Seri : Tausyiah/Nasehat
Mengukur Aib Bersama 

dakwatuna.com – Kebersamaan kadang tidak selamanya seperti rumput. Selalu 
setara, sewarna, dan segerak. Ada saja kekurangan di antara sesama mukmin. 
Karena umumnya manusia memang tidak bisa luput dari aib.

Tak ada gading yang tak retak. Itulah ungkapan sederhana yang memuat makna 
begitu dalam. Sebuah pengakuan bahwa setiap manusia punya kelemahan dan 
kekurangan.

Siapa pun kita, selalu ada ‘cacat’. Ada ‘cacat’ berupa ketidaksempurnaan fisik: 
rupa, penampilan, dan sebagainya. Ada juga ‘cacat’ berupa kelalaian ketika 
pertarungan antara nafsu dan akal berakhir negatif. Nafsulah yang akhirnya 
membuat keputusan. Saat itulah, seorang anak manusia melakukan kesalahan. 
Seperti itu pulakah yang terjadi dengan seorang mukmin?

Kadang orang lupa kalau seorang mukmin pun tetap saja sebagai manusia. Bukan 
malaikat yang selalu bersih tanpa noda. Sinar iman yang ada dalam hatilah yang 
akhirnya menentukan. Apakah nafsu yang lagi-lagi bicara, atau iman yang ambil 
keputusan.

Pertarungan itu begitu sengit. Kekuatan dalam diri saja belum cukup. Karena 
masing-masing pihak meminta bantuan pihak luar diri. Iman dalam hati dibantu 
oleh nasihat dan doa dari saudara seiman. Dan nafsu dibantu dengan rayuan 
setan. Kalau nafsu dan rayuan setan yang jadi pemenang, seorang mukmin 
tergelincir dalam sebuah kesalahan. Kecil atau besar.

Dari situlah kita mengerti kalau seorang mukmin pun bisa melakukan kesalahan. 
Tapi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang menyesal 
dan meminta ampunan.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya dalam surah Ali ‘Imran ayat 135, “Dan (juga) 
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri 
sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan 
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak 
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Lalu, patutkah kelalaian dan ketergelinciran itu menjadi bahan gunjingan. 
Patutkah keburukan yang kita sebut aib itu disebarkan. Sebagian orang mungkin 
menyebutnya sebagai risiko. “Siapa yang berbuat, harus menanggung akibat!” 
ucapan itu boleh jadi keluar merespon keburukan yang terjadi pada saudara 
mukmin. Termasuk mendapat gunjingan isu yang tidak mengenakkan.

Namun, patutkah kalau gunjingan dan menyebarnya aib disebut sebagai hukuman 
yang setimpal. Adilkah mengumumkan aib seseorang sebagai sebuah hukuman. 
Persoalan ini akan meluas ketika berhubungan dengan hukum dan keadilan.

Memang, ada sedikit salah pemahaman antara menyebarkan aib dengan pengumuman 
hukuman. Menyebarkan aib, apa pun alasannya, tetap terlarang karena bukan itu 
cara yang dibenarkan Islam. Sementara pengumuman hukuman berkait dengan 
penegakan hukum dan peringatan buat yang membaca pengumuman. Agar, perbuatan 
seperti itu jangan pernah dilakukan.

Repotnya ketika sebagian orang lebih enjoy dengan menyebarkan aib sebagai dalih 
hukuman. Isu dan gosip pun jadi kebiasaan. Aib seorang mukmin menjadi tersebar 
tak karuan.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana mungkin seorang mukmin ringan mengumbar aib 
saudaranya. Padahal, sudah jelas-jelas Allah swt. melarang menceritakan 
keburukan sesama mukmin. Firman-Nya dalam surah Al-Hujurat ayat 12, “Hai 
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya 
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan 
orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah 
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah 
kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha 
Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Ada beberapa kemungkinan kenapa seorang mukmin tega mengumbar aib saudaranya. 
Kemungkinan pertama, lemahnya pancaran iman dalam hatinya. Iman yang lemah 
mengecilkan hubungan mulia antar sesama mukmin. Tidak ada lagi keberpihakan. 
Tidak ada lagi pembelaan terhadap saudara yang sedang ‘jatuh’. Semua menjadi 
gersang. Kering.

Kedua, tersumbatnya nalar sehat. Nalar yang jernih akan menggiring seorang 
mukmin melakukan cek dan cek. Periksa dan tabayun. Karena boleh jadi, kabar 
yang tersiar berbeda jauh dari fakta yang sebenarnya. Ada bumbu. Ada fitnah. 
Firman Allah swt. dalam surah Al-Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, 
jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan 
teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa 
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Kemungkinan ketiga, lunturnya nilai-nilai sosial dalam diri seseorang. Orang 
seperti ini biasanya mudah iri, dengki, dan mutung. Persoalan kecil yang 
sebenarnya bisa selesai dengan saling memaafkan, bisa panjang karena cara 
berpikir yang kerdil. Cacat yang tergolong biasa pada diri seseorang, diolah, 
dan disebarkan menjadi masalah besar.

Ada kemungkinan yang lain. Seseorang terhinggapi penyakit merasa serba tahu. 
Urusan yang sebenarnya masih samar, terlihat seperti jelas. Ia malu kalau orang 
menganggapnya tidak tahu. Dari situlah, membuat-buat cerita berlangsung cepat.

Orang seperti itu pula yang tidak bisa memegang rahasia. Padahal rahasia dalam 
nilai Islam merupakan amanah. Rahasia besar atau kecil.

Hidup dalam kebersamaan memang sulit seperti rerumputan. Setara, sewarna, dan 
sederajat. Tapi yakinlah, kebersamaan sesama mukmin jauh lebih mulia dari apa 
pun. Karena kebersamaan itu selalu dalam gerak. Sedangkan rerumputan senantiasa 
diam.

Kirim email ke