----- Original Message ----- 
From: masjid annahl 
Sent: Friday, December 04, 2009 8:48 AM
..


Seri : Hikmah dan Motivasi

Aku Ingin Akhir Yang Indah,Sepertimu..

Kisah ini nyata ...
judul asli : "Duhai Ukhti,... Duhai Istri Sholehah,... Aku Ingin Sepertimu..."

oOo

Usia istri Yaqin masih sangat muda, sekitar 19 tahun. Sedangkan usia Yaqin 
waktu itu sekitar 23 tahun. Tetapi mereka sudah berkomitmen untuk menikah.

Istrinya Yaqin cantik, putih, murah senyum dan tutur katanya halus. Tetapi 
kecantikannya tertutup sangat rapi. Dia juga hafal Al-Qur'an di usia yang 
relatif sangat muda , Subhanallah...

Sejak awal menikah, ketika memasuki bulan kedelapan di usia pernikahan mereka, 
istrinya sering muntah-muntah dan pusing silih berganti... Awalnya mereka 
mengira “morning sickness” karena waktu itu istrinya hamil muda.

Akan tetapi, selama hamil bahkan setelah melahirkanpun istrinya masih sering 
pusing dan muntah-muntah. Ternyata itu akibat dari penyakit ginjal yang 
dideritanya.

Satu bulan terakhir ini, ternyata penyakit yang diderita istrinya semakin 
parah..

Yaqin bilang, kalau istrinya harus menjalani rawat inap akibat sakit yang 
dideritanya. Dia juga menyampaikan bahwa kondisi istrinya semakin kurus, bahkan 
berat badannya hanya 27 KG. Karena harus cuci darah setiap 2 hari sekali dengan 
biaya jutaan rupiah untuk sekali cuci darah.

Namun Yaqin tak peduli berapapun biayanya, yang terpenting istrinya bisa sembuh.

Pertengahan bulan Ramadhan, mereka masih di rumah sakit. Karena, selain 
penyakit ginjal, istrinya juga mengidap kolesterol. Setelah kolesterolnya 
diobati, Alhamdulillah sembuh. Namun, penyakit lain muncul yaitu jantung. 
Diobati lagi, sembuh... Ternyata ada masalah dengan paru-parunya. Diobati lagi, 
Alhamdulillah sembuh.

oOo

Suatu ketika , Istrinya sempat merasakan ada yang aneh dengan matanya.
"Bi, ada apa dengan pandangan Ummi?? Ummi tidak dapat melihat dengan jelas." 
Mereka memang saling memanggil dengan "Ummy" dan " Abi" . sebagai panggilan 
mesra.
"kenapa Mi ?" Yaqin agak panik
"Semua terlihat kabur."
Dalam waktu yang hampir bersamaan, darah tinggi juga menghampiri dirinya... 
Subhanallah, sungguh dia sangat sabar walau banyak penyakit dideritanya...

Selang beberapa hari, Alhamdulillah istri Yaqin sudah membaik dan diperbolehkan 
pulang.

Memasuki akhir Ramadhan, tiba-tiba saja istrinya merasakan sakit yang luar 
biasa di bagian perutnya, sangat sakiiit. Sampai-sampai dia tidak kuat lagi 
untuk melangkah dan hanya tergeletak di paving depan rumahnya.

oOo

"Bi, tolong antarkan Ummi ke rumah sakit ya.." pintanya sambil memegang 
perutnya...

Yaqin mengeluh karena ada tugas kantor yang harus diserahkan esok harinya 
sesuai deadline. Akhirnya Yaqin mengalah. Tidak tega rasanya melihat 
penderitaan yang dialami istrinya selama ini.

Sampai di rumah sakit, ternyata dokter mengharuskan untuk rawat inap lagi. 
Tanpa pikir panjang Yaqin langsung mengiyakan permintaan dokter.

"Bi, Ummi ingin sekali baca Al-Qur'an, tapi penglihatan Ummi masih kabur. Ummi 
takut hafalan Ummi hilang."

"Orang sakit itu berat penderitaannya Bi. Disamping menahan sakit, dia juga 
akan selalu digoda oleh syaitan. Syaitan akan berusaha sekuat tenaga agar orang 
yang sakit melupakan Allah. Makanya Ummi ingin sekali baca Al-Qur'an agar 
selalu ingat Allah.

Yaqin menginstal ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam sebuah handphone. Dia terharu 
melihat istrinya senang dan bisa mengulang hafalannya lagi, bahkan sampai 
tertidur. Dan itu dilakukan setiap hari.

