Agak nggak nyambung ke substansi artikel postingannya (hehehe ..), tapi kalau mau tambah pengetahuan soal ban, bisa klik ke:
http://saft7.com/?p=567 --amin Pada 7 Desember 2009 14:13, Agus Rasyidi <[email protected]> menulis: > Kapan Kita Boleh Menyerah ?? > > ”Habis gelap, terbitlah terang,” demikian Ibu Kartini memesankan. Setiap > situasi sulit, pasti ada akhirnya. Masalahnya, kita sering tidak tahu kapan > kesulitan itu akan berakhir sehingga tidak mudah untuk memutuskan apakah > harus menyerah dan berhenti sampai disini saja, ataukah kita mesti bertahan > ’sebentar’ lagi? Jika berhenti, boleh jadi kita kehilangan momentum karena > bisa saja sebenarnya kita sudah berada pada ’detik-detik’ menjelang akhir > itu. Tapi, kalau harus terus, sampai kapan? > > > > Anda tentu tahu bahwa kemajuan teknologi memungkinkan kita menggunakan ban > mobil tanpa ban dalam. Ban sejenis itu bernama ’Tubeless Tyre’. Namun, lidah > ketimuran kita lebih mudah menyebutnya sebagai ban cubles, alias ban tanpa > ban dalam. Kekaguman saya terhadap ban cubles seolah tidak pernah > habis-habisnya. Pertama karena dia mengajari kita untuk mengubah paradigma. > Semula, yang namanya ban, ya mutlak mesti ada ban dalam. Jadi, tanpa ban > dalam, ban tidak bisa dipompa. Ban cubles mengenalkan kita kepada paradigma > baru bahwa tanpa ban dalam pun ternyata kita bisa mendapatkan fungsi ban > sebagaimana mestinya. > > Jika hari ini kita bisa mengubah paradigma tentang ban yang ternyata tidak > harus selalu memiliki ban dalam, mungkinkah kita juga mengubah paradigma > kita tentang hidup? Misalnya, kita sering percaya bahwa untuk bisa berhasil > kita mesti memiliki ’ini dan itu’. Tanpa semua ’ini dan itu’ itu, tidaklah > mungkin kita berhasil. Jika hingga saat ini kita belum juga berhasil, > barangkali bukan karena kita tidak memiliki ’ini dan itu’ itu. Sebab, ban > cubles itu sudah menunjukkan bahwa tanpa ban dalam pun dia tidak kehilangan > fungsinya sebagai ban. Boleh jadi, paradigma lama telah menjadikan pandangan > kita agak gelap. Sehingga kita tidak melihat kemungkinan lain untuk > berhasil, selain semua ’keharusan’ dan ’persyaratan’ yang kita buat sendiri > itu. > > Kekaguman saya berikutnya pada ban cubles adalah pada daya tahannya. > Beberapa kali ban mobil saya terkena paku. Namun, ban cubles itu tidak > pernah mengecewakan saya. Jika ban tradisional terkena paku, maka pada detik > itu juga akan langsung gembos. Dia bisa meledak dengan bunyi yang sanggup > menggetarkan jantung hingga nyaris copot. Bahkan, jika itu terjadi disaat > kendaraan melaju kencang, bisa menyebabkan kecelakaan. Tapi, ban cubles > tidak demikian. Seperti yang saya alami dimusim liburan tahun ini. Saya > sedang berada diluar kota ketika mendapati ban mobil kami kempes. Karena > kebanyakan orang sedang mudik, maka sebagian besar tambal ban pada tutup. > Ketika ada satu yang masih buka, saya tidak bisa berharap banyak karena > perlengkapan yang dimilikinya tidak memungkinkan untuk membongkar ban. > Praktis yang bisa dilakukannya hanya menambah angin saja. Dengan ijin Tuhan, > saya berhasil menyelesaikan perjalanan sekitar 200 kilometer dengan nyaman > dan aman. > > Keesokan harinya, saya membongkar ban itu. Benar saja, ada paku ulir yang > tertancap disana. Saya kagum karena ban cubles itu tidak langsung meledak > saat tertusuk paku. Saya lebih kagum lagi karena ada paku lain yang menancap > dibagian lainnya. Bahkan terkena dua paku pun dia tidak mengeluh. Dan saya > lebih kagum lagi karena ternyata ada satu paku lainnya lagi yang menghunjam > kedalam ban itu. Saya tidak habis pikir, bagaimana ban itu bisa bertahan > sedemikian kuatnya padahal kedalam tubuhnya ditancapkan tiga buah paku > tajam. > > Ketahanan semacam ini yang barangkali jarang dimiliki oleh manusia seperti > kita. Kita sering terlalu cengeng untuk bisa memendam rasa pedih dan perih > ini. Lalu memilih untuk berhenti daripada terus berlari seiring dengan > perputaran roda kehidupan ini. Sedangkan ban cubless itu. Dia bertahan dalam > nyeri itu sedemikian tenangnya sehingga dalam keadaan terluka oleh tiga buah > pakupun tiada mengeluh. Dia tidak mejerit-jerit. Dia tidak beteriak-teriak, > apalagi sampai meledak. Dengan tubuh penuh luka itu, dia tabah memikul beban > dipundaknya, kemudian terus berlari mengimbangi gerakan roda-roda lainnya. > > Mari sekali lagi kita bandingkan, apakah sikap kita lebih mirip ban > tradisional yang langsung gembos ketika tertusuk paku kecil sekalipun. Lalu > merengek mogok dan meminta berhenti. Atau, mungkin kita sudah memiliki > ketangguhan. Katabahan. Dan ketahanan tingkat tinggi seperti yang dimiliki > oleh ban cubles itu. Memang. Kita tidak pernah tahu kapan terang itu akan > terbit. Seperti halnya kita tidak tahu, kapan tempaan ini akan berakhir > dalam penyelesaian yang indah. Namun, jika kita memiliki sikap seperti ban > cubles itu; setidak-tidaknya, kita tidak mudah dibuat menyerah. Ban cubles > itu baru akan menyerah setelah tak ada lagi udara yang sanggup ditahannya > didalam. Seolah dia berprinsip; ”sampai tetes udara penghabisan.” Seperti > semboyan yang selalu dikatakan para pejuang sejati:”sampai titik darah > penghabisan.” Sehingga, selama hayat masih dikandung badan, mereka tidak > akan berhenti berjuang. > > Andai saja kita bisa meniru ban cubles itu. Mungkin, kita bisa menjadi > pribadi-pribadi yang tangguh. Dengan sikap tidak mudah menyerah itu, kita > mempunyai peluang untuk tiba diakhir gelap, agar bisa menikmati terang. > Sebab, sehabis gelap, terbitlah terang. Karena dalam setiap kesulitan, > selalu ada kemudahan. Mudah-mudahan. > > > > > -- > Posting oleh haryadi >

