala kesedihan dan ketakutan, tumbuh dan bermekaranlah 
benih-benih tawakal, hati akan selalu dalam keadaan ridho akan ketentuan-Nya, 
sabar menghadapi musibah, qana`ah dengan pemberian-Nya, dan selalu siap sedia 
menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tidak bersedih pada 
apa yang telah berlalu, dan tidak merasa takut dengan apa yang akan terjadi.

Semuanya dan sepenuhnya telah diserahkan pada Allah, Tuhan yang maha kuasa, 
maha berkehendak atas segala sesuatu, tuhan yang maha pengasih dan penyayang 
pada hamba-hamba-Nya. Tuhan yang maha tahu, maha adil dan maha bijaksana. Tidak 
ada satupun di jagat raya ini yang sanggup menghalangi kehendak-Nya, Ia maha 
berkehandak dan maha perkasa.

Semoga mereka yang selamat dan kita yang masih diberi kesempatan hidup, bisa 
mengambil banyak pelajaran berharga dari musibah ini, sehingga kesempatan hidup 
yang Allah berikan dapat kita pergunakan sebagaimana mestinya, untuk beribadah 
pada Allah, meninggalkan dosa dan maksiat, tobat nasuha, memperbaharui niat dan 
tujuan hidup, dan memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat. Adapun yang 
telah meninggal, semoga itu adalah rahmat dan ampunan dari Allah untuk 
menghapus dosa-dosa mereka selama di dunia, sehingga jika masih diberi 
kesempatan hidup, mungkin akan mereka habiskan untuk kemaksiatan pada Allah 
Swt. Wallahu a`lam bish-shawab.

Salam duka dari Kairo,

(Hasil renungan usai rapat dengan Tim Peduli Gempa Sumbar di Posko Raudhah)

[email protected]

www.marifassalman.multiply.com  

Kirim email ke