"Bi, tadi malam Ummi mimpi. Ummi duduk disebuah telaga, lalu ada yang memberi 
Ummi minum. Rasanya enaaak sekali, dan tak pernah Ummi rasakan minuman seenak 
itu. Sampai sekarangpun, nikmatnya minuman itu masih Ummi rasakan"

"Itu tandanya Ummi akan segera sembuh." Yaqin menghibur dirinya sendiri, karena 
terus terang dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya itu.

Yaqin mencoba menghibur istrinya.
"Mi... Ummi mau tak belikan baju baru ya?? Mau tak belikan dua atau tiga?? Buat 
dipakai lebaran."

"Nggak usah, Bi. Ummi nggak ikut lebaran kok" jawabnya singkat.
Yaqin mengira istrinya marah karena sudah hampir lebaran kok baru nawarin baju 
sekarang.

"Mi, maaf. Bukannya Abi nggak mau belikan baju. Tapi Ummi tahu sendiri kan, 
dari kemarin-kemarin Abi sibuk merawat Ummi."

"Ummi nggak marah kok, Bi. Cuma Ummi nggak ikut lebaran. Nggak apa-apa kok Bi."

”Oh iya Mi, Abi beli obat untuk Ummi dulu ya…??”
Setelah cukup lama dalam antrian yang lumayan panjang, tiba-tiba dia ingin 
menjenguk istrinya yang terbaring sendirian. Langsung dia menuju ruangan 
istrinya tanpa menghiraukan obat yang sudah dibelinya.

oOo

Tapi betapa terkejutnya dia ketika kembali . Banyak perawat dan dokter yang 
mengelilingi istrinya.

"Ada apa dengan istriku??." tanyanya setengah membentak.
"Ini pak, infusnya tidak bisa masuk meskipun sudah saya coba berkali-kali." 
jawab perawat yang mengurusnya.

Akhirnya, tidak ada cara lain selain memasukkan infus lewat salah satu kakinya. 
Alat bantu pernafasanpun langsung dipasang di mulutnya.

Setelah perawat-perawat itu pergi, Yaqin melihat air mata mengalir dari mata 
istrinya yang terbaring lemah tak berdaya, tanpa terdengar satu patah katapun 
dari bibirnya.

"Bi, kalau Ummi meninggal, apa Abi akan mendoakan Ummi?"
"Pasti Mi... Pasti Abi mendoakan yang terbaik untuk Ummi." Hatinya seakan 
berkecamuk.
"Doanya yang banyak ya Bi"
"Pasti Ummi"
"Jaga dan rawat anak kita dengan baik."

Tiba-tiba tubuh istrinya mulai lemah, semakin lama semakin lemah. Yaqin 
membisikkan sesuatu di telinganya, membimbing istrinya menyebut nama Allah. 
Lalu dia lihat kaki istrinya bergerak lemah, lalu berhenti. Lalu perut istrinya 
bergerak, lalu berhenti. Kemudian dadanya bergerak, lalu berhenti. Lehernya 
bergerak, lalu berhenti. Kemudian matanya…. Dia peluk tubuh istrinya, dia 
mencoba untuk tetap tegar. Tapi beberapa menit kemudian air matanya tak mampu 
ia bendung lagi...

Setelah itu, Yaqin langsung menyerahkan semua urusan jenazah istrinya ke 
perawat. Karena dia sibuk mengurus administrasi dan ambulan. Waktu itu dia 
hanya sendiri, kedua orang tuanya pulang karena sudah beberapa hari 
meninggalkan cucunya di rumah. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke kamar 
menemui perawat yang mengurus jenazah istrinya.

"Pak, ini jenazah baik." kata perawat itu.
Dengan penasaran dia balik bertanya.
"Dari mana ibu tahu???"
"Tadi kami semua bingung siapa yang memakai minyak wangi di ruangan ini?? 
Setelah kami cari-cari ternyata bau wangi itu berasal dari jenazah istri bapak 
ini."
"Subhanalloh..."

Tahukah sahabatku,… Apa yang dialami oleh istri Yaqin saat itu? Tahukah 
sahabatku, dengan siapa ia berhadapan? Kejadian ini mengingatkan pada suatu 
hadits

"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki 
kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah 
mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian 
dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang 
tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk 
didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: "Wahai jiwa yang 
baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan 
Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir 
bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera 
Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat 
Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang 
tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat 
segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan 
wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium 
semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum 
pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke 
langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, 
melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat 
pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan 
namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil 
dengannya)."
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)
oOo

"Sungguh sangat singkat kebersamaan kami di dunia ini , akan tetapi sangat 
banyak bekal yang dia bawa pulang. Biarlah dia bahagia di sana" Air matapun tak 
terasa mengalir deras dari pipi Yaqin.
-------------------------
ditulis: Senin, 02 November 2009
oleh: -Ummu Farah- (Siti Fauziah Fauzi)

Sumber : Inspiring Story Book

Kirim email ke